Sabtu, 24 June 2017, 15:53:11 WIB

Geliat Kampung Wisata Kubugadang, Padangpanjang

28 December 2016 09:37 WIB - Sumber : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 49 kali

Wisatawan Disuguhi Silek Lanyah dan Pacu Upiah 

Jika dilihat sekilas, Kampung Kubugadang di Kelurahan Ekorlubuk, Kecamatan Padangpanjang Timur, biasa-biasa saja. Sama seperti kampung-kampung lainnya, di Kubugadang ada hamparan sawah, sekolah, dan rumah penduduk.

Namun, budaya panen padi bergotong-royong (baronde), silek lanyah, pacu upiah dan kebudayaan lainnya membuat kampung itu go international.

Alunan suara sarunai, bansi, dan talempong memecah keheningan Kampung Kubugadang, Kelurahan Ekorlubuk, Kecamatan Padangpanjang Timur, Kota Padangpanjang. Bunyi bansi itu kemudian diikuti suara gendang yang dimainkan beberapa anak kecil di tepi sawah.

Sementara, di tengah sawah, dua pemuda memakai baju galembong berwarna hitam dan ikat kepala terlihat saling memberi hormat dan langsung diiringi dengan penghormatan kepada penonton.

Tak lama kemudian, mereka saling menatap tajam dan memasang kuda-kuda khas silat Minangkabau, yaitu membuka langkah dan gelek. Keduanya adalah pesilat di Kampung Wisata Kubugadang yang memperagakan bagaimana dua orang saling serang dan bertahan dalam perkelahian di lumpur sawah.

Silat ini dikenal dengan nama silek lanyah karena keduanya bersilat di dalam lumpur. Silat ini hanya ada di Kampung Wisata Kubugadang. Kemudian, keduanya memperagakan berbagai gerakan silat khas Minangkabau.

Setelah gelek, mereka membuka langkah ka muko dan langkah suruik, yaitu langkah maju dan langkah mundur untuk mengubah posisi tubuh. Lalu keduanya saling sapu, saling terjang hingga menggunting lawan. 

Tak jarang pula keduanya saling banting saat para pesilat mendarat, dan lumpur yang jadi landasannya pun akan beterbangan. Tak jarang sang pesilat harus mengelap muka dengan tapak tangan karena wajahnya sudah basah oleh air atau lumpur. 

Setelah memperagakan saling serang dengan senjata tajam, keduanya mengakhiri penampilan dengan kembali saling hormat dan memberi hormat pada penonton. Biasanya, hal itu akan diiringi decak kagum dan tepuk tangan penonton.

Hal itu adalah salah satu peragaan kebudayaan yang ada di Kampung Kubugadang yang sejak tahun 2015 sudah resmi menjadi kampung wisata. Silek lanyah pula yang menjadi pembeda antara kampung wisata di Kubugadang dengan beberapa kampung wisata lainnya yang ada di Padangpanjang.

Sejatinya, silek lanyah bukanlah silek asli masyarakat setempat. Di kampung itu, silat aslinya adalah silek tuo. Nah, pada silek tuo ini ada satu tradisi di mana untuk menguji kemampuan para pesilat, maka guru meminta mereka bersilat di dalam lumpur. 

“Dulu lanyah (lumpur) itu diangkat dari sawah dan dibawa ke sasaran (sasana) silat. Nah, para murid silat yang senior akan berlaga di sasaran yang sudah berlumpur itu. Sekarang, itu kami modifikasi. Pesilat kami latih untuk bersilat di sawah sebenarnya,” ujar Jufriadi Dt Sati, penasehat Kampung Wisata Kubugadang yang juga pernah mengajar silat di kampung itu.

Menurut pria yang sehari-hari jadi guru ini, ide tersebut muncul dalam perbincangan memajukan wisata di Kampung Kubugadang yang sudah ditetapkan jadi kampung wisata oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Porbudpar) Kota Padangpanjang.

Apalagi kampung itu memiliki potensi sawah yang luas sehingga diputuskanlah mereka menampilkan silat di sawah yang baru dipanen dan kemudian dikenal dengan silek lanyah.

Meski begitu, itu bukanlah satu-satunya kebudayaan yang menjadi andalan mereka dalam menyambut wisatawan. Mereka juga menampilkan pacu upiah, yaitu pelepah pinang yang diikat dengan tali dan ditarik anak-anak di tengah sawah.

