Sabtu, 29 April 2017, 12:38:10 WIB

Tingkat Kesehatan Masyarakat Rendah

02 January 2017 10:31 WIB - Sumber : Riki Chandra - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 35 kali

Tingkat kesehatan dan kebersihan masyarakat di Kabupaten Solok dinilai masih rendah. Hingga akhir tahun 2016, peringkat kesehatan masyarakat secara umum berada di posisi 17 dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Solok, Sri Efianti, di ruang kerjanya usai dilantik menjadi kepala dinas baru, Jumat (30/12) lalu.

”Indikator kesehatan yang dinilai dan dipantau nasional, di antaranya masalah kesehatan anak, ibu, gizi, termasuk pelayanan kesehatan dari pos kesehatan nagari (poskesri) hingga tingkat RSUD,” ujarnya.

Dijelaskannya, hasil penilaian itu mengungkapkan kebersihan di lingkungan masyarakat masih rendah. Seperti dalam pengelolaan air bersih, MCK, jamban dan sampah.

Atas dasar itu, fokus kerja Dinkes lima tahun mendatang adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama kebersihan lingkungan. ”Membahas lingkungan, tidak saja soal ketersedian MCK dan air bersih semata. Namun, juga pengelolaan sampah,” ucapnya.

Di samping itu, cakupan imunisasi di Kabupaten Solok masih terbilang rendah. Ditambah lagi, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di masih cukup tinggi. 

Dinkes telah menempatkan bidan pada 273 poskersi aktif di setiap nagari dengan 163 bidan. Namun, jumlah tersebut masih belum memadai. Idealnya untuk masing-masing jorong memilik 1 orang bidan.

“Kita punya 414 jorong, seharusnya jumlah bidan juga sebanyak itu. Paling tidak, 1 orang bidan menangani 1.000 jiwa. Tapi, sampai hari ini, kita masih kekurangan tenaga bidan,” bebernya.

Pihaknya meminta seluruh bidan di masing-masing wilayah kerja untuk optimal memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, melaporkan langsung gejala-gejala penyakit yang tengah mewabah di suatu daerah.

“Kalau tidak dilaporkan ke Dinkes, bagaimana kita bisa mengatasinya dengan cepat. Bidan-bidan ini sudah diberi pelatihan dalam setiap aspek kerja. Namun, realisasinya belum begitu terlihat. Dan, ini sudah saya tekankan sejak pertama menjabat,” tegasnya seraya berjanji menegakkan disiplin di bidang layanan kesehatan mulai 2017.

Pengawasan Depot Air

Di sisi lain, Sri Efianti menilai perlu banyak peraturan tentang kesehatan. Mulai dari perilaku hidup bersih hingga pengawasan kualitas air. Hal itu mencuat dari beberapa laporan masyarakat terkait kualitas depot air.

Ratusan depot air mesti diperiksa rutin, minimal sekali dalam sebulan. “Kalau depotnya tidak bersih, berkuman, tentu berujung pada kesehatan masyarakat banyak. Bahkan, menimbulkan kanker,” ujarnya. 

Namun, dia mengaku belum memvalidasi jumlah depot air di Kabupaten Solok. Dia akan mengoptimalkan pemeriksaan kebersihan depot melibatkan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

“Ini menjadi tanggung jawab Dinkes, bukan sekadar mengimbau dan memberikan pengertian kepada pemilik depot. Lebih dari itu, mesti dilakukan pemeriksaan rutin,” sebutnya.

Tak hanya itu, pihaknya mengaku juga telah merancang pembentukan tim pengawas depot air minum sheingga aktivitas depot dapat dipantau setiap saat. “Selama ini, tidak ada pengawasan terhadap aktivitas depot di Kabupaten Solok,” tuturnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co