Rabu, 29 March 2017, 02:39:21 WIB

Membantu Anak Muda Agar Bertahan di Dunia Usaha

05 February 2017 12:06 WIB - Sumber : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 91 kali

Butuh Diferensiasi hingga Insentif Pajak

Akhir-akhir ini tak sedikit anak muda di Indonesia terjun ke dunia usaha. Di Sumbar pun demikian. Usaha yang mereka geluti, tak jarang menuntut daya kreatif yang besar. Tidak saja pada soal memasarkannya tapi juga produk yang mereka hasilkan.

Ada yang membuka usaha di bidang kuliner, konveksi, teknologi informasi (TI), dan berbagai usaha kreatif lainnya. Bidang usaha itu, terkadang betolak belakang dari latar belakang akademis mereka.

Pengamat ekonomi dari Universitas Bung Hatta, Syafrizal Chan mengatakan, anak muda yang membuka usaha, kebanyakan mereka yang sarjana dan terpelajar.

Menurutnya hal itu didukung dari perguruan tinggi yang mulai mengajarkan kewirausahaan kepada para mahasiswa. Bahkan juga diberikan dana kewirausahaan dari kementerian.

“Ini fenomena yang positif, karena dilihat lapangan kerja dari pemerintah makin sulit. Jadi anak muda sekarang lebih kreatif untuk membuka usaha, didukung dengan ilmu, yang mana mereka punya wawasan dan dapat melihat peluang apa yang bisa mereka kerjakan untuk kehidupan,” ucapnya, kepada Padang Ekspres, kemarin.

Syafrizal juga menyebutkan bahwa fenomena ini merupakan regenerasi dari sebelumnya bisnis secara tradisional ke bisnis modern. Yang namanya membuka usaha, harus selalu berinovasi.

Sebagai seorang entrepreneur harus tetap melakukan inovasi tiada henti. Mau tidak mau, para pengusaha pemula harus tetap melakukan perubahan, harus tetap belajar. 

Namun begitu, pengusaha pemula saat ini, melakukan hal tersebut relatif lebih mudah. Karena, menurut Syafrizal, entrepreneur saat ini kebanyakan orang terdidik dan punya wawasan. Mereka juga sudah familiar dengan teknologi dan media sosial yang membantu mereka untuk berfikir kreatif.

Untuk dapat bertahan dengan usaha yang dimiliki, Sayfrizal mengatakan para pengusaha pemula harus memiliki keterampilan berbasis teknik manajemen. “Secara teknis manajemen sangat perlu bagaimana, melakukan manajemen usaha yang dimiliki supaya dapat terus berkembang,” ucapnya. 

Dia mengingatkan, para entrepreneur harus memiliki jaringan, karena dalam berbisnis jaringan sangat penting dalam penambahan wawasan atau perkembangan usaha. Namun yang tidak kalah penting, dalam menjalani usaha adalah perilaku usaha atau etika.

“Seorang entrepreneur harus memiliki etika usaha yang baik. Misalnya dalam berusaha tunjukan etika santun dalam melayani,” katanya. Namun begitu, agar usaha tetap berjalan, yang terpenting sumber daya manusianya, bagaimana terus dan selalu belajar tiada henti.

Dengan fenomena banyaknya usaha yang dibuka oleh para pengusaha pemula yang berusia muda ini, pemerintah harus memberikan dorongan. Pemerintah dapat memberikan kredit dengan bunga yang rendah. Kemudian, juga memberikan insentif pajak.

Seperti selama tiga tahun pengusaha pemula ini bebas dari pajak dan mempermudah pemberian izin dalam membuka usaha. Lalu pemerintah memfasilitasi tempat atau lokasi-lokasi tempat para pengusaha muda membuka usaha.

Dengan begitu, efek ke depannya akan bertambah nilai ekonomi untuk kemajuan daerah dan menciptakan lapangan kerja.

“Banyak yang dapat dihasilkan dengan banyaknya entrepreneur muda ini pada akhirnya itu yang memberikan dorongan kemajuan ekonomi daerah dan uang masuk kepada daerah. Apalagi kalau usaha bisa menghasilkapn produk yang menghasilkan berbasis bahan baku lokal dan keterampilan anak muda itu akan membawa kemajuan. Pemerintah hendaknya harus kreatif juga,” jelasnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Taman Siswa, Padang, Beri Brilliant Albar menyebut potensi Sumbar menghasilkan wirausahawan muda cukup besar, sedikitnya mencapai 45 persen.

Berdasarkan data dari Bright, wirausahawan di Sumbar adalah anak muda yang dimulai dari usia 15 tahun. Hal tersebut tidak terlepas dari kemajuan teknologi, yang mana membantu untuk menumbuhkan para wirausahawan muda tersebut. 

“Ini keuntungan bagi anak muda yang terlahir sebagai generasi yang akrab dengan teknologi. Anak muda dekat dengan kreativitas dan semangat yang meledak, memiliki keberanian. Anak muda juga mampu mengikuti trend dan memiliki selera yang modern,” jelasnya.

Beri melihat untuk industri kreatif di Sumbar lebih menonjol pada bidang seni, desain, fashion, kerajinan, video, fotografi dan kuliner. Kecenderungan usaha tersebut terpengaruh dari usaha sejenis dari luar Sumbar bahkan luar negeri.

Hal tersebut disebut adaptasi inovasi karena hanya mengadaptasi apa yang sudah sukses di daerah lain. Lalu memperbaiki dan mengadaptasi sesuai selera konsumen di daerah Sumbar.

“Pada akhirnya semu usaha akan sama, tidak terdiferensiasi. Untuk menjadi lebih baik membutuhkan persaingan yang keras, tetapi dengan menjadi berbeda, setidaknya kita lebih terlihat. Potensi terbaik adalah menonjolkan ke khasan daerah karena ini adalah diferensiasi dasar yang sudah ditakdirkan sejak kita lahir di Sumbar. Kita punya seni dan kuliner dengan taste lokal dan kualitas internasional,” terangnya.

Namun begitu, Beri yang pernah menjadi juri kompetisi business plan melihat kebanyakan anak muda cenderung memiliki usaha yang sama. Untuk itu mereka para pengusaha muda ini butuh diferensiasi. Diferensiasi bertujuan agar usaha yang mereka miliki dapat terlihat.

Dengan tampil beda tentu para konsumen akan tertarik dan penasaran untuk mencoba. Tahapan diferensiasi adalah langkah awal untuk memperoleh first impression. Tahapan selanjutnya para pengusaha muda harus tetap menjaga kualitas dan selalu berinovasi.

Beri mengatakan dengan fenomena banyaknya lahir para pengusaha muda ini. Tentu, membutuhkan lingkungan dan fasilitas untuk menyuburkannya, dan pemerintah perlu menyediakan pasar, art market, event dan festival. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co