Jumat, 21 July 2017, 09:55:28 WIB

Boncengan Mesra, Bergesernya Cara Bergaul Anak Muda

23 October 2016 10:48 WIB - Sumber : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 102 kali

Ayo Tegur dan Beri Rasa Malu!

Rasa malu dalam cara bergaul anak muda saat ini mulai terkikis makin jauh. Salah satunya terlihat saat mereka berboncengan mesra di kendaraan roda dua. Masih dalam tahap berteman, tapi sudah seperti suami Istri saja. Jauh dari norma agama dan adat yang ada di daerah ini. Haruskah didiamkan?

Fitri, 46, warga Kecamatan Nanggalo, Padang, sangat prihatin melihat kondisi tersebut. Dia takut, hal yang sama juga dilakukan anak gadisnya. Sebab itu dia selalu mewanti-wanti anak gadisnya agar tidak berpacaran dulu karena masih usia sekolah. 

“Jika ingin berhasil jangan berpacaran dulu. Karena saat usia sekolah pacaran akan sangat menggangu konsentrasi belajar,” demikian dia selalu mengingatkan anaknya.

Selain itu, Fitri yang Padang Ekspres wawancarai, Kamis (20/10), mengaku heran karena masyarakat sudah banyak yang tidak peduli atau masa bodoh dengan kelakuan remaja saat ini. Seperti berpelukan saat berboncengan di motor itu, seharusnya ditegur sehingga mereka merasa malu dan tidak berbuat hal yang demikian.

Baginya, berteman boleh saja asal jangan berpacaran. Karena sesuai dengan agama yang dominan dianut di negeri ini, yakni Islam, pacaran diharamkan. Karena sisi buruknya lebih banyak dibandingkan dari manfaatnya.

“Kita harus selalu mewanti-wanti mereka dengan cara memberi nasehat kepada anak tersebut dan menjalin hubungan komunikasi dengan gurunya,” bebernya.  
Hal yang tak jauh beda juga dirasakan Mardawati, 54, warga Alai, Padang Utara. Dia mengaku geram, jika melihat muda-mudi berpelukan saat berboncengan di atas motor. “Seperti suami istri saja, padahal masih sekolah,” kecam ibu tiga anak ini.

Dia mengaku, anak sekarang sudah banyak yang melanggar norma-norma kesopanan. Kalau dulu saat dia masih remaja, kenangnya, berteman sama lelaki saja dimarahi orang tua. Kalau bertemu, ada remaja yang berpelukan di jalan, dia mengaku, biasanya menegur mereka sehingga muda-mudi tersebut merasa malu.

Jamaknya pemandangan boncengan mesra di kendaraan bermotor itu, menurut Dwifa Kesuma, 54, warga Perumahan Filano Parak Kerakah Padang, karena perhatian yang kurang dari orang tua, yang sibuk dengan urusannya masing-masing.  Selain itu, kebiasaan buruk tersebut juga ditiru dari tontonan di televisi, internet dan pergaulan. 

Seharusnya, sambung Dwifa Kesuma, orang tua juga mengetahui perkembangan zaman. Salah satunya melek terhadap teknologi dan selalu aktif melihat perkembangan anak.

Baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Orang tua juga harus selalu aktif melihat perkembangan anaknya. Karena masa usia remaja memang masa yang rentan dan mereka rata-rata masih mencari jati diri.

Dia menuturkan, dulu saat masih remaja, berpelukan atau bermesraan di depan umum, sangat tabu. Apalagi jalan berdua dengan lawan jenis hal tersebut sangat tabu sekali dilakukan.

Kalau dulu di era 80-an, orang berpacaran melakukan komunikasi melalui surat saja. Sementara kalau untuk bertemu sangat sedikit sekali. Saat ini mereka terang-terangan saja berpengangan tangan dan berboncengan seperti layaknya suami istri.

Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Puti Reno Raudha Thaib menilai, persoalan tersebut merupakan suatu perilaku yang salah, di mana pendidikan dari orang tua tidak mengajarkan mana yang betul dan salah. Kemudian pengaruh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya.

Masyarakat juga sudah tidak peduli melihat kebiasaan buruk seperti itu. Untuk memperbaiki hal ini, ujarnya, yang pertama sekali, tentu didikan dari orang tua. Bagaimana mengajarkan anaknya tentang norma kesopanan, karena pendidikan dasar tersebut di mulai dari keluarga. 

“Aturan dari orang tua yang tidak ada sehingga anak-anak bertingkah di luar batas kewajaran sehingga tidak tahu lagi mana yang bukan muhrimnya. Jika dasar didikan dari rumah sudah baik, bagaimanapun pengaruh di lingkungan pergaulannya, anak tersebut tidak akan terpengaruh,” ungkapnya. 

