Jumat, 21 July 2017, 09:58:36 WIB

Potensi Sapi Perah Belum Digarap Maksimal

26 December 2016 10:59 WIB - Sumber : Yuwardi - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 50 kali

Selain sentra perindustrian pengolahan kulit, Kota Padangpanjang juga dikenal sebagai salah satu daerah pilot project pengembangan peternakan sapi perah.

Pengamat pemerintahan di Padangpanjang, Masri Edwar menyebut program pengembangan sapi perah sangat potensial. Apa lagi hal tersebut saat ini para peternak sudah mengantongi sertifikat International Organization for Standardization (ISO). 

Potensi besar semestinya mampu memberikan peluang kesejahteraan terhadap para peternak terhadap kuantitas dan kualitas susu murni yang dihasilkan.

Namun Masri menyesalkan, kebijakan dan program pemerintah tidak teroganisir dengan baik lintas instansi. Alhasil pengembangan potensi sapi perah yang menjadikan Padangpanjang sebagai salah satu daerah penghasil susu sapi murni dan olahan, masih sebatas prestise.

Kondisi ini dikatakannya akibat tidak adanya dukungan dan perhatian yang maksimal dari pemerintahan terhadap kebutuhan para petani ternak sapi perah tersebut.

Dia mengetahui petani susu sapi perah yang tergabung di sejumlah kelompok tani (Keltan) mengeluhkan kerugian yang dialami ketika musim hujan. Hal ini diakibatkan ketiadaan alat yang mampu menjadikan susu sapi murni bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

“Seperti yang juga saya pernah dengar, para petani susu sapi murni sangat bersemagat untuk mengembangkan dan meningkatkan kuantitas produksi. Namun dengan kerugian yang sampai puluhan juta sebulan karena rendahnya permintaan setiap musim hujan, mereka jadi kecut. Dan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dengan sistem jemput untuk mengetahui kebutuhan para pelaku IKM. Jangan diabaikan,” ujarnya tegas.

Kepala Dinas Koperasi Industri Perdagangan (Diskoperindag) dan UMK Padangpanjang, Arpan mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima usulan proposal terkait kebutuhan para pelaku IKM bidang peternakan sapi perah.

Khususnya pelaku usaha susu sapi perah, dinilai hanya persoalan klasik ketika produksi meningkat akan menyebabkan menurunnya permintaan.

“Pemerintah tentunya akan membantu apa yang dibutuhkan mereka. Sejak lama kami juga sudah mengumpulkan para peternak sapi perah terkait kendala yang dihadapi, namun tidak ada yang menyampaikan kebutuhan mereka,” jawab Arpan.

Sementara salah seorang petani susu sapi perah murni di Kampung Manggis, Mul, 38, mengaku akan beralih profesi jika kondisi usaha susu murni sapi perah tidak memberikan dampak terhadap kesejahteraan.

Bahkan dirinya berniat menjual sapi untuk menutupi kebutuhan sapi-sapi lainnya akibat kerugian ratusan liter perhari saat musim hujan beberapa waktu belakangan.

“Kerugiannya tidak kecil, bisa puluhan juga dalam sebulan belakangan dengan nilai susu murni Rp10 ribu dikalikan seratus liter saja dalam sehari. Mungkin bagi kami nantinya, akan terjadi “sapi makan sapi” karena tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pakan sapi. Satu persatu akan dijual untuk dibelikan kebutuhan pakan sapi sampai nantinya saya sendiri akan beralih mencari profesi lainnya,” beber Mul. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co