Sabtu, 19 August 2017, 08:56:32 WIB

Melirik Kelompok Kerajinan Rotan Sisawah Sijunjung

12 January 2017 11:54 WIB - Sumber : Hendri - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 54 kali

Kontrak Terputus karena Modal Terbatas

Kelompok Rotan Ngalau Antobuong Jorong Kotobaru Sisawah memang baru dibentuk. Namun berkat inovasi dan kegigihan kelompok memasarkan, produk kerajinan tangan kelompok Ngalau Antobuong terus berkembang. Sayangnya, kontrak kerja terputus karena minimnya modal dan biaya produksi.

Kelompok Rotan Ngalau Antobuong ini dibentuk tahun 2015 oleh Syafdiwarman, perajin rotan di Kenagarian Sisawah. Awal dibentuk, jumlah anggota hanya empat orang. Namun saat ini telah berjumlah 8 perajin.

Untuk pemasaran, awalnya Syafdiwarman hanya mencoba menawarkan ke pedagang kerajinan rotan di Silungkang. Setelah berhasil menarik perhatian pedagang kerajinan di Silungkang, Syafdiwarman mencoba mencari peluang di Kabupaten Tanahdatar dan Bukittinggi.

Awalnya, hasil kerajinan rotan kelompok ini lumayan menggiurkan. Karena kontrak pertama terbilang besar, mencapai 300 unit kerajinan berbagai jenis. Mulai dari ayunan, kursi, hingga tempat buku. Namun karena biaya operasi yang besar, kelompok tidak memiliki dana sehingga kontrak tersebut tidak bisa terpenuhi.

“Kami sangat termotivasi kontrak yang besar dengan pedagang di Silungkang, Tanahdatar dan Bukittinggi. Namun saat itu kami tidak memiliki dana, makanya kontrak tersebut tidak terpenuhi seluruhnya,” ungkap Syafdiwarman.

Jika untuk kebutuhan lokal, kelompok tersebut memanfaatkan rotan yang terdapat di hutan Kenagarian Sisawah. Namun jika untuk kebutuhan luar daerah, kelompok membeli bahan baku (rotan) dari luar. 

“Karena kami tidak memiliki waktu untuk mencari bahan baku di hutan, kami mesti membeli dari luar, terkadang biaya untuk membeli bahan baku itu juga menjadi kendala bagi kelompok,” terang Syafdiwarman.

Selain masalah dana, kelompok yang terpusat di Jorong Kotobaru, Nagari Sisawah tersebut juga terkendala peralatan untuk mengolah rotan.

“Setelah kita koordinasi dengan Pemkab melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian Koperasi dan UKM, kita mendapat bantuan split. Alat itu digunakan untuk membelah rotan, dan alat itu belum kami pergunakan karena baru pelatihan beberapa hari lalu,” jelasnya.

Terkait sedikitnya Kelompok Ngalau Antobuong, Syafdiwarman mengaku tidak mampu mengkoordinir anggota yang lebih dari 8 orang. Namun diakuinya, dalam pelatihan yang dilaksanakan oleh Disperindag iikuti 25 peserta. “Anggota kita hanya 8 orang, namun yang ikut pelatihan banyak,” ujarnya.

Harapan yang sama diungkapkan Jusmadi, 44, anggota kelompok perajin lainnya. Jusmadi mengatakan, kelompoknya saat ini membutuhkan sebuah wadah yang menampung seluruh hasil kerajinan kelompok.

“Jika pemasaran lancar, keuangan kelompok juga akan lancar, dan itu akan membuka peluang bagi kelompok untuk kembali membangun kerja sama dengan pedagang,” harap Jasmadi. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co