Kamis, 24 August 2017, 15:49:46 WIB

Melihat Persiapan Pemindahan Jasad sebagai Bagian Sejarah Tan Malaka

12 January 2017 11:40 WIB - Sumber : Arfidel Ilham - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 35 kali

Membangkitkan Jiwa Juang dan Pemikiran Tokoh Nasional

Ketika nusantara dihimpit perebutan kekuasaan dunia, Ibrahim Tan Malaka datang dengan pemikiran persamaan untuk Indonesia dan sebagian dunia terbelenggu penindasan. Biarpun pemikirannya itu diwarnai kontroversi, namun sosok Ibrahim Tan Malakamemiliki rantai perjuangan heroik.

Lahir di Nagari Pandamgadang, Suliki, Limapuluh Kota, Sumbar, 2 Juni 1897 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada usia 51 tahun, Tan Malaka dikenal sebagai seorang pembela kemerdekaan Indonesia dan lebih awal mengutarakan pemikirannya dalam buku ”Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)” tahun 1924.

Anak dari ayah bernama HM Rasad, seorang karyawan pertanian dan ibunya, Rangkayo Sinah di Nagari Pandamgadang, Kecamatan Gunuangomeh (sebelumnya bernama Kecamatan Suliki Gunung Mas) ini, merupakan salah seorang tokoh dengan pemikiran cemerlang untuk mengakhiri penindasan di nusantara.

Wajar jika masyarakat tertarik dengan perjuangan tokoh asal Limapuluh Kota ini, pahlawan yang malang melintang dalam organisasi revolusioner jelang kemerdekaan Indonesia itu sempat terlupakan. Namun, kini seakan nilai-nilai perjuangannya hidup kembali.

Dua prosesi akbar bertema’menjadi bagian sejarah’, sebagai bentuk wujud nyata untuk menghidupkan lagi nilai-nilai sejarah perjuangannya. Rencana memindahkan jasad pemikir internasional itu dari  Selopanggung, Kediri, Jawa Timur akan menjadi bagian kelanjutan sejarah Tan Malaka.

Pelepasan delegasi tim penjemputan jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka dan upacara peringatan peristiwa Situjuah, bakal dihadiri para tokoh besar Sumbar dan nasional. Menurut rencana, dua prosesi akbar ini bakal berlangsung, Sabtu hingga Minggu (14-15/1).

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan memastikan, pelaksanaan pelepasan delegasi tim penjemputan jasad Tan Malaka dan peringatan peristiwa Situjuah sudah dikemas dalam bentuk kegiatan adat dan seremonial yang diakomodir pemerintah daerah bersama sejumlah organisasi masyarakat.

”Tidak hanya para tokoh Sumbar, kita mengundang para tokoh nasional hingga pejabat di lembaga pemerintah pusat supaya hadir di Limapuluh Kota,” kata Ferizal Ridwan saat meninjau persiapan pelaksanaan kegiatan dimaksud di Situjuahbatur, Situjuah Limo Nagari dan Pandamgadang, Gunuangomeh, Rabu (11/1) siang.

Menurut Ferizal, pelepasan delegasi tim penjemputan jasad Ibrahim Tan Malaka ini bakal terpusat di Kompleks Museum dan Pustaka Tan Malaka di Pandamgadang.

Prosesi tersebut akan digelar, Sabtu (14/1) secara adat oleh 142 pemangku adat/niniak mamak bersama masyarakat kaum Kelarasan Bungo Satangkai di tiga nagari, yakni Pandamgadang, Kurai dan Suliki.

Prosesi pemberian mandat dari unsur adat Kelarasan Bungo Satangkai, bakal diberikan kepada panitia tim penjemputan. Mereka merupakan pegiat Tan Malaka Institute (TMI) dan Yayasan Peduli Perjuangan (YPP) PDRI berasal dari tokoh sejarah Sumbar, pejabat daerah, insan pers, lembaga masyarakat hingga anggota DPR RI di Senayan.

”Dalam prosesi pelepasan tim delegasi penjemputan jasad Tan Malaka, kita mengundang Kementerian Sosial RI dan Kementerian Pertahanan RI di bawah Dirjen Pothan, antara lain Direktur Bela Negara, Direktur Cadangan dan Direktur Veteran. Kemudian, enam anggota DPR RI, serta kepala daerah Kota dan Kabupaten Kediri,” sebut Ferizal.

Sedikitnya ada enam anggota DPR RI yang diundang, di antaranya Khatibul Umam Wiranu selaku Direktur Eksekutif TMI Pusat, Mansiton Pasaribu, Asril Tanjung, Lukman Edi, Ade Rizky, Iqbal, serta anggota DPD RI Nofi Chandra.

Adapun dari pemerintah Kota dan kabupaten Kediri, panitia mengundang Bupati dan Wabup Kediri, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kediri, serta wakil Ketua DPRD Kota Kediri, KH O’ing Abdul Muid Shohib.

Selain legislatif, panitia juga mengundang para tokoh Sumbar lain, seperti mantan Gubernur Sumbar yang juga sesepuh Minangkabau, Azwar Anas, Gunernur Sumbar Irwan Prayitno, unsur muspida provinsi, TNI-Polri, kepala daerah dan pimpinan DPRD se-Sumbar, hingga para tokoh sejarah, budayawan, majelis ulama dan pimpinan media massa.

Usai pelepasan dan pemberian mandat penjemputan jasad secara adat oleh Ketua Kelarasan Bungo Satangkai, tim yang terdiri dari utusan perangkat Pemkab Limapuluh Kota, DPRD, Pemnag, pemangku adat dan ulama di Pandamgadang, dilanjutkan dengan prosesi upacara pelepasan peserta penjemputan, Senin (16/1).

Setelah dilepas, tim berangkat ke Kediri, menggali dan melakukan upacara pelepasan jenazah pada Selasa, 21 Februari 2017. Dari Kediri, jasad Tan Malaka akan diqirab melalui sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera, hingga tiba dimakamkan di Limapuluh Kota, Kamis 13 April 2017.

”Proses pemakaman Bapak Republik dilaksanakan seiring peringatan HUT Kabupaten Limapuluh Kota,” tuturnya. Menurut Ferizal, prosesi qirab melalui lebih dari 30 daerah yang pernah menjadi basis perjuangan Tan Malaka.

”Sedangkan untuk prosesi upacara peringatan peristiwa Situjuah dilaksanakan di Situjuah Batur, Minggu 15 Januari 2017. Mari ikut serta menjadi bagian sejarah, karena urusan sejarah menjadi tanggung jawab kita bersama,” imbuh Ferizal.

Eka Kurniawan Sago Indra, kepada Padang Ekspres menyebutkan, sejarah Tan Malaka pemikiran dan kemampuannya berjuang untuk Indonesia perlu menjadi bagian motivasi bagi generasi Indonesia. ”Kita mendapat apresiasi positif dari sejumlah teman-teman yang tertarik menjadi bagian sejarah,” sebut Eka Kurniawan Sago Indra. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co