Jumat, 23 June 2017, 07:08:22 WIB

Siswa masih Bawa Motor ke Sekolah

12 January 2017 11:19 WIB - Sumber : Yulicef Anthony - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 43 kali

Padahal Dilarang dalam Perda

Meski Pemko Solok telah melarang siswa membawa motor ke sekolah, namun tak diindahkan siswa. Larangan itu diatur dalam Perda Nomor 6 Tahun 2016 tentang Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit Masyarakat. Salah satu poin Perda tersebut melarang siswa membawa motor ke sekolah.

Namun sampai kemarin (11/1), masih banyak siswa yang membawa motor ke sekolah. Orangtua beralasan membiarkan anaknya bawa motor ke sekolah karena tak ada angkutan umum yang layak. Selain itu, untuk mengantar dan menjemput juga tak sempat. 

“Jika menggunakan jasa ojek menambah biaya saja,” ujar Rahmad, warga Nan Balimo.

Dia mengatakan, dua anaknya duduk di kelas 2 SMA di SMAN 4 Solok dan kelas 3 di SMPN 3 Solok. Anak pertamanya yang membawa motor ke sekolah. Dia mengakui anaknya memang belum cukup usia mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). 

"Mau gimana lagi, anak-anak terpaksa bawa kendaraan ke sekolah, demi efisiensi biaya dan waktu. Naik kendaraan umum, urusannya terasa  ribet, serta biaya yang dikeluarkan pun tinggi,” sebut Darmawi,50, warga Kelurahan Simpang Rumbio, Kecamatan Tanjungharapan, Rabu (11/1).

Anak kedua Darmawi masih duduk di bangku kelas VIII, salah-satu SMP negeri di Kota Solok. Sementara ia sendiri tiap pagi juga harus berangkat kerja tepat waktu. Maka sambil pergi ke sekolah, putranya mendapat tugas terlebih dahulu mengantarkan adiknya yang duduk dibangku SD. 

“Kalau pakai jasa ojek, mungkin ongkos mencapai Rp25 ribu tiap hari, bahkan lebih,” imbuhnya.

Sebagai orangtua sesungguhnya Darmawi menyadari tindakan itu sangat berisiko, mengingat usia sang anak tergolong masih labil untuk membawa motor sendiri. Namun baginya tidak ada pilihan lain.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Solok, Dodi Osmon tidak menampik jika siswa di kota beras tersebut banyak bawa motor ke sekolah. Termasuk pelajar SMP.

Namun sejauh ini Dinas Pendidikan telah berupaya secara bertahap untuk meminimalisir kebiasaan itu. Di antaranya sosialisasi langsung pihak sekolah pada orangtua siswa.

“Kita telah berupaya menekan kebiasaan bawa motor bagi pelajar semua tingkatan. Namun masih juga terjadi, khusus bagi pelajar SD-SMP, mereka secara fisik dan mental masih sangat labil, dan risikonya tergolong tinggi,” tukasnya.

Terlebih saat ini, Kota Solok telah mengantongi perda tentang larangan pelajar bawa motor ke sekolah, maka tidak ada lagi alasan kebiasaan tersebut tetap berlangsung. Solusinya Pemko Solok bersama SKPD terkait berencana menyediakan bus khusus sekolah.

“Kebetulan larangan tersebut sesuai perda buat pelajar SD-SMP, sedangkan pelajar SMA mungkin lebih kepada upaya penertiban alat-alat kelengkapan kendaraan. Lagipula teknis penertibannya masih dalam proses lantaran perdanya baru disahkan akhir tahun 2016 lalu,” imbuh Dodi Osmon. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co