Rabu, 22 February 2017, 22:13:13 WIB

Geliat Petani Komoditi Ekspor saat Harga Naik

09 January 2017 11:21 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 154 kali

Pasar Mulai Ramai, Ekonomi Membaik

Membaiknya harga komoditas ekspor unggulan Sumbar di pasaran internasional sejak beberapa bulan terakhir, membuat perekonomian masyarakat di sentra-sentra perkebunan mulai menggeliat. Bila kondisi ini tetap bertahan seperti sekarang, bukan tak mungkin sektor satu ini bisa mengerek pertumbuhan ekonomi Sumbar. 

Mata Randi, 30, warga Lintaubuo, Tanahdatar, berbinar. Pagi itu, dia begitu bersemangat. Hasil penjualan karetnya, tak seperti beberapa bulan sebelumnya. Naik berkali lipat. 

Menembus 200 persen! “Sebelumnya anjlok Rp 4 ribu sekilo, kini naik Rp 12 ribu sekilo. Ini jelas membuat kami bersemangat lagi menyadap karet,” aku Randi diamini Aziz, penyadap karet lainnya. 

Kenaikan harga karet ini membuat aktivitas petani karet Lintaubuo berubah. Mereka mulai bersemangat lagi mengurus perkebunannya yang tak terurus sejak tahun 2015. 

Turun drastisnya harga sawit waktu itu, membuat petani karet banting stir. Mereka yang memiliki motor memilih jadi tukang ojek, atau jadi buruh harian lepas. “Membaiknya harga karet ini, menjadi anugerah bagi kami. Terlebih, areal persawahan dilanda kekeringan,” jelasnya. 

Kenaikan harga karet ini juga membuat penjualan pisau sadap mulai meningkat. Seperti disampaikan Rivaldi, salah seorang keluarga pandai besi di Kajai, Lintau. “Kini, permintaan pisau sadap mulai meningkat tajam. Biasanya banyak tak terjual, sekarang malah banyak permintaan belum terpenuhi,” ujarnya.

Bergairahnya perekonomian juga dirasakan Rida, 52, salah seorang pedagang di Pasar Buo. Sejak harga karet melonjak tajam, penjualannya melonjak. “Biasanya pasar sepi, sekarang sudah mulai ramai. Yang punya utang pun sudah mulai mengangsur utangnya,” ujar pedagang beras ini. 

Naiknya harga komoditas unggulan Sumbar khususnya karet dan kelapa sawit, juga dinikmati petani karet dan kelapa sawit di Dharmasraya, khususnya di Timpeh dan Sungairumbai. Bila karet melonjak sampai Rp 12 ribu sekilo, hal yang sama terjadi pada kelapa sawit. Naik dari Rp 1.200 sekilo, kini jadi Rp 2 ribu sekilo. 

“Kini, petani karet dan sawit bisa bernapas lega. Setelah turun drastis, kini harganya mulai membaik. Geliat ekonomi masyarakat pun mulai membaik. Ditandai mulai ramainya pasar-pasar tradisional di beberapa daerah,” sebut Rommi Putra,45, petani karet dan sawit. 

Dia berharap harga sawit tak lagi anjlok. Bila tidak, imbasnya paling dirasakan masyarakat. Tak hanya petani karet atau sawit, namun juga pedagang di pasar-pasar tradisional. “Jelas, berdampak besar terhadap anjloknya perekonomian Dharmasraya,” kata dia.

Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Dharmasraya, Jonasri mengakui harga kelapa sawit sudah menunjukan grafik peningkatan. Hanya saja, kenaikannya belum sesuai ketentuan Dinas Perkebunan Sumbar berkisar Rp 2.179 sekilo.

“Masih banyak perusahaan kelapa sawit menetapkan harga sesuai hitungannya. Saat ini, dipatok Rp1.800 sekilo. Sedangkan harga sawit di Koperasi Unit Desa (KUD) Rp1.900 sekilo.

Dampaknya, tambah dia, banyak petani menjual kelapa sawit ke provinsi tetangga, seperti Jambi dan Riau. Di sini, harga dipatok Rp 2.168/ kg dan pabrik 2.010 per kilogram.

