Sabtu, 25 March 2017, 02:51:06 WIB

Melatih Diri jadi Pribadi Disiplin

09 November 2016 08:40 WIB - Sumber : Wila - Editor : Riyon    Dibaca : 54 kali

Mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan di negeri orang bukanlah perkara sederhana. Kesempatan itu tentu tidak datang dua kali, begitulah kesempatan itu datang pada siswi kelas tiga SMAN 1 Padang, Monica Salsabila.

Monic begitu ia disapa adalah salah satu yang beruntung dari ribuan calon penerima beasiswa penuh untuk satu tahun sekolah di Jepang dari AFS (American Field Service). Monic yang sedari kecil bercita-cita untuk sekolah ke luar negeri mewujudkan impiannya tepat di umur 17 tahun. 

”Dari dulu kepikiran kayak gimana ya kalau di umur 17 tahun aku challenge diri aku untuk ke luar negeri. Trus daftar SMA, alhamdulillah dapat SMA yang diimpikan, trus di pengumuman prestasi siswa ada kolom pertukaran pelajar. Nah, dari situ awal perjuangan. Aku tanya-tanya ke returnee exchange di sekolah. Gimana tesnya, apa aja yang akan diseleksi dan mulai deh perbanyak baca, liat berita dan lainnya, soalnya tes awalnya pengetahuan umum,” ujar Monic.

Monic menuturkan bahwa semua orang bisa saja ke luar negeri, tetapi untuk tinggal selama waktu tertentu dan mempelajari kebudayaan sekitar tentu merupakan hal tak ternilai dibanding sekedar jalan-jalan wisata.

“Selama di Jepang, aku belajar budaya mereka, tinggal dan berbaur bersama mereka, dan itu unik dari sekadar jalan-jalan,” ucap Monic yang bersekolah di Fukuoka Futaba High School di Jepang tersebut. Banyak yang didapat Monic selama setahun di Jepang.

Bisa memperkaya kemampuan berbahasa asing, bisa belajar cara memahami perbedaan, banyak hal hal unik di Jepang yang dirasakan Monic, festival unik, budayanya, masyarakatnya, teknologi Jepang yang canggih, dan hal-hal lain dari Jepang yang memiliki keunikan tersendiri. 

Setiap harinya Monic tidak hanya bercengkarama dengan siswa lain asli penduduk Jepang, tiap harinya Monic juga bertemu dengan siswa pertukaran pelajar dari negara lain dan selalu menulis di memo agar selalu ingat, dan total teman dari negara lain yang ia peroleh sebanyak 23 negara.

Kendala tentu saja dialami Monic selama tinggal di Jepang. Bahasa merupakan salah satu kendala paling utama, tetapi Monic bisa mengatasi itu dengan terus membiasakan diri bercengkrama bersama keluarga angkat (host family) selama di rumah.

“Sering miss komunikasi terus ujung-ujungnya salah paham, tapi host family aku selalu paham karena aku toh juga masih belajar, dan mereka maklum sekali, mereka sudah menganggap aku sebagai keluarga dan di dalam keluarga pun pasti juga ada yang namanya kesalahan-kesalahan,” tutur Monic.

Kebudayaan yang berbeda tentunya hal lain dari kendala selama tinggal di Jepang.

“Kita harus membuka pikiran bahwasanya kita tinggal di lingkungan baru dan mencoba untuk menganggap segala budaya baru agar mudah menyesuaikan diri. Sehingga culture shock lama kelamaan akan hilang dengan sendirinya setelah terbiasa dengan itu dan merasa sudah menjadi bagian dari mereka, jadi tidak masalah lagi dengan perbedaan karena sudah bisa menjembataninya,” jelasnya. 

Selain bahasa, hal utama yang menjadi harus dipersiapkan selama tinggal Jepang adalah kesiapan mental. Selain itu Monic juga mempersiapkan beberapa souvenir untuk host family dan teman-teman di Jepang, persiapan projek untuk presentasi di sekolah.

“Aku bawa poster gede 8 kertas karton yang aku bikin sendiri di rumah buat dibawa ke Jepang,” ujarnya. Setahun di Jepang membuat Monic semakin disiplin dalam mengatur waktu.

“Sekolah di Jepang sangat ketat akan aturan, bel masuk itu pukul 8.20 lalu kami disuruh berdoa, trus membaca buku atau artikel. Sebelum belajar, gurunya memberikan info tentang pelajaran hari itu. Pelajaran mulainya pukul 09.00 dan pulang pukul 16.00,” jelasnya.

Setiap sepulang sekolah Monic tidak langsung pulang, akan ada ekskul di setiap selesai jam pulang sekolah.

“Biasanya pulang sekolah ada ekskul. Dan ekskul itu sibuk banget. Udah kayak sekolah kedua mereka. Karena menurut aku, di ekskul lah mereka mengembangkan diri, mengeluarkan opini dan lainnya, karena belajar di kelas nggak ada yang namanya diskusi atau presentasi karena mereka sistemnya teacher center,” ucapnya.

Hal yang paling berharga yang didapat Monic selama setahun sekolah di Jepang adalah memahami cara menghargai perbedaan.

“Aku jadi lebih menghargai orang lain, dan disiplin waktu, lalu yang tidak kalah penting gak buang sampah sembarangan. Soalnya dari hal-hal sederhana itu kita bisa disiplin dan menghargai waktu,” tutupnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co