Senin, 27 February 2017, 04:30:22 WIB

Para Petinggi PRRI di Padang 1958

03 January 2017 09:27 WIB - Sumber : - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 7466 kali

Peristiwa itu telah lama berlalu, sudah lebih dari 50 tahun. Sudah banyak pula risalah historis yang ditulis orang tentangnya, seperti buku Audrey Kahin, Rebellion to integration: West Sumantra and the Indonesian polity, 1926-1998 (1999) dan Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Ahmad Husein: Perlawanan seorang pejuang (2001). Itulah peristiwa PRRI (1958-1961), yang telah menaburkan pilu dan darah di Ranah Minang. Yang tersisa dari peristiwa itu hanyalah keperihan yang mendalam. Di tataran rakyat berderai, kata ‘tantarapusek‘ dengan segala kenangan tentang kekejamannya, tetap tinggal membenam dalam memori kolektif sukubangsa Minangkabau. 

Dalam wacana akademis, para sarjana masih berdebat tentang apakah PRRI adalah aksi makar atau koreksi terhadap Pemerintahan Pusat (Sukarno)? Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan kodak para pemimpin PRRI, sebuah ‘pemberontakan setengah hati’, meminjam istilah Barbara Sillars Harvey (1984), yang telah membuat masyarakat Minangkabau tercabik-cabik. Lihatlah! Mereka kelihatan begitu jombang dengan pantalon sipil dan militer mereka yang necis. Foto ini dibuat di Padang oleh seorang wartawan asing bernama James Burke pada Maret 1958. 

Terlihat berdiri di latar depan Kolonel Dahlan Djambek (Menteri Pos dan Telekomunikasi PRRI), Burhanuddin Harahap, Letnan Kolonel Ahmad Husein (dua pimpinan yang memimpin Dewan Revolusi PRRI), Sjafruddin Prawiranegara (Perdana Menteri PRRI), Maludin Simbolon (Menteri Luar Negeri PRRI), dan Mohammad Sjafei (baju putih; Menteri PP&K dan Kesehatan PRRI). Mereka berkumpul di Padang dalam untuk mendeklarasikan PRRI. Pertemuan akbar, tapi awal dari sebuah kisah sedih kolektif ini, ditutup dengan doa seorang ulama (yang juga diabadikan oleh Burke). 

Akan tetapi ternyata Tuhan membiarkan moncong-moncong karaben dan tumit-tumit sepatu lars pasukan Soekarno meremukkan tulang iga kaum lelaki Minangkabau, sementara kaum wanitanya hidup dalam gigil dan igau. Dalam tatatan simbolik, PRRI adalah demintefikasi terhadap mitos adu kerbau yang sering disebut-sebut menjadi dasar nama etnis Minangkabau. Dalam cerita itu kerbau jantan Jawa yang gedang dan bertanduk panjang sedepa itu rebah berdebam dengan usus terburai oleh anak kerbau anyir milik orang Minangkabau. Kekuatan otak mengalahkan kekuatan fisik. Karena kekalahan itu, Jawa undur menjajah Minangkabau.

Akan tetapi peristiwa PRRI telah meruntuhkan mitos itu. Tak lama setelah para lelaki parlente dalam foto di atas mendeklarasikan PRRI, Presiden Soekarno mengirim mesiu, mitraliur, bom, dan Yani beserta anak buahnya yang sudah digosok ketiak mereka dengan Tarason ke Sumatera Barat. Tentara Jawa merangsek ke darek tanpa tertahankan, membunuhi para lelaki Minangkabau, membuat banyak lelaki lainnya ijok ke hutan-hutan, dan mempelasah para wanitanya. Sampai lama kemudian, gigil ketakutan, walau makin sayup, masih menglair dalam sel-sel otak dan darah orang Minangkabau.

*Suryadi – Dr Suryadi merupakan pengajar di negeri Belanda yang berasal dari Sumatera Barat. Tulisan beliau sering dimuat di Padang Ekspres dan media lainnya di Sumbar dan Indonesia. (Sumber foto:Time Life (melalui: http://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.nl/2013/04/ pimpinan-prri-di-padang-1958.html)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co