Rabu, 29 March 2017, 02:39:51 WIB

Orang Tua Harus Menjadi Benteng yang Kokoh

23 October 2016 10:46 WIB - Sumber : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 50 kali

Kehidupan bermasyarakat di Sumbar dibatasi dengan adanya norma adat dan norma agama. Untuk norma adat membatasi hubungan antara pria dan wanita yang bukan saudaranya.

Sedangkan norma agama membatasi antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya. Nah, fenomena berboncengan mesra yang kerap dilakukan anak-anak muda saat ini telah melanggar kedua norma tersebut. Hal ini diungkapkan pengamat sosial dari Universitas Andalas, Damsar.

“Fenomena tersebut muncul karena pemahaman masyarakat mengenai adat dan agama yang begitu rendah. Hal itu disebabkan sosialisasi mengenai adat dan agama yang tidak begitu intens. Sehingga banyak masyarakat yang tidak menjadikan agama dan adat sebagai rujukan dalam kehidupan,” jelasnya kepada Padang Ekspres.

Agar fenomena tersebut tidak terus berkembang di tengah kehidupan para anak muda, maka orang tua, tokoh masyarakat dan tokoh agama harus kembali bersama-sama untuk membangun norma adat dan agama sebagai pedoman berperilaku.

Damsar menyebutkan untuk tokoh masyarakat bisa dari nagari, lalu agama dari alim ulama. Ia juga menegaskan bahwa orangtua harus menjadi benteng yang kokoh.

“Peran ini tentu tidak terlepas dari tokoh adat dan tokoh agama. Orangtua juga harus menjadi benteng yang kokoh dalam keluarga. Setelah itu baru ke proses nagari, bagaimana peran tokoh adat dalam mempertahankan norma adat dan tokoh agama,” lanjutnya. 

Selain itu tidak dipungkiri juga bahwa sekolah juga bisa membentengi para kaula muda dari hal-hal yang menyimpang tersebut. Artinya melalui budi pekerti yang diajarkan sehingga akan melekat dalam kehidupan.

Untuk adanya pengaruh dari budaya luar, Damsar juga mengatakan pengaruh dari budaya luar tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun yang paling penting yakni memperkuat pemahaman individu mengenai norma adat dan norma agama. Sehingga berapapun besar pengaruh budaya luar yang masuk, tidak akan jadi masalah.

Sementara itu, Dekan Fakultas Psikolog Universitas Putra Indonesia (UPI) Padang, Herio Rizki Dewinda melihat, fenomena yang terjadi dalam lingkungan anak muda saat ini, bisa dikatakan bahwa anak muda tersebut sedang mengalami puberitas. Yang mana mereka tertarik kepada lawan jenis, dengan mereka sering berboncengan dan berpelukan hal tersebut pelampiasan bahwa mereka saling menyayangi. 

Untuk saat sekarang ini, Herio Rizki juga mengatakan bahwa hal seperti itu sudah menjadi suatu kebanggaan bagi mereka. “Hal-hal semacam itu sudah menjadi kebanggaan, melihatkan kepada teman-temannya bahwa mereka telah memiliki pasangan,” ucapnya.

Namun demikian, dengan terjadinya tingkah laku seperti itu, telah melihatkan terjadinya pergesaran nilai. Yang mana kalau dulu hal semacam itu masih tabu, bahkan kalau dulu untuk berbicara berduaan saja sudah malu. 

“Orang tua harus punya peran penting dalam mendidik anak, jangan sampai orang tua malah membuka dan memperbolehkan atas tindakan yang dilakukan oleh anaknya. Kan ada juga kadang orang tua yang malah membolehkan anaknya seperti itu, dengan anggapan ya namanya saja anak muda. Padahal dari segi agama saja hal seperti itu tidak juga diperbolehkan,” terangnya. 

Orang tua harus memperhatikan tontonan anak-anak mereka. Sebab perilaku anak muda saat ini bisa jadi ingin mencontoh apa yang telah ditontonnya. “Orang tua harus mengawasi tontonan anak-anak, bisa saja mereka menonton film dewasa dan di sana orang tua harus memberikan pemahaman mengenai hal tersebut,” tambahnya.

Selain orang tua, dosen Psikolog UPI ini juga mengatakan bahwa guru juga berperan dalam hal mengawasi tindakan yang dilakukan oleh anak-anak tersebut.

Karena menurutnya bisa saja di dalam keluarga anak tersebut dilarang, namun di luar seperti di sekolah mereka akan bertemu dengan teman-temannya. Untuk itu peran guru sangat penting. 

Di sisi lain, pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Padang, Jamaris Jamna menjelaskan, pendidikan tidak menginginkan orang bergaul seenaknya. Karena di pendidikan diajarkan mengenai menghargai orang, norma kesopanan, menghargai lingkungan dan masyarakat. 

Kalau dilihat pendidikan TK itu sudah diajarkan mengenai rasa menghargai dan kesopanan. Lalu masuk sekolah dasar hal seperti tersebut sudah mulai berkurang utuk diajarkan, walaupun sudah ditanamkan sebelumnya. Dan ketika SMP hal seperti itu sudah mulai longgar.

“Sebenarnya di sekolah diajarkan kepada anak-anak mengenai pembentukan karakter tetapi tidak dijadikan bagian kehidupan. Hal tersebut kenapa? Karena guru lebih banyak dominan memberikan pelajaran pengetahuan dibanding perilaku. Karena sewaktu ujian bukan perilaku tersebut yang diuji tetapi mengenai materi pelajaran tadi bukan karakter,” jelas Jamaris.

Seharusnya, sambung Jamaris, di sekolah jangan hanya mengajari materi pengetahuan saja kepada anak-anak, tetapi juga harus karakter. Kendati demikian, dia juga mengaku kesulitan megajari anak-anak mengenai karakter di sekolah karena kurangnya guru-guru di sekolah, sehingga tidak ada yang mengawasi anak-anak tersebut saat jam istirahat. Sehingga anak-anak dibiarkan saja bermain secara bebas tanpa pengawasan.

Untuk itu, perlu ada kerja sama dan ketegasan antara tiga pihak dalam menangani fenomena tingkah laku anak muda saat ini. Jamaris menyebut,  harus adanya kerja sama antara guru, orangtua, pemerintah atau masyarakat. Dan harus ada komunikasi yang jelas antara orang tua dengan guru. 

“Kalau dulu itu ketika orangtua memberikan anaknya untuk diajarkan kepada guru, maka orangtua tersebut membawa rotan agar ketika anaknya tersebut melakukan kesalahan maka guru berhak memukul dengan rotan. Tetapi saat sekarang sudah berubah, ketika anak salah dan dimarahi guru, orangtua malah membela anaknya, malah guru yang dipolisikan. Sehingga sekarang guru sudah banyak yang cuek tidak peduli terhadap karakter anak,” jelasnya.

Jumaris juga menyarankan agar pemerintah membuat pengawasan dari wirid remaja, ia mencontohkan seperti di Bali ada namanya Picalang. Yang mana tugas picalang tersebut mengawasi kelakuan anak muda di Bali yang melanggar adat. Begitupun sebaiknya, di sini juga dibuatkan seperti itu. 

Anggota wirid remaja dapat mengawasi anak-anak muda yang melanggar norma agama dan adat lalu di laporkan kepemerintah seperti Satpol PP lalu ditindak di sana.

Sehingga nantinya menurut Jamaris dengan adanya wirid remaja yang mengawasi setiap RT/RW, maka dapat menghilangkan kelakuan anak muda yang ada saat sekarang ini. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co