Selasa, 17 January 2017, 17:48:34 WIB

2 Bocah Diperkosa hingga Hamil

09 January 2017 10:05 WIB - Sumber : Hendri - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 22 kali

Korban Sempat Diancam Dibunuh 

Entah apa yang ada dalam pikiran LL, 53.Warga Nagari Padangtarok, Kecamatan Kamangbaru, Kabupaten Sijunjung itu tega memperkosa anak tirinya sendiri yang masih berusia 12 tahun. Akibat perbuatan bejat itu, anaknya telah hamil tiga bulan.

Sementara itu, seorang penambang batu bara di Nagari Bukitbual, Kecamatan Koto VII,  Sijunjung, juga tega memperkosa remaja 17 tahun yang menderita keterbelakangan mental hingga hamil empat bulan.

Kejadian nahas di Nagari Padangtarok, berawal sekitar Oktober 2016 lalu sekitar pukul 15.30, saat itu korban hanya mengenakan handuk seusai mandi dari sungai yang berada dekat rumahnya.

Saat memasuki rumahnya, korban mendengar suara ponsel berbunyi dari dalam kamar orangtuanya. Tanpa memiliki firasat apapun, korban langsung memasuki kamar tersebut untuk mengambil ponsel.

Di dalam kamar itu, ternyata ada tersangka LL. Melihat anak tirinya yang mulai tumbuh dewasa itu, tersangka ternyata memiliki pikiran bejat. Tanpa menunggu lama, tersangka langsung berdiri dan memeluk korban. Korban yang kaget dengan perlakuan ayah tirinya, langsung berteriak dan berupaya melepaskan diri.

Namun apa daya, tersangka yang bertubuh besar itu langsung membekap mulut anak tirinya. Korban sempat melawan dengan menggigit tangan tersangka. Namun tersangka bertindak cepat dengan mengikat tangan dan mulut korban menggunakan kain. 

Dalam kondisi lemah dan ketakutan, korban hanya bisa menangis dan meringis kesakitan saat ayat tiri menodainya. Dalam kondisi terikat, korban sempat diancam dibunuh oleh tersangka, jika menceritakan perbuatannya kepada orang lain. 

Setelah aksi pertamanya itu, beberapa menit kemudian tersangka kembali mengulangi perbuatannya. Korban yang tidak tahan dengan perbuatan tersangka berupaya lari, tapi kembali dicegat tersangka hingga perbuatan bejat itu terulang.

“Setelah aksi kedua itu, tersangka kembali mengancam korban. Akhirnya korban takut bercerita kejadian tersebut kepada keluarganya,” ungkap Kasat Reskrim Iptu Chairul Ridha didampingi KBO Iptu Admi Raflis serta Paur Humas Iptu Nasrul saat ekspose di Mapolres Sijunjung Sabtu (7/1).

Iptu Chairul Ridha menjelaskan bahwa perbuatan tersangka baru diketahui setelah bibi korban korban membawa korban ke Puskesmas Nagari Aiaamo pada 13 Desember 2016.

Korban dibawa ke puskesmas karena merasa tidak sehat. Setelah diperiksa petugas medis, korban diketahui telah hamil tiga bulan. Sepulangnya dari puskesmas, kata Chairul Ridha, bibinya langsung menceritakan kondisi korban kepada keluarga yang lain, termasuk ibu korban. 

Awalnya ibu korban sempat menolak melaporkan perbuatan suaminya tersebut dengan alasan dirinya merasa tidak sanggup menghidupi anaknya yang masih kecil. Namun, keluarga korban lainnya bersikeras melaporkan ke kepolisian. 

Setelah membuat laporan polisi, dan memeriksa korban, Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Sijunjung langsung menangkap tersangka. Saat ditangkap, tersangka tidak melakukan perlawanan dan langsung mengakui perbuatannya.

“Pelaporan perbuatan tersangka sempat tertunda karena ibu korban tidak mau melaporkan suaminya. Karena saat ini, ibu korban memiliki anak yang masih kecil dari hubungan dengan tersangka. Sehingga yang melaporkan tersangka adalah tante korban,” bebernya.

Atas perbuatannya, tersangka berinisial LL alias LBS dikenakan Pasal 76D jo Pasal 81 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan maksimal 15 tahun.

Tersangka saat ini telah mendekam di sel tahanan Polres Sijunjung. Untuk penyelidikan, barang bukti handuk, dan kain seprei telah diamankan.

Dihamili Penambang

Sementara itu, pada Kamis (6/1), Unit PPA Sat Reskrim Polres Sijunjung juga menangkap pelaku pemerkosaan remaja perempuan berusia 17 tahun di Kenagarian Bukitbual, Kecamatan Koto VII. 

Warga Jorong Kototangah, Nagari Bukitbual yang diketahui memiliki keterbelakangan mental tersebut hamil 4 bulan oleh SA, panggilan Ril, 35, warga Nagari Bukitbual, Kecamatan Koto VII.

Tersangka yang sempat misterius tersebut berhasil dilacak setelah korban berhasil mengingat wajah dan kendaraan yang digunakan tersangka saat menyetubuhinya. Atas laporan keluarga korban, pada Kamis (6/1), tersangka ditangkap Unit PPA dan diamankan di Mapolres Sijunjung untuk pemeriksaan.

