Rabu, 22 February 2017, 01:46:17 WIB

Agile Banking

02 January 2017 11:17 WIB - Sumber : Rhenald Kasali - Guru Besar Fakultas Ekonomi UI - Editor : Riyon    Dibaca : 3939 kali

Beberapa tahun lalu kita masih sering membaca berita tentang pembukaan kantor cabang bank. Sekarang? Nyaris tak terdengar lagi. Iya, membuka kantor cabang—secara fisik, ada gedung dan karyawannya—kini tidak trendi lagi.

Mungkin itulah jawaban dari ucapan Bill Gates bahwa masyarakat modern kelak akan hanya perlu sistem perbankannya, sedangkan kantor banknya tak harus bangunan. Lagi pula, pekerjaan yang paling banyak hilang adalah teller bank. Hendaknya para teller mulai mempersiapkan keterampilan baru.

Apalagi, nasabah sekarang semakin pintar. Mereka tahu, pada akhirnya semua biaya untuk kantor cabang tersebut akan dikonversi menjadi tanggungan nasabah juga. Suku bunga kredit menjadi lebih mahal, sementara suku bunga tabungan atau deposito ditekan serendah mungkin.

Jadi, pembukaan kantor cabang tidak perlu lagi. Sekarang era branchless banking. Bank boleh hadir di mana-mana, tapi tak usah berupa fisik. Bahkan, lebih dari itu, sekaranglah era agile banking. Apa itu?

Saya pakai definisi yang simpel saja. Bank mesti terus memperbesar pangsa pasarnya. Itu harus. Sebab, bank adalah institusi bisnis. Namun, caranya tak bisa lagi seperti dulu. Selain harus memperbesar pangsa pasarnya, bank juga dituntut untuk terus menekan biaya operasional. Inilah era agile banking. Bagaimana caranya? 

Ada lima ciri yang mewarnai. Pertama, konsumen harus menjadi nomor satu. Jadi, bank harus berfokus pada apa yang menjadi kebutuhan customer, harus paham apa yang menjadi kepedihan dan keinginan konsumen.

Kedua, bank harus mendesain sedemikian rupa agar sistemnya, mata rantai, dan jaringan distribusinya tidak kompleks. Bahkan harus jauh lebih sederhana.
Ketiga, perbankan juga harus mengubah sebanyak mungkin biaya-biaya tetapnya (fixed cost) menjadi biaya variabel (variable cost). Biaya tetap yang terlalu tinggi hanya akan membebani bank dan akhirnya menjadi tanggungan nasabah juga.

Keempat, bank harus menjadi semakin fleksibel—meski tanpa harus mengorbankan prinsip kehati-hatian. Jadi, dituntut adaptif, menyesuaikan diri dan lebih cepat mengambil keputusan.

Kelima, bank yang agile harus mampu memanfaatkan kanal-kanalnya, baik yang tradisional maupun digital. Itu dilakukan untuk terus memperbesar pangsa pasarnya. Rumit? Kelihatannya begitu. Memang seperti itulah tuntutan bisnis di era modern. Nasabah maunya serbalebih. Di sisi lain, persaingan semakin sengit.

Begitulah, bisnis memang tidak pernah menjadi semakin mudah. Itu sebabnya setiap institusi bisnis dituntut untuk menjadi semakin agile, semakin tangkas dalam merespons setiap perubahan. Supaya punya bayangan seperti apa kira-kira agile banking, kita angkat case tentang PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), yang kini usianya sudah 121 tahun.

Anda tahu, BRI saat ini memiliki lebih dari 59 juta nasabah. Artinya, hampir 25 persen dari seluruh penduduk negeri ini menjadi nasabah bank BUMN tersebut.
Lalu, ini yang “merepotkan”, sebagian besar di antaranya adalah pengusaha skala UMKM atau usaha mikro, kecil, dan menengah. Persentasenya mencapai 72,4 persen. Selebihnya, kredit BRI disalurkan ke pengusaha besar atau korporasi (13,5 persen) dan sesama BUMN (14,1 persen).

Dengan jumlah nasabah sebanyak itu, apalagi sebagian besar berada di pedesaan, di pelosok, termasuk pulau-pulau terluar negeri ini, tak mungkin BRI bisa menjadi agile bank kalau hanya mengandalkan kanal-kanal distribusi tradisional. Misalnya, dengan membuka banyak cabang serta merekrut ratusan dan mungkin ribuan pegawai. Ongkosnya sangat mahal dan tidak menyelesaikan masalah, baik di masa kini dan terlebih lagi di masa mendatang.

Captive Market

Apa yang dilakukan BRI untuk menjadi agile bank? Saya lihat, langkah pertama adalah investasi satelit. Memang mahal, tetapi itu investasi amat logis. Hitung-hitungannya begini. 

BRI membeli satelit, BRIsat, seharga Rp 2,5 triliun dengan pembayaran dicicil selama delapan tahun. Untuk itu, setiap tahun BRI mesti membayar cicilan sekitar Rp 400 miliar. Angka itu masih lebih murah ketimbang BRI menyewa jaringan telekomunikasi konvensional yang mencapai Rp 500 miliar per tahun. Apalagi, umur satelit itu mencapai 17 tahun dan bisa diperpanjang hingga 19 tahun.

Dengan BRIsat, BRI bisa memperluas pangsa pasar hingga daerah-daerah terpencil—yang selama ini tak bisa diakses jaringan telekomunikasi konvensional tersebut. Bagaimana caranya? Bukan dengan membuka kantor-kantor cabang atau merekrut karyawan baru, melainkan justru dengan memberdayakan nasabah, yang sebagian besar di antaranya merupakan pengusaha UMKM di daerah tersebut. Jadi, BRI merekrut mereka sebagai agen-agennya.

Untuk para agennya, BRI melengkapi mereka dengan sejumlah produk berbasis teknologi yang terkoneksi dengan BRIsat. Misalnya, mesin EDC atau ATM mini. Maka, begitulah, sambil terus mengelola bisnisnya, agen-agen itu dapat menjual produk-produk dan layanan BRI. Mulai tabungan, tarik tunai, hingga kredit skala mikro.

Kini, berkat teknologi tersebut, BRI tidak hanya berhasil memperluas pangsa pasar, terutama UMKM, tetapi juga mampu menekan biaya operasional sekaligus memiliki captive market. Itu terjadi karena customer-nya sulit sekali direbut oleh bank-bank lain, yakni masyarakat yang berada di pelosok, pedalaman, dan pulau-pulau terluar. Begitulah kalau bank sudah sangat tangkas dalam berbisnis.

Meski ini soal bank, saya yakin ini juga penting untuk Anda pikirkan dalam bisnis Anda di luar bank. Ingat, tahun 2017 persaingan dunia usaha telah berubah. Semua bisnis incumbents akan menghadapi lawan-lawan yang tak kelihatan. Itu adalah topik buku baru saya yang sedang ditulis untuk Februari yang akan datang. Semoga Anda bersabar. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co