Jumat, 26 May 2017, 21:53:48 WIB

Mesum, PSK dan Gempa di Sumbar

03 March 2016 15:13 WIB - Sumber : Redaksi - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 21435 kali

Sepekan terakhir, sebagian besar berita di media berisi penangkapan siswi, mahasiswi dan germo, pasangan mesum, atau Satpol PP gerebek orang pacaran. Aparat bumihanguskan pondok-pondok diduga tempat mesum. Tiba-tiba datanglah gempa, bumi berguncang kita lari tunggang langgang. Sudah tahulah semua. Sumbar ini menganut paham adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Tidaklah diizinkan segala berbau maksiat dan prostitusi di negeri ini. Sebagian mungkin juga tahu, ada juga destinasi selangkangan disini.

Sudah banyak yang diperbuat pemerintah dan aparat di negeri ini. Membangun mental, spritual, menata kota, pun membumihanguskan tempat maksiat. Pondok ceper di Padang telah hilang, pondok di tempat wisata dibakar. Hotel di berbagai daerah dirazia, pantai juga diawasi. Satpol PP, "karungkan" pelaku mesum. Ditatar agar tidak berbuat 'gituan' lagi. Kalau perlu, pajang wajahnya di baliho dan media. Kasih nama lengkap, nama orang tua dan kalau perlu tambahkan suku. Malu awak satu kaum karena perangainya.

Ada permintaan ada barang. Pernah seorang teman dari kota besar di Indonesia datang ke Padang. Ia bertanya, dimana tempat karaoke, pijat dan adakah stok untuk wanita yang bisa diajak bobok? Seorang teman lainnya dengan sigap mengusahakan itu ada. Mengapa bilang tidak. Kebutuhan syahwat itu terpenuhi, mungkin rasa pertemanan dan juga mungkin kebutuhan yang sama beda daerah. Kenapa tidak bilang, di Sumatera Barat itu dilarang. Banned, kami tak punya stok disini.

Inilah kondisinya, karena banyak yang cari, oknum mahasiswi dan siswi punya kerja sampingan. Itu bukan enterpreneurship yang baik. Galeh yang tak elok. Bukan hanya permintaan, kebutuhan juga bisa menjadi sebab. Hedonis menjerat anak negeri. Niru gaya orang di televisi, punya gadget terbaru, baju keren, sayang uang pemberian orang tua sikit. Pekerjaan sampingan jadi PSK? Uang dapat, enak dapat. Tidak enaknya, ditangkap polisi pamong atau warga. Wajah keluar media, malu tidak kepalang, untung wajah disamarkan. Bisa saja dihajar massa. Belum lagi penyakit kelamin, hamil di luar nikah, dianiaya pelanggan brutal. Mana ada asuransi yang jamin kesehatan kerja 'gituan'. 

Mau kita apakan negeri ini? Begini saja, sekarang jika ada permintaan mesum di Sumbar, mulai dari diri kita sendiri tolak permintaan ini. Sumbar beda, di sini kita beradat dan beragama. Punya mamak dan datuak. Kalau ada keinginan cepat-cepatlah pulang ke urang rumah. Ketahuan, malu juga dengan anak keponakan, sanak saudara. Terpenting, takutlah dengan azab Tuhan...digoyang gempa lagi kita nanti. (*)

Note : Catatan Redaksi merupakan tajuk rencana dari www.padek.co, hadir setiap hari Kamis.

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co