Kejadian tersebut bermula sekitar Juni 2016 sekitar pukul 07.30 korban bersama orangtuanya berinisial YN, 46, menunggu tumpangan untuk bekerja sebagai pemulung batu bara di sebuah perusahaan di Bukitbual. 

Saat menunggu di tepi jalan, lewat tersangka menggunakan motor Vixion BA 2721 KS. Tersangka SA adalah pekerja di salah satu tambang batu bara di Nagari Bukitbual.

Karena tidak bisa berboncengan tiga, akhirnya korban yang menumpang lebih dulu dengan tersangka ke lokasi tambang batu bara meninggalkan ibunya yang masih menunggu kendaraan lain.

Lalu sesampainya di jalan lengang, di sebuah kebun karet di Aurduri memasuki Jorong Jalan Batu, Bukitbual, tersangka berbelok dan mengarahkan motornya ke dalam kebun karet.

Korban sempat protes dan bertanya tujuan tersangka membawa dirinya ke kebun karet. Namun tersangka tetap mengajak korban, lalu menghentikan kendaraannya. Kemudian tersangka mengajak korban berjalan.

Setelah agak jauh dari jalan aspal, tersangka langsung membekap korban dan berupaya menggaulinya. Walaupun tubuh tersangka lebih besar dan kuat, korban sempat melawan meski akhirnya korban hanya bisa menangis dan ketakutan setelah mulut dibekap dan diancam. 

Setelah mengalami pengalaman pahit tersebut, korban tidak mau bercerita kepada keluarganya karena takut dengan ancaman akan dibunuh oleh tersangka.
Dua hari setelah kejadian, tersangka kembali memiliki kesempatan mengulangi perbuatan bejatnya. 

Saat itu sekitar pukul 18.00, korban yang ingin pulang ke rumahnya kembali menumpang motor tersangka. Tak jauh dari lokasi kejadian pertama, korban mengalami perbuatan tidak senonoh tersangka. 

Beberapa bulan kemudian, sekitar 5 Oktober 2016, ibu korban mengetahui kehamilan korban karena perubahan bentuk tubuh. Meski begitu, korban belum mau bercerita siapa orang yang menghamilinya. 

Namun, korban bercerita kepada kakak kandungnya bernama YR, 26. Setelah peristiwa itu terbongkar, ibu korban langsung melapor ke Polsek Koto VII.

Karena korban memiliki sedikit kekurangan mental dan tidak mengenal persis siapa yang menghamilinya, maka petugas kesulitan melacak tersangka. Setelah dilakukan penyelidikan beberapa pekan, akhirnya korban mampu mengingat kendaraan dan wajah pelaku.

Lalu, polisi mendapatkan bukti dan keterangan cukup kuat hingga akhirnya tersangka dibekuk. Saat dipertemukan dengan korban, tersangka tidak bisa mengelak perbuatannya dan mengakui dua kali menodai korban. 

Saat ini tersangka telah mendekam di sel Mapolres Sijunjung bersama barang bukti motor BA 2721 KS yang digunakan membonceng korban.

Atas perbuatannya, tersangka berinisial LL dikenakan Pasal 76 D jo Pasal 81 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun, maksimal 15 tahun.

“Tersangka berhasil dikenali korban karena ingat dengan motor warna putih dan wajah tersangka,” ungkap Iptu Chairul Ridha.

Kapolres Sijunjung AKBP Dody Pribadi mengimbau para orangtua mengawasi dengan ketat pergaulan anak, terutama yang beranjak dewasa karena sedang mencari jati dirinya. Pasa masa remaja, perempuan masih sangat butuh bimbingan dan perhatian dari keluarga, terutama orangtua. 

“Awasi dengan ketat pergaulan anak kita, baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah. Karena kejahatan datangnya bukan karena niat si pelaku saja, tapi juga karena kesempatan untuk berbuat jahat,” imbau Kapolres AKBP Dody Pribadi.

Memprihatinkan

Kasus asusila ini memang semakin memperihatinkan di Sijunjung. Umumnya para korban adalah kalangan anak di bawah umur.

Kasus cabul terhadap anak perempuan berusia 5 tahun yang dilakukan MR, 52, oknum PNS dan pejabat di Dishub Sijunjung Januari 2016. Dalam kasus ini, Pengadilan Negeri Muaro memvonis terdakwa MR 6 tahun penjara.

Sementara bulan Juni 2015, kasus asusila dalam keluarga juga terjadi di Nagari Buluhkasok, Kecamatan Lubuktarok. Dalam kasus ini, YN, 51, orangtua kandung korban menjadikan anak kandungnya budak nafsu selama 8 tahun, sejak anaknya berumur 11 tahun hingga 19 tahun. 

Korban saat ini memiliki anak dari ayah kandungnya sendiri. Dalam kasus ini Pengadilan Negeri Muaro memvonis ayah kandung bejat itu 19 tahun penjara.

Kemudian di tahun yang sama, gadis berusia 19 tahun asal Nagari Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpurkudus juga diperkosa sang paman sejak kelas 2 SMA hingga setahun lamanya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co