Selasa, 28 March 2017, 15:05:32 WIB

Mengelola Ruang Terbuka Hijau di Kota Padang

16 October 2016 12:40 WIB - Sumber : Seprianto - Padang Ekspres - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 85 kali

Pertegas Peruntukannya, Aktifkan Partisipasi Masyarakat

Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di dalam Kota Padang sudah bagus dengan adanya pepohonan dan taman-taman kota. Namun yang menjadi persoalan bagaimana pemerintah daerah (pemda) melakukan penambahan RTH tersebut, lengkap dengan fasilitas di dalamnya.

Pemerhati lingkungan, Indang Dewata menilai, khusus di RTH Imam Bonjol, fungsi sosial belum berjalan dengan baik. Dia menyarankan sesuai dengan zaman informasi teknologi, maka pemda menyediakan wi-fi (layanan bebas akses internet). Sehingga, semua warga dapat berkumpul terutama anak muda. 

Selain itu, penting juga memberi peruntukan yang jelas pada setiap taman atau RTH yang ada. Dicontohkannya RTH khusus anak-anak. Sehingga disediakan fasilitas anak-anak seperti bermacam permainan anak-anak. Tidak pula digabung dengan orang dewasa dan untuk lansia. 

“Fasilitas pendukung lain juga harus sejalan. Misalkan tempat pembuangan sampah yang terpisah. Kemudian penggantian tanaman yang baru. Itu untuk RTH. Jangan diadukkan juga antara RTH. Untuk orang dewasa sediakan lokasi olahraga,” ungkapnya kepada Padang Ekspres, baru-baru ini. 

Di perumahan, dia menilai para pengembang menyediakan RTH itu pada tanah yang tersisa. “Kalau ada tanah yang tidak bisa dipakai lagi baru dibuat RTH,” katanya.

Sementara itu karena Kota Padang merupakan kota di pinggir laut yang tinginya hanya 0 hingga 10 meter, maka keberadaan pepohonan menjadi vital. Karena kadar garam tinggi, dan cuaca panas yang ekstrim. Untuk mengatasi hal itu memang dengan memperbanyak tumbuh-tumbuhan dan memperbanyak RTH. 

“Padang ini akan panas, karena dekat dengan laut. Yang jadi ancaman itu instruksi air laut. Air tanah menjadi kering dan dimasuki air laut, sehinga kadar garam menjadi tinggi. Ini bisa menyebabkan korosi pada gedung,” sebutnya.

Di sisi lain, Kota Padang juga berada di bawah bayang–bayang bukit yang membuat curah hujan tinggi. Makanya juga perlu adanya wilayah serapan air. ”Curah hujan cukup tinggi,” katanya.

Persoalan lain, dia menyarankan agar semua pohon diberikan penomoran dan penghitungan. Sehingga jika ada yang hilang pemda tahu dan segera dilakukan penggantian.

Terpisah, pakar tata kota dari Universitas Bung Hatta, Eko Alvares menyebut, saking pentingnya sebuah keberadaan ruang terbuka hijau (RTH), maka keberadaannya tidak hanya ada di wilayah pemerintahannya saja, namun di setiap rumah juga harus menyediakan 30 persen untuk RTH.

Tidak hanya itu, juga pada ruko-ruko dan perkantoran juga mengharuskan peraturan itu dijalankan. “Yang saya tahu kan aturannya 30 persen yang aktif. Cobalah dihitung. Seharusnya di rumah dan di depan ruko tepi jalan juga harus memakai konsep yang sama.

30 persen untuk ruang terbuka. Jangan dipakaikan paving block. Sehingga fungsinya secara ekologis dan estetis bisa tercapai. Ekologis bagaimana menjadi resapan air dan estetika sebagai keindahan. Warga kota kita banyak yang tidak mengerti itu, makanya banyak halamannya yang dicor,” ungkapnya.

Hal itu berguna agar mendukung kurangnya RTH di Padang. Dia melihat dan mencontohkan di Jalan A Yani, setiap berganti fungsi, pasti RTH-nya hilang. “Sebaiknya kita sebagai masyarakat juga berpartisipasi aktif untuk menyediakan RTH di lingkungan terdekat.

Sekarang banyak yang bertanya mengapa sering banjir. Jawabannya pasti karena resapan air yang kurang, di samping buang sampah sembarangan,” ungkapnya.

Menurutnya, gaya orang Padang jika diselaraskan dengan keberadaan RTH memang sangat cocok. Sebab, sejak dari nenek moyang orang Minang, memang telah memegang kebiasaan melakukan kegiatan dan berinteraksi sosial di ruang terbuka. 

“Ada dua istilah orang Minang yakni balai nan balinduang, seperti rumah gadang yang mimiliki atap dan memiliki lantai. Dan ada pula balai nan bapaneh, seperti lapangan terbuka tanpa atap dan lantai. Balai nan bapaneh juga dengan medan nan bapaneh. Balai merupakan syarat berdirinya suatu nagari.

Jadi kebiasaan melakukan kegiatan di ruang terbuka memang menjadi salah satu rutinitas orang Minang,” ungkapnya. Namun yang terjadi saat ini, interaksi di ruang terbuka itu sudah mulai terkikis. Pada anak muda lebih cenderung melakukannya di kafe dan mall.

Sehingga kebiasaan berkumpul di lokasi terbuka tidak ada lagi. Nah dengan pembenahan RTH yang sejatinya diselaraskan dengan kebutuhan anak muda menjadi sangat penting.

“Misalkan disediakan tempat nongkrong yang ada disediakan wi-fi. Sediakan lokasi atau lapangan tempat anak muda berolahraga,” sebutnya. Kini, seolah yang terjadi adalah kita dipaksa untuk berinteraksi di dalam gedung.

Fakta lain justru banyak kita temui RTH malah dijadikan gudang bagi para pedagang di lokasi tersebut. Sehingga juga dapat disimpulkan RTH juga menjadi wadah mendidik masyarakat untuk berperilaku baik sebagai warga kota.

“Jika RTH tidak dirawat dengan baik, maka akan terjadi konflik ruang terbuka. Di antaranya terjadi tukang parkir, tukang palak, dan lainnya. Ada juga yang menjadikan gudang. Seenaknya meletakkan barang di ruang terbuka,” tukasnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co