Senin, 24 July 2017, 23:53:34 WIB

Suntiang Anak Daro

27 May 2015 14:23 WIB - Sumber : Internet - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 4257 kali

Suntiang adalah Mahkota anak daro atau pengantin wanita di budaya Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia. Seperi yang di lansir dari mudahmenikah.wordpress.com, bentuk suntiang tersebut mempunyai banyak variasi dan ornamen yang sangat rumit. Bahan suntiang juga terbuat dari beberapa janis bahan yaitu kuningan berwarna emas, perak dan tembaga.

Ukuran suntiang juga bermacam-macam, mulai dari yang kecil berukuran 20 cm hingga 50 cm. Suntiang dan kepala anak daro merupaka sumber ide dalam perancangan desain logo Rangkayo. Dalam adat Minangkabau, pernikahan merupakan salah satu masa peralihan yang sangat berarti karena merupakan permulaan masa seseorang melepaskan diri dari kelompok keluarganya untuk membentuk kelompok kecil milik mereka sendiri.

Karena itu peristiwa pernikahan sangatlah penting bagi siklus kehidupan seseorang, hari tersebut merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua calon mempelai dan keluarga dari kedua belah pihak. Ditandai dengan prosesi upacara adat dan keagamaan yang sesuai dengan pepatah minang “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, seluruh rangkaian upacara pernikahan adat, perlengkapan, tata rias membutuhkan persiapan yang lama dan sangat terperinci.

Di minangkabau pada umumnya pengantin perempuannya menggunakan suntiang, suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan di Minangkabau atau Sumatra Barat. Hiasan yang besar warna keemasan atau keperakan yang khas itu, membuat pesta pernikahan budaya Minangkabau berbeda dari budaya lain di Indonesia. Perempuan minangkabau mesti bangga dengan budaya minangkabau, terutama soal pakaian pengantin.

Secara turun temurun, busana pengantin Minangkabau sangat khas, terutama untuk perempuannya, yaitu selain baju adat-nya baju kurung panjang dan sarung balapak, tak ketinggalan suntiang. Suntiang yang dipakai secara umum sekarang biasa disebut suntiang gadang, nama ini untuk membedakan dengan suntiang ketek yang biasa dipakai oleh pendamping pengantin yang disebut pasumandan.

Sedangkan untuk hiasan kepala sebenarnya beragam bentuknya. Saat ini hiasan kepala “Suntiang Kambang” asal Padang Pariaman lah yang di lazim digunakan di Sumatera Barat. Padahal ada banyak bentuk hiasan kepala, ada yang berupa sunting Pisang Saparak (asal Solok Salayo), Sunting Pinang Bararak (dari Koto nan Godang Payakumbuh), Sunting Mangkuto (dari Sungayang), Sunting Kipeh (Kurai Limo Jorong), Suntiang Sariantan (Padang Panjang), Suntiang Matua Palambaian.

Ada empat jenis hiasan yang disusun membentuk sunting pada hiasan kepala pengantin minang ini, lapisan yang paling bawah adalah deretan bungo sarunai. 3-5 lapis bungo sarunai ini membentuk dasar bagi sunting minang, kemudian diletakkan deretan bunga gadang sebanyak 3 – 5 lapis. Hiasan yang paling atas adalah kambang goyang, sedangkan hiasan sunting yang jatuh di pipi kanan dan pipi kiri pengantin minang ini disebut kote-kote.

Suntiang sebagai kekhasan pengantin Minangkabau Pesisir yang berasal dari daerah Padang/ Pariaman, kembang-kembang suntiang ini umumnya bertingkat dengan ganjil dimulai dari tujuh tingkat hingga sebelas tingkat. Ada juga suntiang bertingkat mulai dari tiga hingga lima yang biasanya digunakan untuk pendamping pengantin atau dikenal juga dengan sebutan Pasumandan, namun karena alasan kepraktisan dan menyesuaikan dengan bentuk wajah, kini tingkatan pada Suntiang dipertahankan ganjil namun jumlah tingkatannya disesuaikan dengan kemampuan dan kemauan si pengantin.

Keindahan Suntiang diawali dengan susunan kembang goyang yang digunakan oleh tiap pengantin wanita, pada lapisan bawah Suntiang digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Sarunai yang terdiri dari tiga hingga lima deretan. Lapisan kedua digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Gadang yang juga terdiri dari tiga hingga lima deretan, terletak paling atas adalah Kambang Goyang dengan hiasan-hiasan lainnya yang disebut Kote-kote.

Di bagian belakang sanggul terdapat Tatak Kondai dan Pisang Saparak yang menutupi sanggul bagian belakang, Sedangkan di dahi pengantin wanita terdapat Laca, dan Ralia di bagian telinga. Suntiang sendiri dirangkai menggunakan kawat ukuran satu perempat yang dipasang pada kerangka seng aluminium seukuran kepala.

Pada kawat itu dipasang sedikitnya lima jenis hiasan, kelima hiasan itu dinamakan suntiang pilin, suntiang gadang, mansi-mansi, bungo, dan jurai-jurai. Suntiang tidak terlepas dari perangkatan pakaian limpapeh Rumah nan Gadang di Minangkabau, Suntiang ini dipakai oleh anak gadis yang berpakaian adat maupun oleh pengantin wanita. Mengenai jenis dan nama suntiang ini berbagai ragam. Secara garis besar jenis suntiang ini adalah:

Suntiang bungo pudieng (suntiang berbunga puding).

Suntiang pisang saparak (suntiang pisang sekebun).

Suntiang pisang saikek (suntiang pisang sesisir).

Suntiang kambang loyang (suntiang pisang sesisir).

Dari segi ikat (dandanan) dengan segala variasinya suntiang ini dapat pula dibedakan, suntiang ikat pesisir, suntiang ikat Kurai, suntiang ikat Solok Selayo, suntiang ikat Banuhampu Sungai Puar, suntiang ikat Lima Puluh Kota, suntiang ikat Sijunjung Koto Tujuh, suntiang ikat Batipuh X Koto, suntiang ikat Sungayang, dan Lintau Buo.

Suntiang ikat bungo pudieng banyak dipakai didaerah Batipuh Tanah Datar. Suntiang pisang separak banyak dipakai didaerah Luhak Lima Puluh Kota, Solok, Sijunjung Koto Tujuh, dan Sungai pagu. Suntiang pisang sasikek banyak dipakai di daerah Pesisir. Suntiang kambang loyang banyak dipakai di daerah lain.

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co