Sabtu, 25 November 2017, 01:41:01 WIB

Jaksa Fauzi Lindungi Kolega

11 January 2017 12:00 WIB - Sumber : JPNN - Editor :    Dibaca : 86 kali

Minta Rp 2 M, Menggerutu saat Diberi Rp 1,5 M

Sidang kasus pemerasan dalam penanganan perkara korupsi pelepasan tanah kas desa (TKD) di Kalimook, Sumenep, memasuki babak akhir. Terdakwa Ahmad Fauzi akhirnya melindungi keterlibatan jaksa lain. Dia hanya membongkar peran Abdullah, staf tata usaha di Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.

Kemarin (10/1), sidang kasus pemerasan itu memasuki tahap pemeriksaan saksi mahkota dan terdakwa. Dalam pemeriksaan saksi mahkota, Fauzi diperiksa untuk terdakwa lain, yakni Abdul Manaf. Begitu pula sebaliknya, Manaf menjadi saksi untuk Fauzi.

Dalam sidang, Fauzi keukeuh melindungi keterlibatan jaksa lain yang tergabung dalam tim penyidik kasus pelepasan TKD di Kalimook. Padahal, Fauzi mengakui bahwa dirinya sempat menyampaikan keinginan Manaf agar tidak dijadikan tersangka dalam rapat tim penyidik.

Keinginan Manaf itu tentu tidak gratis. Dalam sidang, Manaf mengaku dimintai duit Rp 2 miliar oleh Fauzi. Tapi, dia akhirnya hanya bisa memenuhi Rp 1,5 miliar.

”Saat itu ada agenda percepatan pemberkasan. Kepada tim (tim penyidik, red), saya sampaikan ada orang minta tolong saya lewat Abdullah,” kata Fauzi, menjawab pertanyaan hakim.

Adam Ohoiled selaku ketua tim penyidik, seingat Fauzi, meminta permohonan itu tidak ditanggapi dulu. Sebab, peran Manaf dalam kasus TKD tersebut belum diketahui. Pernyataan tanggung itu langsung dipotong karena Fauzi buru-buru membuat pagar untuk kawan-kawannya sesama jaksa.

”Tapi, apa yang saya sampaikan itu tidak dihiraukan oleh tim,” sambungnya. Pernyataan Fauzi tersebut tentu janggal. Sebab, sebagai anggota tim penyidik, dia tak bisa seorang diri menentukan status Manaf. Apakah dijadikan tersangka atau tetap sebagai saksi.

”Untuk menentukan status tersangka atau tidak, harus lewat ekspose (gelar perkara, red),” tutur Fauzi. Jaksa asal Bandung itu menyebutkan, dalam gelar perkara sempat ada jaksa yang setuju agar status Manaf dinaikkan sebagai tersangka. Tapi, ada juga jaksa yang tidak setuju.

Keanehan makin terlihat saat hakim mengorek prosedur penetapan tersangka. Dia mengatakan, tiga di antara lima anggota tim penyidik tidak sepakat untuk menjadikan Manaf sebagai tersangka kasus TKD. Kecuali menjadikan Manaf tersangka atas perbuatan memberikan uang Rp 200 juta kepada Wahyu Sudjoko.

”Kami sampai diskusi apa pintu masuknya kalau menjadikan Manaf sebagai tersangka,” tuturnya. Meski tahu bahwa Manaf sulit untuk dijadikan tersangka, Fauzi tetap menggali untung. Ketika uang Rp 1,5 miliar diantarkan, dia tetap menerima tanpa memberikan keterangan apa pun kepada Manaf.

Dalam sidang, Fauzi justru cenderung memojokkan Abdullah. ”Saya tak pernah ngomong soal uang kepada terdakwa (Abdul Manaf, red) maupun Hans (bos Manaf, red), Yang Mulia,” kilah Fauzi. Menurut dia, pembicaraan tentang uang justru disampaikan oleh Abdullah.

Nah, yang menarik, versi Manaf, keterangan Fauzi dan Abdullah sama-sama tidak benar. Keduanya dianggap saling mengingkari pembicaraan mengenai uang. Manaf mengaku bahwa Fauzi dan Abdullah sama-sama pernah membicarakan ”uang pengamanan” perkara TKD.

Manaf mengaku pernah menyampaikan kepada Abdullah bahwa dirinya siap memberikan uang Rp 750 juta agar tak dijadikan tersangka. Di sisi lain, Manaf juga pernah mendengar Fauzi membicarakan uang suap. Dia mendengarnya dari Hans maupun Abdullah. Saat itu Manaf mendengar Fauzi meminta Rp 2 miliar.

”Abdullah pernah menyampaikan permintaan dari Fauzi yang harus saya penuhi,” papar Manaf. Tapi, permintaan itu tak bisa dipenuhi. Abdullah lantas memerintahkan Manaf untuk menjual apa pun agar bisa memenuhi permintaan tersebut.

Manaf akhirnya hanya bisa menyerahkan uang Rp 1,5 miliar. ”Saat saya menyerahkan uang itu, Pak Fauzi sempat tanya kok hanya Rp 1,5 miliar. Kurangannya bagaimana?” ujar Manaf, menirukan pernyataan Fauzi kala itu.

Saat ditanya seperti itu oleh Fauzi, Manaf hanya bisa menunjukkan bukti penjualan rumah. Bukti tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa dirinya hanya punya uang Rp 1,5 miliar.

Manaf ingat betul, saat uang itu diserahkan, Fauzi sempat menggerutu karena yang disetor seharusnya Rp 2 miliar. Manaf yang mengaku tidak punya uang saat itu sampai menangis. Meski ada kekurangan, Fauzi tetap mengambil kunci mobil (mobil untuk menaruh uang) untuk mengambil uang tersebut.

Hakim sempat mencecar Fauzi, mengapa sebagai penegak hukum mau menerima uang dari Manaf. Jawaban Fauzi pun ngelantur. Dia beralasan sebenarnya tak terpikir untuk menerima uang dari Manaf. Uang yang diserahkan di mobil yang diparkir di halaman Kejati Jatim itu diambil begitu saja.

Setelah pemeriksaan saksi mahkota, Fauzi dan Manaf menjalani pemeriksaan terdakwa. Tapi, atas kesepakatan bersama, pertanyaan yang diajukan saat pemeriksaan saksi mahkota telah dianggap ditanyakan dalam pemeriksaan terdakwa.

Majelis hakim memberikan waktu dua minggu kepada jaksa penuntut umum (JPU) untuk menyusun tuntutan untuk Fauzi maupun Manaf. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co