Minggu, 17 December 2017, 17:01:05 WIB

Talk Show Cawako Monoton

06 January 2017 10:45 WIB - Sumber : Fajar Rillah Vesky - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 108 kali

Visi Hukum-Pelayanan Publik Belum Tergali
Harapan warga Payakumbuh menyaksikan debat terbuka atau debat publik antar pasangan calon kepala daerah, seperti dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (PKPU-RI) Nomor 7 Tahun 2015 yang sudah diubah menjadi PKPU-RI Nomor 12 Tahun 2016, belum terwujud seutuhnya.

Karena, KPU Payakumbuh mengganti nama dan format debat terbuka menjadi talk show alias gelar wicara. Talk show itu digelar di GOR M Yamin, Kubugadang, Rabu malam (4/1). Gelar wicara ini dipandu Hardi Putra Wirman, dosen IAIN Bukittinggi.

Talk show diawali penyampaian visi-misi calon wali kota di bidang hukum, pemerintahan daerah dan pelayanan publik. Sayang, karena seluruh calon hanya diberi waktu lima menit, visi-misi yang mereka sampaikan belum terpapar dan tergali lebih dalam. 

Wendra Yunaldi yang mendapat kesempatan pertama, mengawali statemennya dengan mengkritisi produk hukum daerah. Menurut Wendra, tidak semua produk-produk hukum di daerah ini lahir dari aspirasi  masyarakat.

“Kita harus jujur, produk-produk hukum yang sudah ditetapkan tak semuanya lahir dari aspirasi masyarakat. Sehingga, tidak punya arti apa-apa dalam penerapannya. Ke depan, seluruh produk legislasi yang menyangkut pemda harus berasal dari masyarakat. Kemudian, dalam penegakan hukum, kita harus melakukan reformasi birokrasi. Harus ada sanksi dan reward yang pantas,” kata dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah ini.

Wendra menawarkan kepada publik, program unggulan berupa pemberian bantuan hukum.

“Kesadaran hukum masyarakat kita sudah meningkat. Maka sesuai amanat UU Bantuan Hukum, kami akan menjadikan Payakumbuh kota pertama di Sumbar yang menyediakan bantuan hukum gratis bagi masyarakat. Karena tidak semua masyarakat kita mampu membiayai jasa pengacara,” ujarnya.

Terkait pemerintah daerah, Wendra  menekankan pentingnya bagi aparatur memahami Undang-Undang dan produk hukum lainnya.

“Kemudian, dalam menegakkan pemerintahan yang baik dan bersih, birokrat harus-betul terjaga dan terjamin untuk bekerja. Maka hal pertama yang harus dilakukan, memberi rasa nyaman dan rasa tenang buat seluruh aparatur daerah,” tukuk Wendra yang memakai batik hijau kekuning-kuningan.

Menyinggung pelayanan publik, calon wali kota nomor urut 1 ini mengakui, sejak kepemimpinan wali kota Josrizal Zain hingga Riza Falepi, pola pelayanan publik mulai membaik di Payakumbuh. Tapi ke depan, mesti ditingkatkan lagi. Terutama terkait pelayanan satu pintu bagi pelaku usaha.

“Jangan sampai terjadi, pintunya satu, tapi kamarnya banyak. Ke depan itu, pelayanan satu pintu itu harus betul-betul satu pintu. Datang di pintu yang satu, keluar di pintu yang sama. Tak seperti sekarang, datang di satu pintu, tapi harus mengetok pintu-pintu yang lain,” kata Wendra.

Setelah Wendra, giliran Riza Falepi yang menyampaikan visi-misinya. Riza mengawalinya, dengan memuji Wendra. “Luar biasa, barusan,” ujar Riza yang memakai kemeja putih lengan panjang dan dasi merah.

Riza menyebut, selama empat tahun bekerja, Payakumbuh sudah ada kemajuan. Tapi, calon wali kota nomor urut dua ini mengakui secara gentelman, belum bisa menjadikan Payakumbuh (menjadi kota dengan) pertumbuhan yang sangat cepat.

“Ini disebabkan karena banyaknya keterbatasan. APBD kita, 60 persen untuk biaya rutin,” ujarnya. Meski begitu, Riza optimistis bila kembali dipercaya masyarakat dalam periode kedua nanti, Payakumbuh bisa tumbuh cepat.

“Untuk tumbuh cepat dalam konteks ke depan, terkait reformasi hukum harus ada perda untuk melaju dengan cepat. Harus ada perangkat yang disiapkan. Tak bisa diucapkan saja, karena ujian Payakumbuh menjadi menang itu adalah terwujudnya ekonomi tinggi, bermartabat dan berbudaya,” kata Riza.

Dia menambahkan, jika yang dicari Payakumbuh adalah juara, maka saat ini, Payakumbuh sudah dapat ratusan juara nasional. Tapi inti dari UU Pemda itu tidak sekadar gelar juara. Melainkan, bagaimana sebuah kondisi yang inovatif bisa dirasakan masyarakat secara keseluruhan.

