Sabtu, 25 March 2017, 02:55:46 WIB

Nasib Abdullah di Tangan Jaksa

12 January 2017 12:08 WIB - Sumber : JPNN - Editor : Riyon    Dibaca : 11 kali

Namanya Sering Disebut dalam Sidang Suap Fauzi 

Nasib Abdullah sedang berada di ujung tanduk. Staf tata usaha bidang intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) itu bisa saja menyusul jaksa Ahmad Fauzi menjadi tersangka kasus pemerasan dalam penanganan perkara korupsi. Sebab, perannya telah disebut dengan jelas dalam sidang Fauzi.

Dalam persidangan selama ini, Abdullah ternyata tergambar tidak sekadar berperan mengenalkan Fauzi kepada Abdul Manaf. Manaf merupakan salah seorang saksi yang terancam menjadi tersangka dalam kasus penjualan tanah kas desa (TKD) di Kalimook, Sumenep, Madura.

Abdullah termasuk pihak yang memerintah, bahkan setengah memaksa, Manaf memberikan uang kepada Fauzi. Dia sempat menyuruh Manaf menjual apa pun yang dipunya agar bisa memenuhi permintaan Fauzi.

Manaf memang sejak awal bersedia memberikan uang kepada Fauzi. Uang itu diberikan dengan maksud agar tim penyidik Kejati Jatim tidak menjadikan Manaf sebagai tersangka dalam kasus penjualan TKD Kalimook. Manaf memang salah seorang pembeli TKD.

Penyidik mengendus keterlibatan Manaf, salah satunya, melalui bukti transfer. Setoran uang itu terjadi antara Manaf dan Wahyu Sudjoko. Wahyu adalah kepala seksi pengukuran Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumenep yang terlebih dulu menjadi tersangka.

Bukti transfer itulah yang menurut Fauzi merupakan bentuk membantu kejahatan dalam penjualan TKD Kalimook. Nah, lantaran takut dijadikan tersangka, Manaf meminta bantuan Fauzi. Tak bisa tembus langsung lewat Fauzi, Manaf kemudian meminta bantuan Abdullah.

Kepada Abdullah, Manaf menyatakan siap memberikan uang Rp 750 juta. Tapi, ternyata uang yang diinginkan Fauzi lebih dari itu. Jaksa asal Bandung tersebut meminta Rp 2 miliar. Permintaan itu disampaikan Fauzi lewat Abdullah.

Manaf sempat keberatan dengan nilai tersebut. Namun, Abdullah justru terkesan memaksa. Dia meminta Manaf menjual apa pun agar bisa memenuhi permintaan itu. Akhirnya Manaf hanya bisa memenuhi Rp 1,5 miliar.

Keterangan tersebut dibeberkan langsung oleh Manaf dalam beberapa kali kesempatan persidangan. Termasuk saat pemeriksaan terdakwa Selasa (11/1).

Fauzi juga sempat menyudutkan Abdullah. Dia mengingkari pernah membicarakan uang dengan Manaf. Pembicaraan soal fulus itu, kata Fauzi, hanya terjadi antara Manaf dan Abdullah.

Dengan fakta persidangan seperti itu, tentu posisi Abdullah berada di ujung tanduk. Nasibnya mungkin bergantung pada putusan hakim atas perkara Fauzi maupun Manaf. Wiwin Arodawanti, ketua majelis hakim, pernah memberikan sinyal kepada jaksa untuk mendalami peran Abdullah.

Sinyal tersebut disampaikan Wiwin saat memimpin sidang 3 Januari lalu. Saat itu Abdullah dihadirkan sebagai saksi untuk Fauzi maupun Manaf. Wiwin sempat kesal kepada Abdullah. Sebab, Abdullah selalu mengingkari pembicaraan soal uang. 

”Biar saja saksi lupa soal pembicaraan uang. Nanti kalau dia tersangkut, biar disidik kejaksaan,” ucap Wiwin sembari menoleh kepada tim jaksa penuntut umum (JPU). Hal tersebut juga diungkapkan hakim lainnya bahwa status Abdullah diserahkan kepada JPU. 

Sayang, terkait peran Abdullah yang tergambar begitu jelas pada persidangan, tak ada satu pun JPU yang bersedia mengomentari. JPU dari Kejaksaan Agung Erny Maramba hanya tersenyum saat ditanya mengapa Abdullah tak ikut dijadikan tersangka dalam kasus pemerasan oleh Fauzi.

”Saya kan hanya bertugas sebagai JPU,” ucap Erny. Begitu pula JPU dari Kejari Surabaya Jolfis Sambow. ”Jangan saya lah yang berkomentar,” kilahnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co