Sabtu, 27 May 2017, 13:10:38 WIB

Fathur Rahman, Mantan TKI yang Jualan dan Buka Servis Komputer

13 November 2016 09:46 WIB - Sumber : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 100 kali

Bermodal Rp 100 Juta dari Jepang, Beromzet Rp 50 Juta per Bulan

Lelki itu bernama Fathur Rahman. Meski sudah malam, dia masih terlihat sibuk di tokonya, Multimedia Computer, di Jalan Joni Anwar. Berkali-kali telepon genggamnya berbunyi. Panggilan dari para konsumennya. 

Sementara itu, dua orang siswa magang dari salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di daerah ini terlihat sedang menginstal komputer yang telah di perbaiki.Di dalam toko yang berukuran 4x8 meter tersebut, banyak terdapat bangkai-bangkai komputer dan laptop yang tersusun rapi di lantai.

Sebelum menjadi TKI magang di Jepang, alumni STM Elektro Pratama Padang tahun 1993 ini, sempat melakoni berbagai pekerjaan. Seperti menjadi teknisi di salah satu perusahaan Sony Elektronik di Jakarta.

Dia juga pernah mengadu nasib di Negeri Jiran Malaysia. Kemudian ikut tes TNI, Polri dan bahkan tes pegawai negeri sipil (PNS). Namun nasib belum berpihak kepada pria yang akrab disapa Fathur ini.

Pada tahun 1997, Fathur ikut tes mangang ke Jepang. Pendaftarannya waktu itu di Departemen Tenaga Kerja (kini Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) Sumbar. 

“Saat itu jumlah yang tes ratusan orang. Tesnya seperti masuk tentara. Salah satunya lari 10 kali lapangan bola dengan waktu 15 menit,” ceritanya kepada Padang Ekspres, Kamis (10/11).

Pada percobaan pertama, dia tidak lulus. Pasalnya, saat tes penentu tahap akhir (pantokhir), Fathur ditanya apakah pernah berbohong. Lalu dia menjawab tidak. Yang melakukan tes tidak percaya, sebab mereka berpendapat, setiap orang pernah berbohong.

Bapak satu anak ini,  akhirnya bisa mengadu nasib ke Jepang, setelah tujuh kali mengikuti tes. Dia bekerja di perusahaan pengepakan daging di Matsuyama.

Gajinya sebulan sekitar Rp 15 juta. Kalau di tambah lembur bisa mencapai Rp 30 juta. Selain itu, dia juga mendapat fasilitas apartemen, listrik dan air yang ditanggung perusahaan. 

Menjadi TKI mangang di Jepang, katanya, banyak pelajaran yang bisa diambil. Seperti kejujuran dan etos kerja orang Jepang yang tinggi. “Orang Jepang merupakan bangsa pekerja. Apapun pekerjaan orang di Jepang tersebut dihargai. Selain itu juga disiplin serta kejujuran dijunjung tinggi,” ujarnya.

Setelah menjadi TKI magang di Jepang, tahun 2002 Fathur pulang ke Indonesia dengan membawa modal sekitar Rp 100 juta lebih. Dia sempat bingung, mau diapakan uang itu. 

Sebab, meski hanya tiga tahun di negeri orang, budaya kerja di Jepang cukup memengaruhi Fathur. Umumnya para TKI di Jepang, saat kembali ke Indonesia banyak terkejut dengan budaya kerja di Indonesia.

Ini perlu pula untuk penyesuaian diri kembali. Apalagi, pola pikir yang tertanam saat di Jepang adalah bekerja dan bukan memiliki usaha.

Sekembalinya dari Jepang, Fathur sempat mencoba berbagai usaha. Seperti berdagang pakaian, berladang sawit dan sebagainya. Namun hasilnya tidak jelas. Karena usaha tersebut hanya ikut-ikutan temannya.

Nah, karena uang yang dibawa saat menjadi TKI sudah mulai menyusut, Oktober 2007, atas saran dari temannya, dia mencoba membuka usaha penjualan komputer dan jasa service, sebagaimana yang ada saat ini. Selain mengontrak toko, ia juga merangkul dua orang teman yang memberikan saran tersebut sebagai teknisi. 

Modal awal dari usahanya itu sekitar Rp 25 juta. “Saat itu bisnis komputer lagi booming, sehingga saya mencoba membuka usaha servis dan jual beli komputer. Meski latar belakang pendidikan saya elektronik, tetapi pengetahuan terhadap komputer masih nol,” ceritanya.

Namun, kongsi sama temannya hanya bertahan tiga bulan, karena banyak terjadi kesenganggan dan kecurangan. Ditinggal teman, Fathur ibarat anak ayam kehilangan induknya. Saat inilah naluri pantang menyerahnya dan etos kerja yang didapatnya dari Jepang kembali muncul. 

Fathur mempelajari komputer dari dua saudara sepupunya yang kuliah di Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universita Putra Indonesia (UPI) Padang yang kebetulan mengerti komputer. Kadangkala dia juga belajar sendiri lewat internet. Seiring berjalannya waktu, lambat laun dia pun mulai menguasainya.

Sebelumnya kalau ada konsumen yang mengantarkan printer-nya untuk diperbaiki, dia selalu mengorder ke temannya.

“Ibarat orang kalau sudah terdesak pasti bisa. Begitu juga saya karena tidak ada jalan lain tekad telah bulat karena pekerjaan ini sudah menjadi pilihan hidup sehingga alhamdulillah sampai sembilan tahun usaha saya ini masih bertahan,” ucapnya.

Padahal di sepanjang jalan Joni Anwar itu, dulu banyak terdapat toko komputer. Tetapi sekarang sudah banyak yang tutup. Hal ini karena hanya menjual komputer saja , sementara dia menjual dan menerima servis komputer. 

Tertanam dalam dirinya, kalau ingin maju tidak mungkin selalu bergantung kepada orang lain. Sehingga dia pun bertekad kuat untuk belajar, karena kita tidak bisa selalu tergantung kepada orang lain. Jadi, saat ada anak buah atau teknisinya yang keluar, dia tidak cemas karena juga menguasai komputer. 

“Sebagai owner jangan terlalu mengandalkan karyawan. Kita harus mengetahui bidang tersebut sehingga jika mereka keluar kita tidak kalang kabut,” katanya. 

Saat ini, dengan usahanya itu, dia memiliki dua orang karyawan. Dia juga menerima anak mangang dari SMK. Rata-rata karyawan yang bekerja di sana mulai dari nol.

Karena dia lebih suka memilih karyawan tidak ada pengalaman di bidang komputer sama sekali, karena lebih mudah untuk diarahkan. Kalau mereka sudah bisa atau berpengamalan biasanya mereka akan berlagak sok pintar sehingga akan menggangu dalam bekerja nantinya.

“Intinya biarlah dari nol, saya akan membimbing dan memberikan ilmu saya sampai ke akar-akarnya. Sehingga banyak juga dari mantan karyawan di sini yang membuka usaha sendiri,” ujar Fathur.

Dalam menjalani usahanya ini, dia mengutamakan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan. Karena selain berjualan komputer usahanya juga di bidang jasa servis komputer.

“Setiap konsumen yang datang dijadikan saudara, dan berikan pelayanan yang terbaik kepada konsumen. Owner juga turun langsung dan melayani konsumen,” ungkapnya yang kini beromzet kotor sekitar Rp 50 juta per bulan. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co