Kamis, 19 October 2017, 23:24:22 WIB

Harga Naik, Ekspor Sumbar Menggeliat

09 January 2017 11:20 WIB - Sumber : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 236 kali

Kenaikan harga komoditas unggulan sejak beberapa bulan terakhir, turut mendorong peningkatan volume ekspor Sumbar. Peningkatan ini diyakini bakal terus berlangsung seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi negara maju.

Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Sumbar, Ramal Saleh menyebut, kenaikan harga komoditas tak hanya pada harga karet, gambir dan kelapa sawit. Namun, hampir merata di segala komoditas. Selain karet, juga cengkeh, pinang dan kulit manis. 

Dia mengakui bahwa kenaikan harga komoditas ini dipicu menggeliatnya ekonomi di negara-negara maju yang sempat turun sepanjang tahun 2015-2016 lalu. “Tahun 2017 kalau ekonomi di negara maju terus mengalami tren lebih positif, maka berdampak kepada kita. Kita berharap tren ini terus bertahan,” jelasnya.

Jika dilihat data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar hingga Oktober 2016, ekspor Sumbar belum memperlihatkan hasil menggembirakan. Meski sempat naik di September, namun di Oktober turun kembali. 

Nilai ekspor Sumbar September 2016 mencapai USD161,0 juta, atau meningkat 1,19 persen dibanding Agustus. Dibandingkan bulan yang sama tahun 2015 lalu, juga naik sebesar 12,51 persen.

Paling banyak dipicu ekspor lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD117,5 juta. Lalu, diikuti golongan karet dan barang dari karet sebesar USD 29,3 juta.

Sedangkan Oktober 2016, nilai ekspor Sumbar Oktober 2016 mencapai USD148,2 juta, atau terjadi penurunan 7,99 persen dibanding ekspor September 2016. Bila dibandingkan bulan sama tahun 2015, juga turun 6,09 persen. 

Secara kumulatif ekspor Sumbar Januari-Oktober 2016, mencapai USD 1.349,3 juta atau turun 10,19 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. 

Golongan barang ekspor bulan Oktober 2016 paling besar lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 97,4 juta, diikuti golongan karet dan barang dari karet sebesar USD 35,2 juta, dan berbagai produk kimia sebesar USD 4,3 juta. 

Namun, November 2016 nilai ekspor Sumbar mencapai USD 164,2 juta, atau meningkat 10,78 persen dibanding ekspor Oktober 2016. Nilai ekspor November 2016 ini naik 29,28 persen dibandingkan bulan sama tahun sebelumnya. 

Golongan barang ekspor pada November 2016 paling besar adalah lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 117,4 juta, diikuti golongan karet dan barang dari karet USD 27,8 juta serta bahan-bahan nabati USD 5,6 juta. 

Menurut sektor, ekspor produk industri bulan November 2016 mengalami peningkatan 10,784 persen dibanding ekspor Oktober 2016. Menurut Ramal Saleh, harga komoditas Sumbar sangat tergantung harga luar negeri dan tinggi atau rendahnya permintaan. 

Namun, menurut dia, masyarakat tetap harus menjadikan komoditas ini sebagai andalan. “Kalau ekonomi dunia bagus, maka komoditas ekspor ini bisa jadi andalan Sumbar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini sudah terbukti,” ujar Ramal Saleh.

Meski sewaktu-waktu harga komoditas bisa turun, menurut Ramal Saleh, tidak masalah. Sebab ketika harga turun masyarakat, bisa menyimpan dulu komoditasnya. “Misalnya gambir. Kalau kering, maka bisa disimpan sampai berbulan-bulan. Begitu pula cengkeh, kulit manis, dan komoditas lainnya,” jelasnya. 

Pengamat ekonomi Elfindri memaparkan, kenaikan harga komoditas ekspor menjadi salah satu kabar gembira bagi warga Sumbar. Ini menyejukkan para petani penghasil komoditas ekspor yang sudah lama tiarap akibat harganya anjlok. 

Meski begitu, butuh langkah jangka panjang agar harga komoditas bisa bertahan dan tetap tinggi. Pembangunan industri untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, menurut dia, satu-satunya jalan agar harga komoditas bisa bertahan di level tinggi. 

“Harus dibuat industri untuk meningkatkan nilai tambahnya. Kalau menjual mentah terus, harganya dikendalikan orang luar negeri. Namun, kalau kita sudah tingkatkan nilainya, maka harga di tingkat petani tetap stabil,” jelas guru besar ekonomi Unand ini. 

Dia tidak setuju jika untuk mempertahankan harga komoditas ditunjukkan dengan membentuk BUMD guna menampung hasil panen petani. Sebab, bisa menimbulkan masalah baru dalam pengelolaannya. “Jalan satu-satunya adalah mendirikan industri untuk agar komoditas kita bisa memiliki nilai tambah,” ujarnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co