Selasa, 17 January 2017, 17:50:09 WIB

Ketika Cawako Payakumbuh Bicara Harmonisasi Hubungan Kada-Wakada

11 January 2017 11:19 WIB - Sumber : Fajar Rillah Vesky - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 13 kali

Pecah Kongsi di Pilkada, Riza-Wandel Ngaku Baik-baik Saja

Meski satu paket dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), tapi hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah di Indonesia banyak tidak harmonis. Ibarat pepatah Minang, mereka sasampan tapi indak sagamang, sapayuang bajauah hati, sabanta indak sarasian dan sarumah balain raso.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pernah merilis data, dari 1.026 pasang kepala daerah yang dipilih pada 2005 hingga 2013 hanya 55 pasangan yang harmonis sampai akhir masa jabatan dan mengikuti pilkada periode kedua. Sedangkan 971 pasangan lain (94,64 persen), justru pecah kongsi.

Persoalan disharmonisasi hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diperkirakan masih terjadi dalam kurun 2013 hingga 2016, rupanya membuat risau para panelis dalam talk show Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Payakumbuh 2017-2022.

Karenanya, dalam talk show itu, salah satu panelis, yakni Khairul Fahmi yang merupakan dosen Hukum Tata Negara Unand sempat menanyai seluruh calon wali kota.

“Bagaimana masing-masing Bapak, menempatkan wakil kepala daerah dalam menjalankan pemerintahan nanti? Apakah akan sharing (berbagi) kekuasaan, sehingga hubungan dengan wakil tetap harmonis?” tanya Khairul Fahmi disambut gemuruh tepuk-tangan ratusan pendukung calon yang menyaksikan talk show pada malam itu.

Mendengar pertanyaan pegiat Pusat Studi Konstitusi Unand itu, Suwandel Muchtar yang diberi kesempatan paling awal untuk menjawab, menegaskan bahwa dia akan mempertahankan hubungan dengan calon wakilnya saat ini, Fitrial Bachri hingga lima tahun ke depan.

Bahkan, kalau masih diberi amanah, Suwandel dan Fitrial akan menambah hingga lima tahun berikutnya (periode kedua).

“Saya lama bertugas sebagai aparatur sipil negara. Pasangan saya, Pak Fitrial juga lama di pemerintahan. Beliau pamong senior di DKI Jakarta. Bagaimana kiat menjadi bawahan dan atasan, kami sudah sama tahu dan mengalami. Kami sudah take and give. Pemerintahan saya akan berjalan harmonis. Kalau masih ada usia, kita tambah lima tahun ke depan,” kata Suwandel Muchtar yang saat ini tercatat sebagai wakil wali kota nonaktif pendamping Riza Falepi.

Berbeda dengan Suwandel, Riza Falepi dalam jawabannya, tidak menepis hasil survei atau penelitian Kemendagri dan LIPI soal disharmonisasi hubungan kepala daerah-wakil kepala daerah.

“Terima kasih, survei itu menyatakan itu. Kita kalau bekerja di sisi normatif, sebenarnya tak masalah. Aturan saja kita jalankan. Kalau (mendengar) kiri-kanan, terpengaruh hubungan itu,” tegas Riza Falepi. 

Mantan ’senator’ Sumbar di DPD-RI ini juga mengomentari soal hubungannya dengan Suwandel Muchtar. Meski harus berpisah dalam Pilkada 2017, tapi Riza memastikan silaturahmi mereka tak putus.

“Urusan politik saja kita tak maju bersama. (Karena) politik itu dinamis. Tak bisa saya saja yang putuskan (maju dengan siapa dalam pilkada). Tapi, saya dan Da Wandel, baik-baik saja. Saya fokus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Saya fair-fair saja,” kata Riza.

Sementara, calon wali kota independen Wendra Yunaldi dalam jawabannya mengatakan, bila diberi amanah oleh masyarakat bersama Ennaidi Dt Angguang yang berpengalaman di pemerintahan, sudah komitmen seiring-sejalan sampai masa jabatan berakhir. 

”Walaupun aturan yang ada, sudah ada pembagian tugas. Tapi bagi kami, dalam menjalankan pemerintahan, tetap seiring sejalan. Ketika Payakumbuh hebat, ya hebat berdua. Kami sudah membuat komitmen, Pak Ennaidi dengan pengalaman sebagai mantan kepala DPPKA akan mengawal efisiensi birokrasi dan keuangan. Beliau akan melakukan itu. Dan tak akan ada satu pun juga tim sukses atau orang lain yang bisa mengadu kami,” kata Wendra.

Selain berbicara harmonisasi hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah, seluruh calon wali kota Payakumbuh yang tampil dalam talk show Rabu malam, juga sempat berkomentar terkait pembangunan infrastruktur publik di kota ini.

Wendra Yunaldi dalam komentarnya menyebut, Payakumbuh yang terus berkembang, kini terasa semakin gersang. Sehingga, ke depannya bagaimana pemerintah kota mesti menyediakan ruang terbuka hijau sebagai ruang publik untuk bermain. Kemudian, sarana dan prasarana kebudayaan mesti ada. 

“Kami mesti punya gedung untuk acara kebudayan, acara pemerintah atau masyarakat. Sehingga kalau ada kegiatan daerah, tidak mengganggu jalan. Sarana untuk kegiatan publikasi juga mesti ada. Dalam visi-misi, kami juga berkomitmen meningkatan infrastruktur jalan dan listrik. Komitmen kami, Payakumbuh harus terang-benderang. Kami juga akan meningkatkan komunikasi dengan pemilik sumber air PDAM dan menekan terjadinya kebocoran-kebocoran,” kata Wendra.

Adapun Suwandel Muchtar menyebut, dalam meningkatkan pelayanan publik dia berkomitmen tak akan diskriminasi terhadap warga kota ini.

“Kami juga akan memperkuat sistem informasi pelayan publik. Informasi kepada masyarakat luas harus jelas. Kemudian, kami akan memperkuat unit pengadaan barang dan jasa, menghindari pungli dan korupsi. Kami akan bentuk saber pungli, memberi sanksi dan reward,” ujar Suwandel.

Sementara, Riza Falepi menyebutkan, peningkatan pelayanan publik sudah dilakukan di Payakumbuh dalam empat tahun terakhir. Bahkan, porsi anggaran dinaikkan untuk pelayanan publik.

“Proses pelayanan publik yang terbaik dan terbesar dalam empat tahun terakhir terjadi di sepanjang Batang Agam. Pemerintah membuka akses jalan, menormalisasi sungai dan menyiapkan ruang terbuka hijau,” kata Riza Falepi. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co