Mendesak, Daerah Istimewa Minangkabau

Sementara itu, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar M Sayuti Datuak Rajo Pangulu mengaku, tidak bisa melarang hal tersebut karena fungsi niniak mamak di Sumbar tidak jalan.

“Kalau tidak dibuat Daerah Istimewa Minangkabau maka kita tidak bisa melarang mereka, karena itu hak mereka kalau dilarang bisa melanggar HAM,” katanya.

Menurut dia yang salah itu adalah negara. Karena tidak memberikan hak istimewa terhadap Minangkabau. “Kalau diberi hak istimewa terhadap Minangkabau ini, kita diberi hak atau ruang yang sama untuk mengontrol orang,” ucapnya.

Makanya niniak mamak di Sumbar berjuang ke pusat agar memberlakukan hak istimewa untuk Sumbar.

“Sekarang ini yang boleh menegur orang adalah polisi. Kalau niniak mamak menegur orang akan diadukan oleh kemenakannya ke HAM dengan aduan perbuatan yang tidak menyenangkan, melangar hak azazi manusia sehingga niniak mamak dan ulama tidak bisa untuk berbicara. Sementara daerah istimewa seperti Aceh, pemangku adat dan ulamanya bisa berbicara dengan komitmen jika tidak bisa mematuhi norma dan adat di Aceh silahkan keluar dari Aceh,” katanya.

Kalau ada payung hukumnya seperti di daerah Aceh dan Yogyakarta, pihaknya bisa melakukan hukum adat dan hukum agama.

“Karena di Minangkabau hal yang seperti itu, ruang yang akan menghukumnya adalah hukum adat dan hukum agama. Sementara hukum agama dan adat tidak diakui oleh negara. Seharusnya negara memberi hak istimewa untuk Minangkabau, sehingga hukuman kepada yang melanggar norma kesopanan dan agama bisa dijalankan,” tukasnya

Masukan dalam Kurikulum

Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Syamsul Bahri Khatib menuturkan, hal ini terjadi karena kurangnya pemberitahuan dari orang tua dan masyarakat, bahwa berboncengan antara laki-laki dan perempuan hukumnya haram bila tidak muhrim.

Oleh karena itu, perlu dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah tentang pendidikan akhlak mengenai yang halal dan yang haram. Selama ini hal tersebut hanya sebatas di sebutkan saja, sebaiknya pelajaran akhlak tersebut diujikan supaya lebih mantap.

“Karena kalau pelajaran akhlak tersebut diujikan, otomatis mereka akan mengulang terus sehingga menjadi ilmu, sehingga dapat diterapkan di kehidupannya sehari-hari,” katanya.

Meski pendidikan berkarakter telah dicanangkan di sekolah, apakah ada materi tentang ahklak tersebut. “Pelajaran akhlak tersebut mengajarnya tidak sambilan saja di sekolah. Mesti dituliskan dan diujikan. Selama tidak diketahuinya tetap mereka melanggarnya, karena tidak dimasukkan ke dalam kurikulum,” terangnya.

Selain itu, hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama yaitu orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah. Apabila mereka telah mengetahuinya namun masih melakukan juga, sanksi untuk pribadinya yaitu dosa karena telah melanggar yang telah diajarkan agama.

“Kalau di perguruan tinggi jika ada mahasiswa yang melakukan tindakan seperti ini, maka tugas penasehat akademis lah yang bertugas menyelesaikan masalah tersebut. Kemudian sanksi moral diberikan oleh pihak akademis. Misalnya dengan mengurangi angka kredit mahasiswa tersebut,” katanya.

Di lingkungan sekolah pun, jika ada siswa yang melakukan tindakan seperti itu, maka guru BK-lah yang bertugas untuk membimbing siswa tersebut dan didukung oleh kepala sekolah. Sehingga nantinya Dinas Pendidikan bisa mengevaluasi sekolah mana yang memiliki siswa bermoral dan tidak.

Sementara dilingkungan masyarakat, maka pemuka masyarakat bersama warga akan memberikan sanksi sosial seperti teguran dan bahkan ada juga yang dikucilkan. 

Jika ada anak-anak mereka yang menuntut  ilmu jauh dari rumah dan harus kost, maka tugas orang tua lah untuk mencari tempat kost yang baik dan meminta bantuan kepada pemilik kost untuk mengawasi anaknya.

Kemudian harus selalu menjalin komunikasi dengan pemilik kost, sehingga jika terjadi sesuatu yang kurang baik pada anak, orangtua akan cepat mengetahuinya dan bisa megambil sikap. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co