Rabu, 29 March 2017, 02:36:56 WIB

Menyingkap Trik Sukses Duo Keluarga Harmonis dan Sakinah di Solok

11 December 2016 10:13 WIB - Sumber : Riki Candra - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 65 kali

Jaga Irama Kehidupan dengan Santun, Komunikasi jadi Kunci

Tidak sedikit jumlah pasangan suami istri bercerai dalam usia pernikahan yang bahkan belum setahun jagung. Namun, masih banyak juga yang bertahan dengan segala suka-duka kehidupan. Bahkan, di usia perkawinan yang hampir setengah abad, mereka masih bergandeng mesra.

Seperti halnya pasangan Sofni, 51 dan Agus Purwadi, 58 yang ditinggal Asrama Polres Solok Kota, Kelurahan Kampungjao, Kecamatan Tanjungharapan, Kota Solok. Pasangan ini bahkan keluar sebagai juara terbaik dalam kegiatan lomba keluarga harmonis tingkat Sumbar tahun 2016.

Keberhasilan tersebut tidak lantas diartikan sebuah prestise bagi pasangan yang sudah menikah selama 31 tahun tersebut. Melainkan lebih kepada wujud nyata kasih sayang yang selama ini dipagarinya dengan keikhlasan.

“Buah dari kebersamaan dan harmonis kita dibalasi dengan penghargaan BKKBN Sumbar,” kata Sofni didampingi suaminya Agus yang dijumpai Padang Ekspres dalam suatu kegiatan lomba memasak di Kota Solok, kemarin, (10/12).

Ibu dari dua orang anak ini tidak pernah membayangkan, jika dia dan sang suami bakal dinobatkan menjadi pasangan paling harmonis se-Sumbar. Sebab, selama ini, sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), Sofni mengaku tidak terlalu mengumbar kemesraan dan suka-duka rumah tangganya pada khalayak.

Sebagai istri seorang polisi lanjut Sofni, dia aktif diberbagai kegiatan sosial. Seperti bundo kanduang LKAAM, kader PKK dan BKB Kota Solok. Dia juga menjabat ketua Dasawisma Kelurahan Kampungjao.

“Untuk usaha sampingan, saya jualan kue kering. Tapi, keluarga tetap nomor satu,” ungkap Sofni yang spontan menceritakan kehidupannya. Nenek 3 orang cucu ini membeberkan, beberapa penilaian lomba keluarga harmonis itu di antaranya adalah menikah dalam usia di atas 20 tahun.

Kemudian, tidak adanya cekcok hebat dalam rumah tangga yang telah dibina puluhan tahun. “Pertengkaran dan beda pendapat dalam rumah tangga pasti ada. Tapi, tidak sampai pada kata perceraian,” sebutnya.

Sofi menuturkan, kunci utama menjaga harmonisasi hubungan suami-istri adalah komunikasi. Kemudian, menyadari dan menerima kelebihan maupun kekurangan pasangan masing-masing. Serta, saling membantu dalam balutan kasih sayang.

Jika ini telah tertanam kokoh dalam hati pasangan suami-istri, sehebat apapun goncangan masalah akan dapat terlewati dengan baik. Sebab, hidup tidak saja berjalan mulus. Terkadang susah, pahit dan senang. Itulah dinamika kehidupan yang mesti dilalui setiap pasangan.

“Suami saya hanya polisi golongan rendah. Sekarang sudah pensiun pula. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak bahagia. Buktinya, hari ini kami semakin mesra. Anak-anak sudah bekerja, sudah bercucu pula. Malah mau Empat cucu saya dalam waktu dekat ini,” terangnya yang mengaku pernah hidup susah di saat menyekolahkan kedua anaknya dengan hanya satu tulang punggung keluarga.

Di akhir percakapan, Sofi berpesan pada semua pasangan suami-istri baru maupun pemuda-pemudi yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan.

Menurutnya, menikah itu adalah hal mudah, namun mempertahankan pernikahan sungguh tidak mudah. Namun, jika kedua pasangan telah mengenal baik satu sama lain, kemudian memahami apa hakekat pernihakan, niscaya akan berbuah manis.

