Rabu, 29 March 2017, 02:40:38 WIB

Wisata ke Luar Negeri jadi Tren

06 November 2016 09:48 WIB - Sumber : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 87 kali

Persaingan Biro Perjalanan dalam Merebut Pasar Paket Variatif, Banyak Orang Lebih Murah Saat ini liburan atau ber-traveling sudah menjadi gaya hidup di tengah-tengah masyarakat.

Hal ini membuat banyaknya perusahaan-perusahaan biro perjalanan (travel agent) yang menawarkan paket-paket wisata menarik. Baik dalam negeri maupun paket tour wisata ke luar negeri.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sumbar, Ian Hanafiah mengatakan, saat ini masyarakat Sumbar kebanyakan masih memilih untuk berwisata ke luar negeri terutama ke negara tetangga Malaysia. Di samping jarak tempuh yang dekat, biaya yang dikenakan untuk berwisata ke Malaysia ini juga murah.

“Kalau untuk liburan kebanyakan masih banyak yang memilih ke Malaysia, karena sudah ada pesawat langsung dari Padang ke Malaysia. Dilihat dari segi biaya untuk ke Malaysia lebih murah dibanding ke Bandung atau Jakarta. Belum lagi dari segi gengsi liburan ke luar negeri jauh lebih bergengsi,” kata pemilik Ero Tour ini. 

Ian melanjutkan bahwa untuk paket tur wisata ke luar negeri yang paling diminati masyarakat Sumbar, umumnya ke tiga negara yaitu Malaysia, Singapura dan Thailand.

Untuk ke Singapura, biasanya banyak para wisatawan hanya menjadikan negara tersebut sebagai persinggahan sementara saja. Mereka berkeliling Singapura, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Malaysia dan menginap di Negeri Jiran tersebut. 

Peraih penghargaan tour travel terbaik ini, menjelaskan, kabanyakan setelah masyarakat Sumbar beriwisata ke tiga negara tersebut. Mereka akan memilih untuk pergi umroh, karena saat ini untuk berangkat naik haji susah, harus menunggu waktu lama.

Setelah selesai umroh, barulah para wisatawan dari Sumbar ini akan memilih negara-negara lain untuk berwisata. Seperti Australia, Eropa, Jepang, Korea dan Tiongkok. Saat ini, Ian menyebutkan masyarakat Sumbar banyak memilih untuk beriwisata ke Korea. 

“Kalau ke Jepang biayanya mahal, masyarakat umumnya memilih Korea karena mereka ingin melihat salju. Itu kan sudah hal yang biasa, kita pergi berwisata ke luar negeri tentu ingin merasakan apa yang tidak ada di negara kita sendiri. Karena itu banyak masyarakat memilih Korea mereka ingin merasakan bagaimana rasanya salju yang turun tersebut,” ungkapnya. 

Ian  mengingatkan calon wisatawan, harus pintar memilih jadwal berwisata. Jangan sampai datang di tengah-tengah musim salju, karena itu akan percuma. Cuaca sangat dingin dan tak akan bisa menikmati perjalanan wisata. Sebaiknya bagi yang ingin berwisata tersebut memilih diawal atau diakhir dari musim salju.

Selain itu, Tiongkok juga menjadi pilihan masyarakat Sumbar untuk berwisata ke luar negeri. Karena melihat kondisi bentang alam negara tersebut hampir sama dengan Indonesia.

“Untuk para travel agent harus memberitahu para wisatawan yang hendak berwisata ke luar negeri, kapan waktu yang pas untuk berkunjung ke negara tersebut. Misalnya di musim salju, kapan waktu baiknya berkunjung di awal atau di akhir. Atau pada saat musim semi dimana banyak bunga-bunga,” ujarnya sembari mengatakan kalau untuk ke Amerika sangat jarak masyarakat Sumbar ke sana, karena jauh. 

Untuk sasaran market, Ero Tour sendri memilih masyarakat menengah, dengan alasan untuk mengurangi risiko. “Saya sekarang ini sudah tidak saatnya lagi untuk fight, saya sebagai ketua Asita harus memberikan kepuasan kepada tamu, setelah mereka pulang mereka merasa puas,” ujarnya. 

Ero Tour sendiri member penjelasan sedetail-detailnya kepada calon wisatawan. Misalnya bagi yang ingin berwisata dengan harga murah, akan disebutkan kondisi hotel seperti apa dan menggunakan bus yang bagaimana.

“Kami dari Ero Tour menjelaskan, misalnya berpergian itu seperti ada harga ada barang. Harga proporsional. Jadi kami menjelaskan kepada konsumen, kalau mau harga murah kondisi yang akan didapatkan itu seperti apa, bisa saja menggunakan bus dengan kondisi tahun yang sudah lama. Hal tersebut memang harus dijelaskan sekaligus mengedukasi, dan memperkecil kemungkinan komplain konsumen di belakang hari nanti,” jelasnya Ian sembari menyebutkan kebanyakan masyarakat yang berwisata selalu rombongan. Ada juga ibu-ibu arisan, orang kantoran. 