Berdasarkan data yang dimilikinya, rata-rata kelapa sawit yang dibawa ke luar Sumbar lebih dari 25 ribu ton sawit. Rinciannya, Timpeh 12 ribu ton dikirim ke Riau, Sungairumbai 13 ribu ton dikirim ke Jambi.

“Kita berharap pemerintah lebih serius memperhatikan petani sawit dan menindak tegas perusahaan-perusahaan yang tidak mematuhi harga yang ditetapkan pemerintah,” harapnya.

Sesuai Peraturan Menteri Pertanian No 14 Tahun 2012 dan Pergub No 40 Tahun 2013, pemerintah daerah bisa terlibat menstabilkan harga di pasaran.
Petani sawit, Hendri Pratama berharap kepala daerah turun langsung ke lapangan memantau harga sehingga tidak ada lagi spekulan bermain.

”Seperti di Bungo dan Tebo Provinsi Jambi, Gubernur dan Bupatinya turun langsung memantau harga sawit dan karet. Kalau sekarang, jika ingin mendapat harga bagus, ya bawa ke luar,” ujar petani yang memiliki kebun di Sungaidareh ini.

Tak beda dengan sawit, petani karet asal Sitiung V, Kenagarian Kotopadang, Kecamatan Kotobaru, Resmanita mengaku juga memilih menjual getahnya ke luar Sumbar. Pasalnya, harga yang ditawarkan jauh lebih besar. “Kalau seminggu bisa keluar sekitar dua ton. Kini kami menjual ke Jambi Waras,” ungkapnya.
Petani Semringah

Petani gambir di Limapuluh Kota juga semringah. Mulai membaiknya harga, membuat petani setempat bergairah. Seperti terlihat di Jorong Padangtangah, Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kecamatan Pangkalan, Kapur IX, Mungka, Harau, Bukikbarisan serta lainnya. 

Kenaikan harga paling terlihat pada ekstrak getah gambir mencapai Rp 100 ribu sekilo. “Kini, kami bisa lebih bertahan,” jelas Amir S, salah seorang petani dan pengelola getah gambir.

Mantan Kepala Dinas  Koperasi Perindustrian dan Perdagangan dan  UMKM Limapuluh Kota, Yunire Yunirman menyebutkan harga jual gambir sebanding dengan kualitasnya. “Khusus Limapuluh Kota, kita memiliki produk gambir kualitas nomor satu di dunia,” kata dia.

Terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Gambir Indonesia (DPP Apegi), Rinaldi dalam diskusinya dengan Padang  Ekspres di beberapa kesempatan mengutarakan sikap pesimistisnya terhadap kondisi perdagangan komoditi gambir yang berjalan sangat lamban. 

Menurutnya, gambir tidak bisa hanya dibebankan kepada Pemkab Limapuluh Kota saja, namun harus jadi perhatian serius secara nasional. Bila harga sawit dan karet meroket, namun tak begitu dengan kakao.

Sejak sebulan terakhir, harga kakao yang sempat melonjak kembali turun. Awalnya Rp 34 ribu menjadi Rp 28 ribu per kilo untuk biji kakao kering. Penampung beralasan, semua ini efek cuaca kerap hujan dan tutup gudang di akhir tahun. 

Anjloknya harga kakao ini dikeluhkan petani yang sekitar dua bulan lagi panen raya. Ketua Kelompok Balkam Saiyo Agro Wisata Kakao, Ramadhan mengakui harga kakao di Padangpariaman, khususnya di Kecamatan Sungaigeringging, turun drastik.

“Kini, penampung membeli biji kakao kering seharga Rp 28 ribu per kg,” ujar petani kakao sukses di Sungaigeringging itu.

Penurunan harga kakao ini, menurut Ramadhan, membuat petani kewalahan. Guna mensiasati kerugian, petani memilih menjual hasil panen kakaonya ke kelompok taninya masing-masing. Hal itu ditujukan untuk mendorong kenaikan kembali harga kakao.

Kekhawatiran kemungkinan terus anjloknya harga kakao dirasakan Ketua Forum Kakao Sungaigeringging, Zulkailisman. “Pembeli kakao oleh kelompok kepada petani memang efektif mendorong harga kakao. Cuma saja, untuk jangka panjang perlu dicarikan alternatif lain,” kata dia. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co