Selasa, 28 March 2017, 11:28:00 WIB

Harapan Untuk Tour de Singkarak

10 October 2015 02:46 WIB - Sumber : Tandri Eka Putra - Editor : Tandri Eka Putra    Dibaca : 17158 kali

Siapapun yang terganggu akan merasa tidak senang. Begitupun yang dirasakan masyarakat terhalang jalannya karena iven Tour de Singkarak. Masyarakat ber jam - jam dihadang petugas. Ada anak yang terlambat pulang sekolah, ada Bapak yang terpaksa terlambat pulang ke rumah. Ada ibu-ibu yang mau masak pulang. Mereka terkurung di jalan. Bumbu ini diperparah kilasan informasi di sosmed, ada cerita ambulan yang terhalang ke rumah sakit, jenazah yang terlambat dikuburkan dan lain-lain. Itu hari pertama Tour de Singkarak 2015.                         

Mungkin hal yang sama juga dirasakan, ketika ada pesta pernikahan yang memakai satu badan jalan untuk pentas baraleknya. Kita juga bisa terganggu dengan sekelompok pemuda minta sumbangan. Alasan kejadian ini, kadang bisa dipertenggangkan karena sudah biasa. Pengendara lain, bisalah sedikit bersabar. Tour de Singkarak, mungkin beda lah!    
          
Iven tour de Singkarak merupakan iven balap sepeda yang digelar setiap tahun di Sumbar. Tahun 2015, ini iven ketujuh. Iven TDS ini mendatangkan puluhan pebalap dari puluhan negara. Menurut situs wikipedia, iven ini selain didukung dana APBN Kementerian Pariwisata, juga didukung APBD daerah yang dilewati. Dari segi koordinasi dan sinergitas, Tour de Singkarak juga dinilai sebagai iven promosi pariwisata terbaik dari 41 iven tetap Kemenparekraf. Sinergitas itu terlihat dari kekompakan para pimpinan daerah dalam mendukung kegiatan tersebut; gubernur berikut para wali kota dan bupati selalu menghadiri langsung rapat koordinasi

Kembali ke macet!. Kenapa jalan untuk pebalap harus ditutup? Kecepatan pebalap sekitar 30-40 km per jam,rawan dari benturan dan gangguan konsentrasi. Persyaratan dari Asosisasi Balap sepeda memang seperti itu juga. Kata seorang kawan yang pernah pergi ke Tour de France, presiden pun tidak boleh lewat ketika acara ini dilewakan. Dalam relisnya, panitia tour de singkarak 2015, menyebutkan jalan hanya ditutup ketika Marshal 1 lewat, atau 40 menit sebelum pebalap. Terus kenapa tahun sekarang jalan ditutup hingga empat jam di Kota Padang. Media menuliskan ada error di star awal atau alasan lainnya.            

Apa gunanya, orang balap sepeda di Sumbar. Masih ada yang kurang informasi. Coba sendiri, ketik di mesin pencari google kata "tour de Singkarak,". Hampir seluruh media nasional, internasional dan lokal membahas tentang megahnya kegiatan ini. Mereka juga menyelipkan sukacitanya masyarakat Sumatera Barat menyambutnya. Pemberitaannya juga pernah mendapat piagam dari Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 2013, sebagai publikasi terluas dengan catatan 210 media dalam & luar negeri, 1.791 artikel/pemberitaan nilai publikasi R107.078.390.000. (LInk MURI : http://muri.org/muri/rekor/25-olahraga/1821-tour-de-singkarak-memperoleh-publikasi-terluas).          

Beberapa waktu lalu Ketua Asita Indonesia, Asnawi Bahar dalam diskusi informal menyebutkan ada dua efek dari Tour de Singkarak, langsung dan tidak langsung. Langsung yang dirasakan, seperti jalan yang dilewati diperbaiki, yang berjualan di lokasi iven dagangannya laku.

Efek tidak langsung ini yang lebih hebat, orang lebih kenal dengan Sumatera Barat, sehingga mereka mau berkunjung. Masyarakat di seluruh dunia, lebih mengenal Sumatera Barat. Contoh saja, jika anda keluar negeri Eropa khususnya, lalu ditanya orang dari mana. Jawablah "Sumbar, Indonesia", kebanyakan mereka bingung dimana itu. coba jawab "Bali," mereka menanggapi tersenyum. "Beautiful, saya ingin kesana" katanya kira-kira dalam bahasa Indonesia. Mungkin bisa juga dicoba sebut "Singkarak". Tanggapan mereka?   

Setiap adanya iven, termasuk tour de Singkarak beberapa media juga mengangkat sisi humanis. Masyarakat yang teraniaya karena terhalang jalannya dan kondisi realitas adanya bencana kabut asap. Nah kondisi ini sedikit kurang "lasuah",karena ada kesan Tour de Singkarak, iven milik nasional dan internasional. Acaranya dihelat di daerah ini, namun  Sumbar jadi penonton. Pebalap Sumbar tidak ikut, berbagai pihak selain pemerintah kurang dilibatkan, termasuk media lokal yang terkesan dianggap tidak kapabel.

