Kamis, 27 April 2017, 06:17:44 WIB

Lani Hasibuan, Warga Miskin Padanggelugur, Kabupaten Pasaman

10 January 2017 11:02 WIB - Sumber : Lumban Tori - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 36 kali

Listrik Numpang Tetangga, Butuh Bedah Rumah

Lani Hasibuan dan Rida Harahap, satu di antara keluarga miskin di Kampung Sinonoan, Nagari Bahagia Padang Gelugur, Kecamatan Padanggelugur, Kabupaten Pasaman. Untuk bertahan hidup, pasangan suami–istri ini bekerja serabutan.

Kadang jadi kuli bangunan, kadang bekerja jadi buruh upahan di sawah orang. Keduanya masih tinggal di rumah tak layak huni dan tanpa fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK). 

Seorang pria terlihat berdiri di depan rumah berdinding papan dan beratapkan seng yang sudah karatan. Dinding rumah terlihat sudah dimakan rayap dan atap rumah sudah banyak bocor. Rumah yang ditempatinya hanya menyambung dari rumah tetangga. 

Di depan halaman rumahnya terlihat tumpukan batu krekel, tempat jemuran  pakaian  dan tumpukan ranting kayu bakar. Kepada Padang Ekspres, pria yang berdiri di depan rumah tersebut mengaku bernama Lani. Bapak empat anak ini bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Kadang, dia ikut temannya kepala tukang bekerja bangunan dan kadang bekerja  di sawah yang disewanya dari pemilik lahan. Dia berharap, dari pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurutnya hingga kini, penerangan yang dinikmati keluarganya hanya sambungan  listrik dari rumah tetangga. Dia dikenakan biaya sebesar Rp 40 ribu per bulan. 

Untuk membantu ekonomi keluarga, sang istri, Rida Harahap juga bekerja sebagai buruh upahan di sawah orang. Namun, penghasilan yang diperoleh istrinya juga tak seberapa.

Meski dia dan istrinya bekerja, namun tetap saja tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi itu membuat Lani dan istrinya terpaksa pinjam uang ke tetangganya karena tak punya uang. 

Mereka tidak setiap hari hari ada tawaran bekerja membuat bangunan ataupun jadi buruh upahan. Biasanya, penghasilan per harinya sekitar Rp 60 ribu. Upah yang diterimanya itu Rp 30 ribu digunakan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. 

Anak pertamanya Salmia Putri Yani duduk di kelas 2 MTsN Panti dan anak keduanya Pablo Aimar duduk di kelas I SLTP Padanggelugur. Untuk kedua anaknya ini, dia memberikan ongkos dan belanja sekolah masing-masing Rp10 ribu.

Sedangkan anak ketiganya Parel Dalego duduk di kelas V SD. Lalu, anak keempat Jidan Jidani bersekolah di taman kanak-kanak. Untuk kedua anaknya ini, dia memberikan belanja masing-masing Rp 5 ribu.

“Dengan kondisi pas-pasan, saya tidak sanggup membangun rumah. Bagi saya, hal terpenting saat ini untuk pendidikan anak,” ungkap Lani.

Sementara bantuan bedah rumah pernah diusulkannya ke pemda sekitar 2 tahun lalu. Namun, belum berhasil. Kini setiap hujan datang, lantai rumahnya selalu basah karena atapnya bocor. Ketika hujan datang, segala penampung akan keluar.

“Setiap hujan datang, banyak penampung air di dalam rumah seperti ember, panci dan penampung lainnya,” katanya.

Di rumah yang ditempatinya, hanya ada tempat tidur dan perabot masak. Dia tak memiliki fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK). Oleh karena itu, dia terpaksa harus pergi ke Batang Rambah. Katanya, saat ini bantuan yang diterima dari pemerintah adalah jaminan kesehatan nasional (JKN) dan kartu Indonesia pintar (KIP) dan bantuan raskin. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co