Kamis, 19 January 2017, 21:57:56 WIB

Gergaji Jeruji, 3 Napi Kabur

30 December 2016 10:55 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 67 kali

Pengamanan lembaga pemasyarakatan (LP) di Sumbar kembali bobol. Rabu malam (28/12), tiga narapidana kabur dari LP Kelas IIB Laing, Solok ketika warga binaan lainnya sedang Shalat Magbrib berjamaah. 

Hingga berita ini diturunkan tadi malam, ketiga napi itu belum ditemukan. Puluhan petugas dikerahkan melakukan pencarian. Ketiga napi itu Irwanto (napi kasus pembunuhan dan perampokan dengan masa hukuman 20 tahun), dan telah menjalani masa pembinaan sekitar 4 tahun. 

Oktarezo, napi kasus pembunuhan yang menjalani masa tahanan 20 tahun, dan telah menjalani pembinaan kurang lebih 2 tahun. Ahmad Efendi, napi kasus penggelapan dengan masa binaan 2 tahun, dan telah menjalani masa binaan 9 bulan.

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, ketiga napi itu kabur saat saat penghuni LP sedang menunaikan shalat berjamaah di masjid kompleks LP. Sehabis magrib, seperti biasa, sipir melakukan pengecekan dan pendataan pada warga binaan.

Ketika itulah diketahui ketiga napi tersebut tidak berada di sel. Pintu tahanan dibobol dengan cara digergaji. Petugas kelabakan melakukan pencarian, seraya berkoordinasi dengan Polres Solok Kota. 

“Kita sudah minta Polres Solok Kota membantu pencarian. Informasinya, keberadaan mereka mulai terendus,” kata Kepala LP Laing, Yandi Suyandi, Kamis (29/12) sore.

Ketiga napi itu mengelabui petugas dengan berpura-pura tidak ikut Shalat Magrib berjamaah di masjid dengan alasan sakit. “Ini baru sebatas dugaan sementara. Bisa jadi ada motif lain. Untuk pastinya, kita serahkan polisi,” ucapnya. 

Kasat Reskrim Iptu Joni Isnandar ketika ditemui tidak berada di kantor. “Komandan masih di lapangan melakukan pencarian napi yang kabur,” kata salah seorang anggotanya. 

Halangi Proses Hukum

Sementara itu, kasus penganiayaan napi di LP Muaro Padang sedang diselidiki Kanwil Hukum dan HAM Sumbar. MR, korban penganiayaan, telah divisum di Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kamis (29/12), sekitar pukul 13.00. 

Pihak LP sempat menghalang-halangi proses visum dengan mengulur waktu pemanggilan korban untuk dibawa tim kepolisian ke RS Bhayangkara. Kepala Pengamanan LP Muaro, Rio M Sitorus awalnya tidak memperkenankan tim kuasa hukum menemui korban.

“Kan sudah ada perwakilan Polda, pengacara silakan tunggu di luar,” katanya. Setelah berdebat hampir 2 jam, tim kuasa hukum akhirnya diizinkan masuk menemui korban.

“Korban masih tertekan dan sulit bicara. Ada salah seorang oknum petugas LP kemarin malam setelah kami pergi, menekan korban agar mencabut pengaduan,” kata Wendra Rona Putra, kuasa hukum MR dari LBH Padang kemarin.

Dari hasil visum, Wendra mengungkapkan, terdapat luka-luka lebam dan memar di sekujur tubuh MR. “Pengakuan korban, dia dipukul dengan balok, pemukul lonceng dan alat setrum,” ungkap Wendra.

LBH Padang meminta Kanwil Kemenkum HAM Sumbar mengusut dugaan keterlibatan oknum sipir dan pimpinan LP yang menghalangi proses hukum. “Korban juga minta dipindahkan dari LP Muaro, bisa saja ke Rutan di Aiedingin Padang,” tambahnya.

Direktur LBH Padang, Era Purnama Sari telah menemui Kepala Kanwil Kemenkum HAM Sumbar, Ansaruddin kemarin. Era secara resmi mengajukan permohonan pemindahan  korban agar dititipkan di tahanan Polda.

“Masa jabatan Pak Ansaruddin akan berakhir 31 Desember ini. Karena itu, LBH Padang mendesak Kakanwil mengambil langkah nyata,” kata Era.

Ansaruddin menyatakan telah memerintahkan anggotanya mengusut dugaan penganiayaan terhadap MR di LP Muaro Padang. “Dari informasi yang saya terima, hanya teman-teman sesama warga binaan yang melakukan kekerasan, sipir tidak terlibat. Namun begitu, masih dalam proses,” ujarnya.

Humas Kakanwil Kemenkum HAM Sumbar, Boby Sectio Wahyudi menambahkan, sejumlah napi dan sipir telah diperiksa. “Petugas masih memeriksa dua orang warga binaan. Kalau memang terbukti, diberi sanksi,” katanya. 

Diberitakan sebelumnya, Rabu (28/12), keluarga korban didampingi LBH Padang melapor ke Polda Sumbar.  MR diduga disiksa sipir LP dan sesama napi menggunakan besi pemukul lonceng, kayu dan setrum. 

“Korban juga disuruh meminum air kencing napi. Psikologis korban yang diketahui terpidana kasus penggelapan dengan vonis 1 tahun 10 bulan penjara pada 5 Desember 2016 itu, dilanda ketakutan mendalam,” ucap Wendra.

Wendra menduga MR dipukul setiap malam dan diketahui pertama kali tanggal 19 Desember 2016. “Penyiksaan diduga akibat korban memiliki utang makan sebesar Rp 500 ribu di LP yang dikelola oknum sipir,” jelas Wendra. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co