Sabtu, 25 November 2017, 16:46:30 WIB

Geliat Pedagang di Tengah Area Car Free Day

22 January 2017 11:34 WIB - Sumber : Surya Purnama - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 175 kali

Mulai Jelang Subuh, Keuntungan Tiga Kali Lipat

Hari bebas kendaraan alias car free day (CFD) sudah menjadi trend di sejumlah kota di Indonesia, tak terkecuali di Padang. Kegiatan ini dipergunakan masyarakat untuk beragam aktivitas olahraga, dan telah dilaksanakan sejak beberapa tahun belakangan di Kompleks GOR H Agus Salim Padang. Seperti apa?

GOR H Agus Salim menjadi satu-satunya tempat CFD di Kota Padang saat ini. Hal ini membuat kompleks olahraga terbesar di Padang itu selalu sesak pada setiap Minggu pagi.

Minggu (15/1) Padang Ekspres mengikuti kegiatan CFD di GOR H Agus Salim dari pukul 07.00 hingga pukul 09.00. Kepadatan tampak ketika baru mendatangi kawasan tersebut.

Terlihat pelataran parkir GOR H Agus Salim orang-orang sibuk melakukan senam pagi. Selain itu ada yang sibuk dengan olahraga yang lain dan sibuk dengan keluarga sambil berjalan-jalan. 

Hanya saja, kepadatan GOR H Agus Salim pada saat CFD tidak hanya karena pengunjung yang ingin melakukan aktivitas olahraga. Sepanjang kawasan GOR tersebut juga berjejer pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan. Kawasan CFD itu pun seakan-akan seperti menjadi pasar tumpah.

Kegiatan jual beli dalam kegiatan CFD ini memang sangat menguntungkan pedagang. Ramainya pengunjung, membuat transaksi mereka melonjak tajam dari tempat mereka biasa berjualan.

Seperti pasangan suami istri Riko, 35 dan Rice, 35. Mereka berdua adalah pedagang sayur yang mengais rezeki dalam kegiatan CFD. Sejak pukul  04.00 Subuh, mereka telah datang ke GOR H Agus Salim Padang dengan mobil VW Combi yang disulap menjadi “toko berjalan”.

Di pagi buta itu, mereka sudah sibuk mencari tempat untuk memarkirkan mobil untuk menggelar dagangan. Kepada Padang Ekspres, Rice mengatakan, di sini siapa cepat dia yang mendapatkan tempat.“Singkatnya, di sini tidak ada aturannya,” ujar Rice

Rice dan suami menjual berbagai macam sayur-mayur untuk kebutuhan keluarga. Di antaranya kembang kol, sawi, kentang, tomat, cabai, dan berbagai macam sayuran lainnya.

Dua sejoli asal Kotobaru ini memilih berjualan sayur karena dalam kegitan CFD ini tidak banyak yang berjualan sayur, terlebih di derah asal mereka Kotobaru begitu melimpah hasil bumi seperti sayuran, mereka memiliki ide untuk menjual sayur di CFD GOR H Agus Salim.

“Setahu kami hanya ada dua orang pedagang sayur yang berjualan di kegiatan CFD ini,” tambah Rice. Riko menambahkan, biasanya mereka berjualan ke kantor-kantor pemerintahan di hari biasa.

“Kalau biasa kami mendatangi kantor-kantor pemerintahan seperti kantor wali kota. Kami melihat saat ini orang maunya praktis, jarang yang mau berbelanja ke pasar, jadi kami manfaatkan,” ujar Riko yang pergi berjualan selalu dengan VW Combi-nya ini.

Riko mengaku mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dalam kegiatan CFD. Bahkan mereka bisa mendapatkan omzet 3 kali lipat dari biasanya, hanya dengan berjualan selama tiga jam saja.

“Kami betah berjualan di sini karena untungnya besar. Biasanya kami hanya mendapat Rp 500 ribu per hari di kantor pemerintah. Di sini dalam tiga jam kami bisa meraup untung tiga kali lipatnya,” ujar Riko.

Ia juga menambahkan, saat CFD tidak banyak uang yang harus dikeluarkan. Hanya bayar uang pasar Rp 5.000 ditambah uang parkir 2.000 serta uang kebersihan 2.000. “Pengeluaran kami di sini sedikit, sementara pemasukan besar, makanya kami betah berjualan di sini,” lanjutnya.

Lain lagi yang diperdagangkan Doni, 25 dan rekannya Afif, 25. Mereka berdua yang telah berjualan kelinci selama dua tahun ini mengaku iseng-iseng ikut berjualan di kegiatan CFD. Mereka berdua telah mendatangi GOR H Agus Salim sejak pukul 06.00.

“Saya sudah datang sejak pukul 06.00, di sini untuk mendapatkan tempat prinsipnya siapa cepat dia dapat,” ujarnya.

Doni mengaku telah 3 bulan terakhir mencoba peruntungan berjualan kelinci dalam kegiatan CFD. Biasanya ia dan rekannya berjualan kelinci di Simpang Ketaping Baypass.

Ia mengaku penjualan kelinci dalam kegiatan CFD ini tidak seramai penjualannya di Baypass, orang di sini hanya senang melihat-lihat.

“Di sini tidak begitu ramai yang membeli, biasanya paling cuma laku satu atau dua, kalau di Simpang Ketaping bisa laku enam ekor,” ujarnya. Afif menambahkan, saat CFD hanya diminta uang parkir dan uang kebersihan, kurang lebih sepuluh ribu rupiah. 

Sementara itu, ada lagi pedagang unik yang berjualan di CFD ini. CFD yang bertemakan olahraga, bapak berusia 60 tahun ini malah menjual pisau-pisau, parang dan benda tajam lainnya dalam di kawasan GOR H Agus salim ini.

Namanya Sabirin. Iya sudah sejak pukul 04.00 duduk menggelar dagangannya, ia yang berasal dari Pariaman mengaku sudah berangkat semenjak pukul 03.00 dari daerah asalnya.

Sabirin menyebut, dia mau jauh-jauh berjualan di CFD karena keuntungan yang ia dapatkan cukup besar dari biasanya. “Di sini karena banyak orang, jadi banyak yang membeli,” ujarnya

Sabirin juga menambahkan di CFD biaya yang harus ia keluarkan tidak banyak, hanya bensin 20.000 pulang pergi Pariaman–Padang, serta uang kebersihan, uang parkir yang biasa ditagih dua orang bersama dengan karcisnya. “Di sini biaya yang saya keluarkan tidak banyak, sementara pembeli banyak di sini,” ujarnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co