Namun, untuk perusahaan multinasional biasanya sudah langsung ke pusat. Seperti perusahaan yang berpusat di Jakarta, maka untuk mereka berwisata sudah langsung pusat yang mengurus. 

Menanggapi seringnya terjadi permasalahan pada tour travel yang menipu para masyarakat yang ingin berwisata, Ketua Asita Sumbar ini menyarankan masyarakat harus lebih mengetahui tour travel yang digunakan. Jangan hanya tertarik karena penawaran harga yang murah saja.

“Travel dengan harga murah belum tentu mengambil untung sedikit begitu pula sebaliknya travel dengan harga mahal belum tentu untuk besar. Dalam tour travel ada kualitas tur itu sendiri. Travel agent harus buka itu, bagi konsumen juga harus menanyakan dan bangun komunikasi dengan tour travel yang dipilih tersebut,” terangnya sambil mengatakan berbisnislah dengan hati.

Ian menyarankan agar konsumen bertanya sedetail mungkin kepada biro perjalanan yang digunakan. Bila perlu konsumen harus tahu, siapa partner biro perjalanan tersebut nantinya di tempat yang akan di kunjungi. 

“Kita ini kan bekerja sama atau berafiliasi juga dengan travel agent yang ada di sana, misalnya di Malaysia. Tidak mungkin kan Ero Tour juga ada di Malaysia, tentu kita bekerja sama dengan travel agent di sana. Dan itu harus terbuka kepada konsumen harus berjelas-jelas siapa nanti tour travel yang meng-handle di sana. Saya disini biasanya memberitahu hal tersebut kepada konsumen,” ungkapnya. 

Yang mana untuk paket tur dari Ero Tour sendiri ke Korea selama lima hari, minimal keberangkatan 15 orang dari harga Rp 6,8 juta sampai Rp 8 juta. Lalu untuk tur lima hari empat malam ke Vietnam untuk dua orang dikenakan biaya tur dari Rp 7 juta sampai Rp 10 juta.

Pemilik Tour Travel Amanah, Joni Mardianto mengatakan untuk peningkatan wisatawan Sumbar ke luar negeri termasuk tinggi. Diakuinya untuk negara yang paling dominan dikunjungi yaitu tiga negara Malaysia, Singapura dan Thailand.

Untuk saat sekarang sampai Desember nanti menurutnya, tingkat kunjungan wisatawan di dalam negeri ke luar negeri sangat tinggi. 

“Sampai Desember, ramai para wisatawan. Januari sampai Maret akan sepi. Tapi di akhir Maret akan banyak wisatawan luar negeri berkunjung ke dalam negeri seperti Malaysia yang akan datang ke Indonesia, karena disana jadwal mereka libur,” sebutnya.

Kebanyakan masyarakat yang memilih berwisata ke tiga negara tersebut, rata-rata didominasi oleh para pelajar, mahasiwa dan rombongan guru-guru.

Selain dari negara tersebut, yang juga banyak di kunjungi masyarakat Sumbar yaitu negara Australia, Korea, Jepang dan sebagian ke Cina. Yang mana rata-rata wisatawannya keluarga.

Untuk negara Eropa, ia menyebutkan kebanyakan masyarakat Sumbar menggunakan agent travel yang berada di Jakarta. Untuk paket travel yaang ditawarkannya tersebut juga variatif, tergantung banyak orangnya.

Untuk berwisata ke Malaysia dengan waktu tiga hari dua malam, dengan minimal paket 10 sampai 20 orang dikenakan biaya Rp 3,9 juta per orang. Lalu untuk 21 sampai 35 orang biaya paket Rp 3,5 juta. Semua biaya tersebut telah masuk biaya tiket, fasilitas hotel, makanan dan guide.

Persaingan tour travel juga semakin ketat, tetapi untuk penjualan paket tur ini tidak terlalu banyak. Dari 248 tour travel yang terdaftar di Asita, hanya berkisar 20 persen yang menjual paket tur. 

Joni mengaku untuk masing-masing tur travel memiliki pangsa pasar masing-masing. Market-nya kebanyakan dari perusahaan-perusahaan swasta dan pemerintah.

”Kalau untuk anak-anak sekolah saya tidak, kita kan punya market masing-masing,” katanya. Selain ke luar negeri, juga banyak para wisatawan dari Sumbar, melakukan wisata dalam negeri. Kota yang paling banyak di kunjungi seperti Bandung, Jakarta, Bali, Lombok dan Yogyakarta.

Saat ini telah banyak agen-agen travel yang tidak resmi, tidak terdaftar di dalam asosiasi. Mereka menjual paket murah, yang tidak sesuai sehingga akhirnya berujung terhadap penipuan.

“Kuncinya bagi yang ingin menggunakan agen travel untuk berwisata, jangan mau teriming imingi harga murah. Lihat dulu track record perusahaan agen travel tersebut. Sudah terdaftar belum di Asita, untuk melihatnya bisa di cek di situs website Asita. Lalu bagi pemerintah juga bisa melakukan pengecekan NPWP perusahaan travel tersebut, resmi atau tidak,” terangnya. Karena menurut Joni, harga penjualan paket tour tidak bisa dibohongi. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co