“Menikah itu tidak saja antara kau dan dia. Tapi, menyatukan dua keluarga besar antara kau dan dia. Maka, pahamilah betul arti sebuah pernikahan. Sehingga, kelak hanya maut yang memisahkan kita,” harapnya.

Juara Keluarga Sakinah

Lain lagi kisah pasangan Syafrizal Bhen, 59, dan Yuarti, 56, warga Jorong Kayuaro, Nagari Batangbarus, Kecamatan Gunungtalang, Kabupaten Solok yang berhasil menjadi keluarga terbaik dalam lomba keluarga Sakinah yang diselenggarakan Kemenag Kabupaten Solok Tahun 2016.

Menurut Syafrizal Bhen, kemenangannya meraih predikat keluarga Sakinah tidak terlepas dari kegiatan yang dilakoninya sehari-hari. Baik dalam menjaga harmonisasi keluarga maupun dengan masyarakat.

Sebagai Kepala Keluarga, H Bhen begitu sapaan akrabnya mampu menyatukan 5 orang anak dengan 4 menantunya dalam satu komplek perumahan tanpa sedikitpun konflik. Begitu juga keluarga sang istri, tinggal berdekatan tanpa polemik yang berarti.

“Boleh dikatakan, kami hampir se atap. Tapi tetap rukun, damai dan tidak gaduh,” tutur Syafrizal Bhen. Pemilik Yayasan anak-anak putus Sekolah ini menuturkan, cara terbaik untuk membina masyarakat dimulai dari rumah tangga.

Hal inilah yang diterapkan Syafrizal Bhen hingga mampu mengantarkan masa depan ribuan anak-anak putus Sekolah di Kabupaten Solok untuk mendapatkan ijazah. Kegiatan ini juga didukung penuh sang istri yang sehari-harinya bekerja sebagai guru agama Islam salah satu SD.

“Jadi, keberhasilan dalam rumah tangga tidak saja dinilai dari materi. Tapi, bagaimana menjaga irama kehidupan dengan baik dan santun,” bebernya. Pak Ben mengibaratkan kehidupan rumah tangga umpama kapal yang tengah berlayar di lautan luas. Berbagai hambatan kelak akan dihadapi.

Mulai dari hempasan ombak besar, angin kencang, hujan deras dan segala kerumitan lainnya. Lantas, bagaimana seorang nahkoda mampu bertahan dan menjaga stabilitas kapalnya. Sehingga tidak terombang-ambing hempasan badai.

“Seorang pemimpin, imam atau kepala keluarga perlu super sabar dan saling jujur dengan pasangan. Percayalah, setiap kebohongan akan berakhir pada kehancuran,” sebut kakek 6 orang itu.

Hal itulah yang digenggam teguh Syafrizal Bhen bersama istri yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 33 tahun lebih itu.

“Bukan tidak pernah goncang, bukan tidak pernah dihondoh badai. Tapi, bagaimana kita tetap bertahan dengan semua cobaan. Itu yang dinamakan menjaga rumah tangga,” ujar Bhen yang menjadi peringkat ke-4 Keluarga Sakinah tingkat Sumbar itu.

Meski dinobatkan sebagai keluarga Sakinah di Kabupaten Solok, Bhen tak lantas berpuas diri. Baginya, penghargaan itu adalah cambuk untuk betul-betul mampu membawa keluarganya pada tatanan sakinah, mawaddah, warahmah.

Dengan kata lain, keluarga yang rukun, damai, tentram yang dirahmati Allah. “Penghargaan ini doa bagi kami. Mudah-mudahan kami betul-betul mampu mewujudkannya,” katanya lagi.

Di sisi lain, Wali Nagari Batangbarus, Syamsul Azwar menilai, keseharian Syafrizal Bhen memang patut menjadi contoh bagi generasi muda. Pasalnya, selain menjaga marwah keluarga, Bhen juga mengabdikan diri untuk masyarakat.

Seperti aktif diberbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Tidak saja di Kayuaro, melainkan Kabupaten Solok dan Sumbar. “Selaku pihak nagari, kami cukup mengapresiasi kegiatan yang digencarkan Pak Bhen untuk kehidupan sosial,” tukasnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co