Kamis, 24 August 2017, 15:53:19 WIB

Syafdiwarman, Perajin Rotan di Kabupaten Sijunjung

09 January 2017 09:57 WIB - Sumber : Hendri - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 49 kali

Wujudkan Sisawah Sentra Rotan Sumbar

Syafdiwarman belajar menganyam rotan dari masyarakat Mentawai. Pengetahuan yang didapatkannya itu, kini jadi modal memajukan tanah kelahirannya Nagari Sisawah, Kecamatan Sumpurkudus, Kabupaten Sijunjung.

Syadiwarman mengajak warga memanfaatkan potensi daerah dan bertekad menjadikan Sisawah sentra rotan terkemuka di Sumbar. Pada tahun 1987, Syafdiwarman merantau ke Mentawai. Kala itu, dia bekerja di sebuah perusahaan di Mentawai. Di sana, dia punya keinginan untuk mampu berkarya sendiri. 

Pada tahun 1992, dia melihat potensi  rotan hutan Mentawai cukup menjanjikan. Lalu, dia belajar menganyam raton dengan penduduk setempat. Namun, dia tak bisa terlalu fokus belajar karena masih bekerja di perusahaan.

Pada tahun 1993 atau setahun belajar menganyam, dia mulai mahir dan mencoba menjual hasil karyanya ke toko kerajinan. Awalnya, dia mendapatkan penghasilan tak seberapa, namun lama-kelamaan hasil cukup besar pun diterimanya.  

“Kala itu, hasil produksi dan penjualan saya tidak seberapa. Namun, mampu menambah penghasilan di perantauan,” kata Syafdiwarman kepada Padang Ekspres, pekan kemarin.

Diceritakannya, tahun 2006, dirinya kembali ke tanah kelahirannya di Sijunjung, tepatnya Jorong Kotobaru, Nagari Sisawah, Kecamatan Sumpurkudus.

Awal pulang kampung, Syafdiwarman tidak langsung menekuni bekerja sebagai perajin rotan, namun pindah-pindah di beberapa tempat, salah satunya sawmill di Sumpurkudus.

Dirinya tidak langsung kembali menekuni perajin rotan seperti di perantauan karena belum melihat potensi tersebut di Sijunjung, apalagi di kampung kelahirannya Sisawah.Meski dirinya mengetahui hutan-hutan di kenagarian Sisawah memiliki banyak rotan berkualitas.  

“Saat pertama kembali ke kampung halaman, potensi kerajinan belum terlihat, makanya saya fokus bekerja serabutan,” tuturnya.

Barulah sekitar tahun 2014, dia melihat potensi anyaman rotan mampu menjadi sumber ekonomi. Syafdiwarman kembali membuat kerajinan dari rotan, mulai dari keranjang, rak buku, ayunan hingga kursi rotan.

Awal memproduksi anyaman, dia mempergunakan rotan dari hutan Kenagarian Sisawah karena dinilai memiliki kualitas bagus. Dari awal menekuni kerajinan rotan, seluruh karyanya diperkenalkan ke pedagang di Sumatera Barat, seperti di Silungkang, Tanahdatar dan Bukittinggi.

Syafdiwarman mulai mengajak warga melirik rotan sebagai sumber mata pencaharian. Syafdiwarman kesulitan memenuhi pasokan pelanggan. Syafdiwarman pun kemudian mengajak masyarakat membentuk kelompok  perajin rotan dan memberi nama kelompoknya Antobuong. 

Selain ingin menghasilkan lapangan pekerjaan bagi warganya dan membantu pendapatan masyarakat, Syafdiwarman juga memiliki keinginan menjadikan kerajinan rotan ciri khas Sisawah.   

Awal mula kelompok kerajinan rotan Antobuong dibentuk, anggotanya hanya tiga orang, tapi kini sudah mencapai 8 orang. Jumlahnya sengaja dibatasi Syafdiwarman agar mudah diawasi dan dibina. 

Dengan jumlah awal kelompok yang masih sedikit itu, Syafdiwarman berupaya mencari relasi dengan menawarkan produknya kepada para pedagang kerajinan di Silungkang.

