Jumat, 24 February 2017, 08:21:52 WIB

Mesjid Rao Rao, Tanah Datar 1924

30 December 2016 09:30 WIB - Sumber : - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 7619 kali

Menjelang Idul Fitri 1436 Hijriyah ini, rubrik Minang saisuak ingin menukilkan sedikit sejarah sebuah mesjid yang ada di darek: Mesjid Rao Rao di Kabupaten Tanah Datar. Mesjid masih berdiri megah sampai sekarang. Walau arsitektur kubah utama (kubah besar) dan kubah-kubah menaranya masih tetap dipertahankan seperti semula, karena uniknya, bagian lain dari mesjid itu mungkin sudah ada yang diubah. Tampilan baru Mesjid Rao Rao dapat dilihat di: https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Rao_Rao#Sejarah. Kubah utamanya merupakan perpaduan corak Persia dan arsitektur Minangkabau. 

Foto klasik mesjid ini yang kami turunkan di sini tentu dapat menjadi perbandingan, khususnya bagi warga Rao Rao sendiri, untuk melihat sejauh mana secara keseluruhan arsitektur mesjid ini telah berubah dalam rentang waktu lebih dari 100 tahun sejak mesjid ini didirikan pada dekade pertama abad ke-20. Foto ini dibuat sekitar 1924, jadi sekitar 15 tahun setelah mesjid ini didirikan. Menurut wikipedia yang dirujuk di atas, dengan mengacu kepada beberapa buku yang mengkaji sejarah dan arsitektur mesjid ini dan mesjid-mesjid di Minangkabau pada umumnya, disebutkan bahwa “sejak berdirinya, masjid ini sempat mengalami kerusakan yang cukup berarti akibat gempa, seperti pada tahun 1926 dan terakhir 2009. Namun sejak dibangun, masjid ini belum pernah dipugar secara besar-besaran. Renovasi yang pernah dilakukan hanya berupa pelurusan menara yang miring pada tahun 1975 dan penggantian seluruh keramik lama dengan yang baru sekitar tahun 1990-an.” 

Selanjutnya disebutkan bahwa mesjid ini “mulai dibangun pada tahun 1908, sebagai pengganti Masjid Atap Ijuk di Rao Rao yang dibongkar karena kondisi bangunannya sudah tidak layak.” Mesjid ini dibangun di tanah wakaf H. Mohammad Thaib Caniago. Pembangunannya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Rao Rao. Teks yang menyertai foto ini menyebutkan: “MESDJID RAO-RAO, ONDERAFDEELING BATOESANGKAR (SOEMATERA BARAT). Ongkos memboeat mesdjid itoe lebih dari f40.000, jaïtoe oeang joeran Moeslimin di Rao-rao.” Jadi, mesjid ini adalah lambang bersatu padu dansaiyo–sakato-nya warga Nagari Rao Rao di zaman saisuak. Wikipedia yang dirujuk di atas juga menyebutkan bahwa pembangunan mesjid ini atas prakarsa Abdurrachman Datuk Majo Indo. Pada akhir tahun 1918, pembangunan masjid ini dapat diselesaikan.

Demikian sedikit tambahan informasi historis tentang Mesjid Rao Rao. Pada lebaran tahun ini, mesjid ini tentu akan dipenuhi lagi oleh warga Rao Rao, juga para perantaunya yang pulang kampung, yang melaksanakan shalat Idul Fitri.

*Suryadi – Dr Suryadi merupakan pengajar di negeri Belanda yang berasal dari Sumatera Barat. Tulisan beliau sering dimuat di Padang Ekspres dan media lainnya di Sumbar dan Indonesia. Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 8, Tahoen II, 21 Februari 1924: 151.

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co