“Hari ini, pendapatan masyarakat kita baru 3 ribu USD per kapita. Kenapa tak 10 ribu USD per kapita? Ini tak bisa dengan penghargaan saja. Karena itu, ke depan, kami fokus pertumbuhan cepat. Bagaimana bisa memakmurkan masyarakat secara maksimal. Bagaimana pertanian menghadirkan kemakmuran. Bagaimana hukum yang baik, pelayanan publik yang baik dan aparatur yang baik,” kata Riza Falepi.

Setelah Riza, moderator talk show mempersilakan calon wali kota lainnya, Suwandel Muchtar. Dia yang membacakan teks tertulis di atas panggung menyebut, bersama Fitrial memiliki visi, “Terwujudnya Payakumbuh yang Maju, Mandiri, Dinamis dan Sejahtera, dengan Masyarakat yang Berpendidikan dan Berakhlak Karimah”. Untuk mewujudkan visi tersebut, menurut Suwandel, ada sebelas misi yang disiapkan. Empat di antaranya, terkait tema talk show malam itu.

“Pertama, meningkatkan tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, efisien, efektif dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan masyarakat. Artinya, hari ini tak lagi masyarakat melayani pemerintah, tapi pemerintahlah yang harus melayani masyarakat,” kata Suwandel yang memakai kemeja putih.

Kedua, meningkatkan sumber daya manusia di bidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan masyarakat. Sedangkan ketiga, meningkatkan sarana dan prasarana publik. Sementara, keempat menegakkan dan menjunjung tinggi supremasi hukum.

Terkait upaya menegakkan dan menunjung tinggi hukum, Suwandel menyebut, memberikan sentuhan sadar hukum bagi masyarakat.

“Ini harus kita lakukan di Payakumbuh yang kita cintai. Kita akan berikan reward tambahan di kelurahan yang bagus sadar hukumnya. Kita database perda-perda yang bisa diakses masyarakat. Sehingga masyarakat tahu, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan,” ujarnya.

Suwandel juga menyebut, siap bekerja sama dengan aparatur hukum, TNI, Polri dan Jaksa. Karena dalam penegakan perda, Satpol PP tak bisa sendiri.

“Kemudian, terkait progam legislasi daerah, setelah perencanaan, pembangunan harus diberi pengawasan. Kami akan memberdayakan niniak-mamak dalam nagari masing-masing. Kami akan tingkatkan kualitas Satpol PP. Satpol PP harus kita imbangi dengan humanis,” ulasnya.

Di sisi lain, masyarakat Payakumbuh yang mendengar talk show calon wali kota pada Rabu malam mengaku belum begitu puas, karena visi-misi calon belum tergali maksimal.

“Durasi penyampaian visi-misi lima menit, pendalaman visi oleh panelis sangat terbatas. Bahkan, lebih panjang pertanyaan panelis dari jawaban calon. Sehingga, belum tergali maksimal. Ke depan, waktunya mesti ditambah. Format debat mesti diciptakan, jangan monoton kayak tadi malam (Rabu lalu),” kata Haji Desra, warga Balai Nan Duo, Koto Nan Ompek, Kamis (5/1).

Sebelumnya, akademisi asal Luak Limopuluah, Wannofri Samri, yang menulis di grup WhatsApp Pilkada Payakumbuh, juga mengusulkan agar format talk show yang diciptakan KPU, kembali dijadikan dalam bentuk debat publik atau debat terbuka. Seperti, saat kampanye Pilkada Limapuluh Kota 2015 lalu.

“Kalau untuk lainnya, sudah bagus. Tak masalah,” kata Wannofri. Sementara, aktivis Yudilfan Habib berharap, KPU melibatkan civil society dalam penggalian visi-misi calon kepala daerah, seperti debat publik yang disulap jadi talk show.

“Memang di PKPU-RI, ada wewenang KPU membatasi undangan. Tapi, kalangan civil society jangan dibatasi masuk. Kapan perlu, debat itu digelar di pusat kota. Agar publik sama-sama mendengar,” ujarnya. 

Terkait ini, Ketua KPU Payakumbuh, Muhammad Khadafi menyebut, pelaksanaan talk show sudah sesuai dengan PKPU Nomor 12 Tahun 2016 dan Juknis KPU-RI Nomor 123 Tahun 2016. “Acara tadi malam, itu sudah sesuai dengan PKPU 12 Tahun 2016, bukan PKPU 7 Tahun 2015,” kata Khadafi.

Menyinggung soal format acara yang lebih menonjol talk show ketimbang debat terbuka sebagaimana diamanatkan Peraturan KPU-RI, Khadafi menyebut, memang sengaja membuat format talk show untuk yang pertama.

“Untuk yang pertama memang polanya talk show. Yang kedua, nantinya juga talk show, antara calon wakil wali kota. Yang ketiga, baru kita gelar dalam bentuk debat terbuka,” kata Khadafi saat dikonfirmasi secara terpisah. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co