Setelah berhasil mendapat kerja sama dengan salah satu pedagang kerajinan tangan di Silungkang, Syafdiwarman mencari peluang di Kabupaten Tanahdatar dan Kota Bukittinggi.

Rezeki tidak bisa ditebak. Perjuangannya itu membuahkan hasil. Beberapa toko di tiga wilayah tersebut menyambut baik kerja sama yang ditawarkan. 
Dalam sebulan, Syafdiwarman dan anggota kelompoknya harus mampu menyediakan 300 unit kerajinan rotan dalam berbagai jenis. 

Awal kelompok dibentuk, Syafdiwarman mengaku kesulitan memasarkan produknya. Namun, setelah mendapat kontrak kerja sama, kendala lainnya mulai menghantui, yakni modal produksi yang terbilang banyak. Sehingga mau tak mau Syafdiwarman memutus sendiri kontrak yang terbilang besar itu.

“Karena tidak memiliki biaya produksi, dan kami takut mengecewakan relasi (Silungkang, Tanahdatar dan Bukittinggi), makanya saya sendiri yang memutus kontrak tersebut,” bebernya. 

Kendala yang dihadapi kelompok, kata Syafdiwarman, keterbatasan modal produksi. Kebutuhan produksi masal itu butuh modal tidak sedikit, termasuk untuk membeli bahan baku Rotan. 

“Untuk produksi masal, kami tidak bisa menggunakan rotan lokal karena harus dibeli, dan kami juga tidak memiliki cukup waktu mencarinya di hutan,” sebutnya.

Meski harus kehilangan kontrak besar, namun Syafdiwarman tidak putus asa. Malahan anggota kelompoknya bertambah menjadi 8 orang. Dirinya tidak bisa menerima anggota kelompok melebihi 10 orang. “Jika anggota kelompok banyak, jelas akan kesulitan mengawasi dan mengembangkannya,” imbuhnya.

Meski bertahap, namun kelompok kerajinan rotan Antobuong tetap mendapat perhatian pemda dengan mendapatkan bantuan satu unit mesin pembelah rotan (split). “Pemerintah daerah juga berniat menjadikan Sisawah sebagai sentra rotan,” tukasnya.

Saat ini, pemasaran produk kerajinan rotan Kelompok Antobuong masih seputar Silungkang, Tanahdatar dan Bukittinggi. Jusmadi, 44, salah seorang anggota Kelompok Antobuong mengaku, kelompoknya belum mendapatkan kontrak dengan pedagang.

”Meski begitu, produk kelompok tetap mendapat tempat di beberapa toko, meski belum seberapa,” sebut Jusmadi.   

Dikatakan Jusmadi, saat ini pesanan paling banyak adalah berupa keranjang sampah dan produk ayunan serta kursi. Jika ada pesanan, masing-masing individu mampu menghasilkan dua jenis kerajinan dalam sehari.

“Meski belum berkembang cepat, namun melihat hasil produksi kelompok, pemerintah daerah melalui dinas terkait tertarik menjadikan Sisawah sentra rotan,” ujarnya.

Jusmadi mengatakan, pembentukan kelompok kerajinan rotan memacu semangat perajin rotan di Sisawah. “Perajin rotan di Sisawah banyak, tapi tidak bisa berkembang karena hanya membuat kerajinan rotan setelah pulang kerja di tempat lain, artinya tidak fokus,” ujarnya.

Menurut Jusmadi, pembentukan kelompok ini sangat mampu menambah penghasilan anggota kelompok secara ekonomi. Meski saat ini, produk kelompoknya masih seputaran Sumbar, namun peluang terus berkembang semakin terlihat.

Dinas Perdagangan, Perindustrian Koperasi dan UKM Sijunjung mengaku mendorong pemerintah nagari ikut memberdayakan kelompok UKM masyarakat.

“Saya rasa, jika pemerintah nagari ikut memberdayakan dengan menganggarkan di anggaran pendapatan belanja nagari, akan mampu meningkatkan kesejahtaraan masyarakat,” ungkap Kabid Industri, Hendri Nurka. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co