Selain itu, main bola dalam sawah (main bola lanyah), gotong-royong dalam menanam padi dan menanam padi yang biasa disebut baronde juga sering menjadi hal yang menarik bagi wisatawan.

“Saat ini ada 12 pesilat yang sudah siap untuk tampil. Yang paling kecil masih TK, yang paling besar kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang,” jelasnya.

Yuliza, salah seorang pengelola Kampung Wisata Kubugadang menceritakan, untuk wisatawan yang datang, selain atraksi mereka juga membuka paket-paket lainnya. Di antaranya, belajar tarian daerah, belajar memasak rendang, memainkan alat musik daerah dan kebudayaan lainnya. 

“Di sini kami juga punya paket makan baradaik, yaitu makan sesuai dengan aturan adat. Sebelum makan, ada pepatah petitih, sambah manyambah. Wisatawannya, juga kita pakaikan pakaian adat, bahkan mereka yang jadi marapulai dan anak daro. Prosesinya dilakukan di rumah gadang,” ulas mahasiswa Magister Managemen UNP ini. 

Dia menceritakan, terkenalnya Kubugadang sebagai kampung wisata diraih dengan perjuangan seluruh masyarakat dan upaya pemuda serta ninik mamak meyakinkan Disporbudpar Padangpanjang. Sebab, jika dilihat potensi alam, Kubugadang hampir tidak ada bedanya dengan kampung-kampung lainnya. 

Ide untuk menjadikan Kubugadang sebagai kampung wisata menurutnya muncul setelah tiga orang pemuda setempat mengikuti pelatihan yang diadakan Disporbudpar.

Saat itu, salah seorang pematerinya adalah perintis Kampung Wisata Sanjai. Kemudian, sehabis pelatihan para peserta dibawa ke Kampung Wisata Rantih di Kota Sawahlunto.

Setelah pelatihan, Yuliza dan kawan-kawannya bertekad menjadikan kampung mereka sebagai kampung wisata. Meski potensi alam pas-pasan, namun kebudayaan Minang yang masih terjaga di kampung itu, membuat mereka yakin akan jadi salah satu tujuan wisata yang bisa bersaing.

Setelah mengurus perizinan, ternyata usaha ninik mamak dan pemuda Kubugadang tak sia-sia. Wisatawan mulai berdatangan. Tidak hanya wisatawan lokal, namun juga wisatawan mancanegara.  

Sejak menjadi kampung wisata, efek paling dirasakan masyarakat menurut Yuliza adalah peningkatan perekonomian. Jika ada tamu, rumah-rumah warga disulap menjadi home stay. Masyarakat yang terlibat dalam atraksi mendapatkan honor, begitu pula dengan ibu-ibu yang memasak. 

“Kalau ada silek lanyah, orang kampung juga banyak yang menonton, dan biasanya akan banyak orang yang berjualan di sana,” jelas Yuliza.

Di sisi lain, sejak sering dikunjungi wisatawan, program pemerintah juga sudah banyak diarahkan ke Kubugadang. Jika ada pelatihan-pelatihan, akan diminta utusan dari Kubugadang. 

Saat ini, untuk mengelola Kampung Wisata Kubugadang, menurut Yuliza semua elemen masyarakat saling bahu membahu. Namun, mereka masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang bisa berbahasa asing.

“Saat ini ada tiga orang mahasiswa Bahasa Inggris asal Kubugadang. Jika ada tamu dari luar negeri, kami minta mereka pulang dan menjadi guide. Selain itu ada beberapa orang adik-adik yang sudah belajar di Kampung Inggris yang terus dilatih keterampilannya berbahasa asing,” ulas perempuan yang mendapatkan gelar sarjana dari IAIN (STAIN) Batusangkar ini.

Menurut dia, anak-anak Kubugadang kini juga menjadi lebih percaya diri dan semangat belajar. Mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan orang luar. 

Ke depan untuk memajukan Kampung Wisata itu, mereka terus melakukan berbagai terobosan. Selain mengikuti berbagai pelatihan dari pakar wisata, mereka juga mengembangkan diri. “Kami sedang mempersiapkan tari lanyah. Pelatihnya sudah ada, anak-anak sudah siap untuk dilatih,” jelasnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co