Senin, 26 June 2017, 03:42:58 WIB

Sisi Lain dari Dunia Start Up di Sumatera Barat

18 December 2016 10:11 WIB - Sumber : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 127 kali

Susah Tembus Perbankan, Butuh Dukungan Rantau

Dunia start up beberapa tahun terakhir ini semakin berkembang pesat di Indonesia, khususnya terkait dengan dunia usaha. Misalnya, dengan adanya Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Guru.com dan banyak lainnya. Bagaimana dengan Sumbar?

pengamat ekonomi dari Universitas Andalas (Unand), Donal Gomes mengatakan, berkembangnya dunia strat up dibuktikan dengan sejumlah start up yang mulai berkembang.

Sebagai contoh pasar baru itu bergerak di bidang ritel dan jasa, seperti APPSKEP yang bergerak di bidang keperawatan, serta Tanya Da Bob bergerak di bidang jasa dan informasi.

Jadi di bawah permukaan, pelaku start up ini sudah mulai menggeliat. Namun tantangannya dalam dunia start up itu dua tahun pertama mereka berjuang di dalam atau di bawah tanah, karena menyangkut teknologi.

Misalnya pembuatan aplikasi seperti di pasar baru itu tidak gampang. Karena membutuhkan keahlian dan kompetensi yang berbeda-beda, yang membuat dua tahun pertama itu sangat penting sehingga mampu tidak mereka bertahan hingga gerakan di bawah tanah ini muncul kepermukaan.

“Tantangan terbesar mereka memang di situ. Karena dibandingkan dari luar daerah terutama di pulau Jawa, kondisinya lebih nyaman. Seperti dalam sistem pendanaan. Di situ akan lebih banyak bertemu dengan ventura kapitalis (orang yang bersedia menjadi investor untuk usaha-usaha seperti itu),” katanya kepada Padang Ekspres, Jumat (16/12).

Karena ventura kapitalis tersebut mempunyai dana, punya pemahaman yang baik tentang start up, jadi mereka mau menanamkan modal.

Namun di Sumatera Barat sendiri kelemahannya di situ karena ventura kapitalis yang paham dan mau mengucurkan dana terutama terhadap pelaku strat up terutama yang baru merintis 2 tahun pertama agak sulit karena belum terbayang ke depannya apakah bisa booming atau tidak. 

Seperti Gojek, pertama berdiri tidak terbayang apakah bisa booming atau tidak, nyatanya saat ini Gojek sudah menjadi besar. Namun meskipun sudah besar mereka masih tetap membutuhkan dana segar agar usahanya tetap berjalan.

Peluang start up sangat besar di Sumatera Barat karena potensi komunitas start up tersebut ada dan cukup potensial untuk dikembangkan. Yang menjadi masalah yaitu untuk industri kreatif seperti start up ini harus ada dukungan dari pemerintah seperti  pemudahan untuk mendapatkan dana atau modal.

Namun situasi sekarang untuk start up tersebut masih susah untuk menembus perbankan. Karena kalau perbankan orientasinya mengembalikan modal yang dipinjam secepat mungkin. Sementara start up ini seperti di bidang aplikasi di bidang bisnis, atau di bidang lain seperti industri kuliner mereka belum punya modal di awal merintis.

“Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi. Misalnya dengan adanya semacam budaya menginvestasi, seperti orang rantau yang memiliki kelebihan uang bisa menjadi pemodal bagi usaha start up itu,” terangnya.

Menurut dia, sebenarnya pemerintah peduli terhadap dunia strat up. Presiden Joko Widodo antusias hal-hal yang seperti itu. Sebab, sudah dibuat semacam peta jalan untuk usaha ekonomi kreatif mendukung start up.

Namun dalam konteks di Sumatera Barat masih belum terlalu berpengaruh karena dunia start up di Sumatera Barat murni di dukung oleh start up itu sendiri.

“Di dalam dunia usaha, kadang-kadang pelakunya berusaha untuk mencari jalannya sendiri-sendiri, berkaloborasi dengan teman atau sanak saudara yang mereka kenal. Itu yang saya lihat selama ini di komunitas start up di Sumatera Barat,” ucapnya.

Pemerintah masih memberikan semacam peta jalan namun insentif sudah mulai diberikan seperti dari dinas-dinas UMKM, Kemenpora, Dinas Koperasi dan Perdagangan.Tetapi masalahnya ada beberapa jenis start up yang membutuhkan dana yang continue. Yang seperti itu yang belum tersentuh oleh pemerintah.

“Start up aplikasi yang mengunakan teknologi, yang belum mendapatkan dukungan yang memadai terutama di Sumatera Barat,” katanya. Dia berharap, komunitas start up tetap bersemangat karena dalam kondisi dan tantangan apa pun mereka harus mencari jalannya sendiri untuk bisa tampil kepermukaan.

“Jika bisa tampil ke permukaan biasanya mereka lebih lama bertahan seperti Gojek,” tuturnya. Dia menambahkan, dari sisi pemerintah dia berharap paling tidak memberikan kemudahan-kemudahan dalam aspek perizinan, dukungan moril seperti mempertemukan pelaku start up dan ventura kapitalis. 

Defenisi start up itu adalah mendirikan bisnis yang belum pernah berdiri sebelumnya, jadi benar-benar merintis dari nol. Karena banyak orang beranggapan strat up itu harus berbasis teknologi hal tersebut memang betul tetapi tidak lah seperti itu.

“Sebenarnya komunitas start up tersebut banyak yang ada di Padang, karena naluri bisnis orang Minang cukup tinggi,” tukasnya.

Deni Masriyaldi, ketua Forum Ekonomi Kreatif Sumatera Barat mengatakan, perkembangan dunia strat up di Sumatera Barat cukup bangus. Beberapa pemilik usaha yang berada di dunia start up adalah orang dari Sumbar.

“Ke depannya bisnis melalui online akan tumbuh pesat, karena lebih memudahkan konsumen, harganya pun lebih bersaing. Seperti Traveloka dibanding biro konvensional harganya pun lebih murah dan ada inovasi seperti diskon. Selain itu masyarakat sudah mulai melek terhadap internet,” katanya.

Selain itu dari segi waktu secara efesiensi, aksesnya langsung, cepat sehingga tidak memerlukan waktu. “Dalam dunia usaha sangat menguntungkan hargapun lebih bersaing,” katanya.

Mudah-mudahan pelaku start up atau bisnis-bisnis online bagus dan mungkin akan banyak pilihan. Tetapi harus diperhatikan kepada pamakai jasa itu harus berhati-hati dan mencari bisnis online yang bisa di percaya pertanggung jawabannya atau kridibelnya.

“Harus selektif, hati-hati dan lebih banyak menggali informasi contohnya jika transaksi disalah satu situs online harus di cek dulu,” tukasnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co