Ada tujuh usulan yang coba dikumpulkan dari beberapa diskusi ;

  1. Sebelum iven, seluruh unsur di daerah Sumbar ini diajak diskusi. Diskusi mungkin solusi. Selain lembaga pemerintah, ajak juga lembaga kepariwisataan lain, organisasi pemuda, media dan lembaga lainnya. Kalau perlu dibuatkan panitia lokal dari berbagai unsur sesuai perannya. Apa sajalah yang bisa. "Kalau diajak sato, mungkin raso punyo" (Kalau diajak ikut, rasa memiliki lebih tinggi).
  2. Sosialisasi, jaraknya lebih awal dan lebih intens. Ada yang usul juga, setiap simpang dipasang spanduk kecil. Isinya kapan jalan itu ditutup. Kalau perlu dibuatkan baliho dan peta jalan dan estimasi waktu yang akan dilewati. Tahun ini sebenarnya sudah ada berupa berita dan leaflet. Waktunya kayaknya masih mepet.
  3. Pebalap Sumbar, harus ikut. Apa aturan dan syaratnya, semua pihak membantu biar masyarakat Sumbar juga bisa ikut bersorak ketika pebalapnya lewat.
  4. Adalah orang atau pihak yang bisa dihubungi jika diperlukan informasi tentang Tour de Singkarak. Tahun ini website tourdesingkarak.com, sering tidak bisa diakses. Tahun lalu juga sering error. Minimalnya nomor HP atau kantor sebagai pusat informasi.
  5. Petugas tidak hanya atur simpang jalan tempat balapan. Juga memberikan informasi jalan alternatif atau tempat parkir supaya tidak buntu di simpang jalan. Seperti kalau festival Langkisau, gedung pemerintah semuanya jadi tempat parkir agar tidak buntu di jalan sempit.
  6. Media lokal diberikan informasi tentang tour de Singkarak sebanyak-banyaknya. Media lokal, lebih banyak dibaca dan dipercaya oleh masyarakat lokal Sumatera Barat. Peruntukannya beda, website,koran dan tv asing banyak muat informasi Tour de Singkarak tapi berbahasa asing dan beredar tidak di Sumbar. Warga Sumbar minim informasi. Kalaupun bisa website tourdesingkarak.com juga ada bahasa Indonesianya.
  7. Untuk masyarakat kalau ada iven tour de Singkarak, hindari jalur - jalur yang dilewati pebalap. Kalau ikut nonton lebih baik. Bawa minuman, makanan dan kamera serta keluarga. Parkir kendaraan di tempat nyaman jangan di simpang jalan nanti terhalang kendaraan lain, keluarnya susah. Kalau perlu siapkan diri dekat kafe atau kedai makanan sambil main game online. Bisa juga ramaikan titik star dan finis, lihat atraksi yang ditampilkan. Tidak perlu turun ke jalan, nanti ditabrak kendaraan petugas atau sepeda balap. Kalau sudah nyaman, selfie, update ke sosmed. Mantap.     

Sebagian atau seluruh usulan itu mungkin sudah ada ataupun dalam bentuk lain. Mungkin ada juga yang ingin menambahkan atau bisa jadi tidak suka usul - usul. Harapannya agar Tour de Singkarak diadakan kembali di Sumbar. Tentu dengan lebih baik. Tahun depan, Sumatera Barat akan merasa lebih memiliki iven balap sepeda internasional. Ripit tulisan dari sebuah kantor berita internasional cabang Indonesia, CNN Indonesia  "Tour de Singkarak, bukan lagi sekadar ajang balap sepeda. Ada kebanggaan masyarakat Sumatera Barat terselip di setiap pekik gembira menyambut acara ini,"

Jika kita semua sepakat, kita berharap dalam penutupan Tour de Singkarak tahun ini Presiden RI, Jokowi menyampaikan pesan masyarakat Sumbar. Adakanlah terus Tour de Singkarak. Tingkatkan dan perbaiki. Kalau perlu disampaikan ke menteri lainnya, banyak - banyak iven di Sumbar. Biar ramai orang datang kesini, biar ekonomi naik lagi.

Tidaklah enak, berandai - andai tahun depan Tour de Singkarak ditiadakan. Pihak berwenang tidak ingin, atau memindahkan iven ke tempat lain. Jika itu terjadi dan benar-benar itu adanya. Untungnya, tahun depan kita akan berlapang-lapang di jalan raya tanpa terganggu orang balap sepeda tour de Singkarak. Kita nonton Tour de daerah lain di TV sambil bersejarah ke anak cucu. Iven balap iternasional itu dulu pernah ada di Sumbar. Tour de Singkarak namanya. Ndeh, sedihnya... (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co