Rabu, 29 March 2017, 02:35:49 WIB

Penghulu Kurai Limo Jorong 1938

04 January 2017 09:33 WIB - Sumber : - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 10623 kali

Mungkin tak banyak orang yang berpikir untuk menulis sejarah sebuah nagari. Kalau diinap dimenungkan, bukankah nagari-nagari di Minangkabau adalah ‘republik-republik kecil’, yang lengkap dengan institusi pemerintahannya, beserta golongan elit (penghulu) dan rakyatnya yang independen. Akan tetapi banyak warga nagari di Minangkabau tidak tahu sejarah nagari mereka masing-masing. Walau zaman modern telah memungkinkan segala sesuatunya dapat dicatat dengan mudah, pada umumnya arsip-arsip tentang nagari-nagari di Minangkabau sering tidak lengkap dan tidak dikelola dengan baik. Pemerintahan di level atas (Camat, Bupati, Gubernur) juga tak begitu peduli dengan sejarah nagari-nagari. 

Ini berbeda dengan di Zaman Kolonial, di mana Tuan Controleur di level yang paling bawah selalu rajin mencatat aset-aset (benda, budaya) dan berbagai berbagai peristiwa yang terjadi di tingkat desa/nagari, untuk kemudian dilaporkan ke Asisten Residen, lalu ke Residen, kemudian ke Gubernur Jenderal di Batavia Semua laporan itu diarsipkan dan disimpan dengan baik sampai sekarang. Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto para penghulu Nagari Kurai Limo Jorong, Bukittinggi sekedar untuk mengingatkan penduduk nagari-nagari di Minangkabau, masyarakat Kurai Limo Jorong khususnya, tentang pentingnya memelihara dokumen-dokumen (tertulis dan visual) tentangnagari masing-masing. Foto ini diambil sekitar 1938, dan disimpan di rumah anak Datuak Bandaro di Pintu Kabun, Kurai Limo Jorong. ‘Penghoeloe Koerai’, demikian tampak tertulis dalam foto ini, dii latar belakang, masih dalam Ejaan Van Ophuijsen. 

Deni Chalid yang memostingkan foto ini di laman Facebook group Palanta Urang Awak Minangkabau(diakses 14-2-2015) menjelaskan para penghulu sakato kaum Nagari Kurai Limo Jorong yang terekam dalam foto klasik ini. Mereka adalah (dari kiri ke kanan): 1) Datuak Rajo Endah, ‘urang nan babingkah tanah di Bonjo Baru’; 2) Datuak Rajo Mantari, ‘urang nan babingkah tanah di Guguak Panjang’; 3) Datuak Yang Pituan [suku] Pisang, ‘urang nan batabuah larangan, nan manyaru panghulu sarato niniak mamak ka balai adat’; 4) Datuak Bandaro urang Guci, ‘pusek jalo pumpunan ikan, mamacik kato nan bulek, puro nan taguah’; 5) Lutan Datuak Sati urang Sikumbang, ‘nan babingkah tanah di Mandiangin, baulayaik di Padang Puhun, bapadi sakapuak ampo, baameh sapuro lancuang, bakabau saribu jalang’; dan 6) Datuak Pangulu Sati urang Tanjuang, ‘pamikia dan perencana pemerintahan adat’.

Mungkin banyak dokumen visual tentang penghulu yang masih disimpan oleh keluarga-keluarga penghulu di nagari masing-masing. Tentu itu merupakan dokumen sejarah yang penting. DalamWikipedia ba[baha]so Minang sudah ditemukan deskripsi beberapa nagari di Minangkabau, tapi kebanyakan masih miskin informasi hostoris dan budaya. Mudah-mudahan semakin lama semakin banyak tersedia di internet informasi tentang sejarah dan aspek-aspek geografis dan budaya nagari–nagari di Minangkabau. Kalau Pemprov Sumatra Barat juga memikirkan hal ini, misalnya dengan menyuruh seorang-dua pengawainya memperkaya data-data tentang nagari–nagari di internet, itu mungkin sudah pertanda munculnya revolusi mental di ‘Rumah Bagonjong’.

*Suryadi – Dr Suryadi merupakan pengajar di negeri Belanda yang berasal dari Sumatera Barat. Tulisan beliau sering dimuat di Padang Ekspres dan media lainnya di Sumbar dan Indonesia. (Sumber: Facebook Deni Chalid dan Dodi Alberta di Facebook group Palanta Urang Awak Minangkabau; diakses 14-2-2015).

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co