Kamis, 19 October 2017, 09:02:01 WIB

Tiong Hoa Hwe Koan Padang

05 January 2017 10:06 WIB - Sumber : - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 27768 kali

Kali ini Minang saisuak menurunkan lagi cuplikan kisah orang Tionghoa di Padang. Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, Padang adalah salah satu kota yang tertua di pantai Barat Sumatera. Penduduknya beragam, mencakup etnis pribumi dan bangsa-bangsa pendatang, antara lain orang Tionghoa. (Lihat buku Erniwati, Asap hio di Ranah Minang: Komunitas Tionghoa di Sumatra Barat. Yogyakarta: Penerbit Ombak dan Yayasan Nabil, 2007). Didirikan di Batavia tahun 1900, perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan bertujuan untuk menyatukan para perantau Tionghoa yang ada di Hindia Belanda dan menyediakan pengajaran (onderwijs) untuk anak-cucu mereka. 

Untuk tujuan yang terakhir (pendidikan) ini, pada 1901 dirikan seksi khusus yang diberi nama Tiong Hoa Hak Tong, yang kemudian dipakai sebagai pengganti nama Tiong Hoa Hwe Koan. Pada tahun 1940 tercatat Tiong Hoa Hwe Koan sudah mempunya puluhan cabang di seluruh Hindia Belanda, begitu juga dengan Tiong Hoa Hak Tong yang sudah mempunyai puluhan sekolah yang tersebar di berbagai tempat, termasuk di Padang. Di Sumatra’s Westkust sendiri, selain di Padang, perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan juga punya cabang di Fort de Kock (Bukittinggi) dan Padang Panjang. Foto klasik yang kami turunkan kali ini mengabadikan murid-murid, guru-guru, dan pengurus Tiong Hoa Hwe Koan di Padang. 

Di bawah foto ini tertulis: “Moerid-moerid, goeroe-goeroe, beberapa Hakhoe dan Bestuurleden dari Tiong Hoa Hwe Koan – Padang”. Kodak ini termuat dalam buku peringatan 40 tahun usia perkumpulan ini, salah satu perserikatan orang Tionghoa yang terkemuka di Indonesia di zaman kolonial, yang disusun oleh Nio Joe Lan (lihat keterangan di bawah). Salah seorang pengurus Tiong Hoa Hwe Koan yang terkemuka di Padang adalah Siauw Beng Tjoan, seorang pedagang besar dan pemilik toko yang menjual barang-barang produksi Eropa di ibukota Residensi Sumatra’s Westkust itu.

Perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan menunjukkan ciri dan semangat juang perantau Cina di Indonesia yang sangat kuat rasa persaudaraannya dan berupaya untuk saling tolong-menolong. Melalui perkumpulan ini, hubungan kultural dan emosional dengan tanah leluhur tetap mereka pelihara. Sering para pengurus perkumpulan ini mendatangkan pejabat publik atau pembicara dari Tiongkok, tanah leluhur mereka. Keteguhan persatuan orang Tionghoa ini perlu dicontoh oleh kelompok-kelompok etnis yang lain, tak terkeluali orang Minangkabau yang sering disebut-sebut bisa sama-sama bekerja, tapi sulit bekerjasama.

*Suryadi – Dr Suryadi merupakan pengajar di negeri Belanda yang berasal dari Sumatera Barat. Tulisan beliau sering dimuat di Padang Ekspres dan media lainnya di Sumbar dan Indonesia. (Sumber foto: Nio Joe Lan, Riwajat 40 taon dari Tiong Hoa Hwe Koan-Batavia (1900-1939), Batavia: Tiong Hoa Hwe Koan, 1940: 370).

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co