Sabtu, 24 June 2017, 15:55:42 WIB

Lagi, Warga Nunang Protes Sampah

09 January 2017 10:31 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 42 kali

Dinas LH Kewalahan Angkut ke TPA

Warga yang tinggal di kawasan Nunang, Kecamatan Payakumbuh Barat, kembali memprotes keberadaan tempat penampungan sampah sementara di tempat tinggal mereka. Tempat penampungan sampah sementara yang disebut Pemko Payakumbuh sebagai transfer depo tersebut, dinilai warga kurang terkelola dengan baik. 

Sampah-sampah yang sudah menumpuk, terutama sampah dari kawasan Pasar Payakumbuh terlalu lambat diangkut petugas ke Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPAS) Regional Sumbar di kawasan Taratak, Padangkarambia, Payakumbuh Selatan. Akibatnya, sampah-sampah itu kerap mengeluarkan bau busuk dan mendatangkan lalat ke permukiman warga.

Sebagai wujud protes, sejumlah warga di kawasan Nunang, Minggu pagi (8/1), memasang spanduk penolakan penumpukan sampah di tempat mereka.

Kepada Padang Ekspres, seorang warga yang ikut dalam aksi itu mengatakan, dia bersama warga sudah tak tahan dengan bau sampah yang menumpuk berhari-hari.

“Dulu, waktu kami adukan kepada wali kota Riza Falepi lewat media sosial, langsung direspons pak wali. Petugas, langsung sibuk. Tapi kini, begitu Pak Riza sedang cuti kampanye, persoalan sampah kembali terjadi. Hendaknya, janganlah seperti itu. Aksi yang kami lakukan ini, tak ada urusan dengan politik. Kalau untuk pilkada nanti, kami pilih orang Nunang. Tapi kalau untuk sampah ini, kami mohon diperhatikan,” kata warga Nunang yang juga pedagang itu.

Merespons protes warga, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Payakumbuh, Edvidel Arda, bersama Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Payakumbuh, Men Apris, langsung turun ke lapangan, Minggu (8/1).

Selain berkoordinasi dengan pemuka masyarakat Nunang Daya Bangun untuk mengantisipasi sampah agar tak menumpuk di kawasan transfer depo, mereka minta warga ikut mengawasi agar sampah yang dibuang di luar jam yang disepakati ikut dilarang warga.

Menurut Edvidel dan Men Apris, luas space penumpukan sampah di lokasi transfer depo Nunang Daya Bangun, memang sudah terlalu kecil. Kapasitasnya hanya 3 truk sehari. Kenyataannya, sampah yang di-drop masyarakat mencapai 6 sampai 8 truk per hari.

Sementara, petugas memuat sampah ke atas truk yang ada di transfer depo tersebut, hanya berjumlah 2 orang. Akibatnya, sampah menjadi menumpuk sepanjang waktu.

Sesuai SOP, jam pembuangan sampah ke transfer depo Nunang, dimulai pukul 17.30 sampai pukul 06.30 setiap harinya. Kemudian, dari pukul 06.30 hingga jam 10.00, petugas truk sampah mengambil sampah di transfer depo, untuk selanjutnya diangkut ke TPA.

Sehingga, pada pukul 10.00 hingga pukul 17.30, transfer depo bersih dari tumpukan sampah. Kenyataan di lapangan, di luar jam tersebut puluhan becak motor sampah dan warga masih membuang sampah di transfer depo. 

Mereka sulit dilarang petugas yang kadang hanya sendirian di lokasi transfer depo. Akibatnya, sampah menumpuk sepanjang hari atau 24 jam.

“Wajar saja, seiring banyaknya sampah, warga resah dengan bau yang ditimbulkannya. Untuk itu, kami akan meminta tambahan tenaga petugas memuat sampah ke pimpinan, dari kondisi 2 menjadi 8 orang,” kata Edvidel dan Men Apris.

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup sebagai OPD (Organisasi Perangkat Daerah) baru sudah membuat sudah membuat kesepakatan, agar LPM dan Lurah Nunang Daya Bangun, serta tokoh masyarakat ikut menertibkan jam-jam pembungan sampah di transfer depo.

“Yang membuang sampah di luar waktu, mestinya juga ditegur,” kata Men Apris. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co