Selasa, 28 March 2017, 15:06:10 WIB

Semrawutnya GOR H Agus Salim saat Car Free Day

22 January 2017 11:37 WIB - Sumber : Taufik Hidayat - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 86 kali

Keberadaan Pedagang Mesti Ditata

Padatnya kunjungan masyarakat ke GOR H Agus Salim saat car free day, setiap Minggu pagi, memiliki potensi ekonomi yang cukup baik. Buktinya, banyak pedagang yang menggelar lapaknya di kiri dan kanan jalan di kawasan tersebut. Hanya saja, hal itu menyulitkan masyarakat untuk berolahraga.

Pengamat olahraga rekreasi dari Universitas Negeri Padang, Wilda Welis mengungkapkan, dengan adanya kawasan car free day akan bisa meningkatkan animmo masyarakat untuk berolahraga. Untuk olahraga rekreasi seperti lari pagi di sekitaran GOR, menurutnya harus dilakukan minimal tiga kali dalam seminggu.

“Kalau bicara untuk kesehatan, olahraga ringan seperti lari pagi di GOR harus dilakukan minimal tiga kali seminggu dengan durasi waktu 30 sampai 45 menit,” sebut Ketua Jurusan Pendidikan Kesehatan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Padang (UNP) ini kepada Padang Ekspres, Jumat (20/1).

Dia menilai penetapan kawasan car free day merupakan sesuatu yang positif. Mengingat, dalam melaksanakan aktivitas sehari-sehari, kebanyakan orang jarang sekali bisa bergerak. Dalam bekerja sebagian besar masyarakat lebih sering duduk maupun membawa kendaraan, sehingga cukup jarang bisa bergerak bebas.

Adanya kawasan car free day dia nilai juga menjadi kesempatan untuk berekreasi dan juga bersosialisasi dengan masyarakat lain. Juga di situ bisa menjadi kesempatan bagi komunitas olahraga untuk saling bertukar pikiran.

”Dengan adanya kawasan car free day, masyarakat bisa sejenak istirahat dari kebisingan yang selama satu minggu selalu mewarnai aktivitas,” jelasnya.

Dengan kondisi GOR setiap Minggu pagi yang cukup ramai dan dipadati oleh pedagang, dia mengingatkan, masyarakat untuk lebih hati-hati dalam melakukan olahraga. Apalagi, keberadaan pedagang cukup memadati badan jalan.

“Keamanan dalam berolahraga juga harus diperhatikan. Jangan sampai, karena berdesak-desakan justru menimbulkan cedera yang tidak diinginkan,” katanya.

Untuk itu, dia berharap pihak berwenang, dalam hal ini Pemko Padang bisa lebih proaktif dalam menertibkan para pedagang supaya jangan sampai mengganggu masyarakat yang ingin berolahraga. 

“Untuk pedagang mungkin sebaiknya jangan sampai mengganggu masyarakat yang sedang berolahraga,” ujarnnya.

Wilda menilai, untuk mengurangi kepadatan di GOR H Agus Salim setiap minggunya, bisa ditetapkan kawasan lain sebagai area car free day. Hal itu juga akan sangat membantu membiasakan masyarakat untuk bisa membiasakan berolahraga.

“Banyak penyakit yang diakibatkan dari kurangnya keinginan untuk berolahraga. Karena itu, cukup banyak kota yang menetapkan kawasan car free day. Kalau memang ada wacana untuk menambah kawasan car free day tentu sangat bagus,” ulasnya.

Tapi sekali lagi, dia mengingatkan, kawasan yang nanti ditetapkan sebagai kawasan car free day harus benar-benar aman dan nyaman untuk warga bisa berolahraga tanpa harus takut menderita cedera karena area yang ada tidak layak.

“Semuanya harus siap, pengaturan pedagang dan juga area untuk masyarakat berolahraga harus aman dan nyaman,” sebut Wilda.

Senada dengan Wilda, pelaku olahraga Sumbar, Delvi Adri juga mengaku cukup senang dengan ada kawasan car free day di Padang. Karena, dengan demikian dia bisa berolahraga sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Karena kesibukan di hari kerja. Kadang memang lupa juga untuk berolahraga,” sebutnya.

Asisten Pelatih Nilmaizar di Semen Padang FC itu menilai, kawasan GOR H Agus Salim cukup bagus untuk bisa berolahraga sekaligus rekreasi bersama keluarga. Tapi, keberadaan pedagang memang harus lebih ditata.

“Jangan sampai nanti, kawasannya bukan lagi untuk olahraga, tapi sudah berubah fungsi jadi pasar,” sebut Delvi.

Senada dengan Delvi, Pelatih PSP Padang, Jhoni Efendi menilai, kebaradaan pedagang yang memakai sebagian badan jalan memang cukup mengganggu bagi yang ingin berolahraga. Namun demikian, keberadaan pedagang juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Kalau tidak ada yang jualan. Saya juga tidak yakin bisa seramai biasanya,” katanya ditemui Jumat sore (20/1).

Menurutnya, pedagang hanya perlu sedikti ditata atau mungkin disediakan lokasi yang tepat saja. Apalagi dengan kawasan GOR yang sangat ramai setiap Minggu pagi perlu dilakukan pengkajian lebih matang, bagaimana menempatkan pedagang supaya tidak mengganggu yang berolahraga. 

Meski menginginkan Pemko menata pedagang, Jhoni Efendi tidak setuju dengan pelarangan pedagang masuk kawasan GOR di kawasan car free day. Karena, cukup banyak juga yang datang bukan saja untuk olahraga, melainkan hanya untuk rekreasi.

“Mungkin perlu pemikiran, bagaimana pedagang bisa lebih tertata, tapi tetap ada di GOR. Karena, tidak sedikit yang datang ke GOR untuk sekalian berbelanja.” ingatnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co