Sabtu, 27 May 2017, 13:12:09 WIB

Menyikapi Keberadaan Usaha dengan Mobil di Pinggir Jalan

12 February 2017 12:02 WIB - Sumber : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 97 kali

Dukung tapi jangan Korbankan Publik

Dari tahun ke tahun, gaya hidup selalu berubah mengikuti perkembangan zaman yang ada. Hal tersebut tidak bisa dihambat dan tidak perlu dihambat.

Begitulah kata pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Niki Lukviarman. Menurutnya masalah gaya hidup selalu terjadi perubahan dan tidak menutup kemungkinan juga terjadi di Kota Padang.

Selama perubahan ini positif tentu perlu dukungan dari segala pihak. Seperti saat ini menjamurnya usaha dibuka anak muda. Baik hanya sekadar membuka usaha kaki lima, menyewa tempat atau memanfaatkan mobil yang dimiliki.

“Gaya hidup anak muda sekarang, ya memang seperti itu suka nongkrong di kafe-kafe. Banyak kafe yang dengan mudah tumbuh tetapi belum tentu bisa dengan mudah untuk bertahan,” kata Rektor Universitas Bung Hatta ini. 

Ia mengatakan kafe yang mampu bertahan adalah kafe yang mampu menjaga keinginan konsumennya. Kebanyakan para anak muda nongkrong di kafe mereka pasti akan mencari kafe yang ada fasilitas wifi-nya. Bisa dibilang juga kalau kafe yang tidak memiliki fasilitas wifi akan ditinggalkan para konsumen.

Niki Lukviarman juga mencontohkan para konsumen saat ini telah pintar mereka akan membandingkan rasa makanan dengan harga makanan dijual. Kalau rasa makanan enak dan harga terjangkau sudah dipastikan tempat tersebut akan ramai dikunjungi.

Namun sebaliknya, jika harga makanan mahal ditambah dengan rasa makanan tidak enak, maka kafe tersebut akan ditinggalkan. Sehingga para pemilik kafe, harus kreatif dan inovatif dalam menyajikan menu makanan dan harga jual.

Terkait banyaknya, para entrepreneur saat ini ada yang memilih berjualan dengan mobil, Niki berpendapat, hal itu tidak terlepas dari kreativitas yang dimiliki oleh para entrepreneur tersebut.

“Kalau menyewa tempat mahal. Kontrak sebuah tempat mahal. Dengan mobil mereka tidak perlu mengeluarkan biaya kontrak. Apalagi dengan bentuk barang yang mereka jual tidak bertahan lama. Kalau tidak laku mereka tidak terlalu rugi, dibanding mereka mengontrak tempat,” terangnya.

Ia juga menilai berwirausaha dengan mobil memiliki keunggulan, karena bisa mobile atau berpindah-pindah tempat. “Kalau nggak laku bisa pindah, cari tempat yang ramai, disitu keunggulannya. Kalau memiliki tempat, di sana saja. Kalau tidak laku ya tutup,” sebutnya.

Namun begitu, Niki menerangkan kendala dari berwirausaha dengan mobil ini jangan sampai menggangu aktivitas lalu lintas. Misalnya mereka yang berjualan menggunakan kendaraan, berdiri di tempat yang ramai seperti sehingga membuat jalanan macet.

Untuk itu, ia meminta agar pemerintah tegas dalam aturan dengan cara mencarikan tempat di mana kawasan-kawasan yang memperbolehkan para pengusaha menggunakan kendaraan ini berjualan.

“Apa yang telah dilakukan para usahawan menggunakan kendaraan tersebut harus didukung tetapi jangan sampai mengorbankan kepentingan publik, pemerintah harus mengatur itu, pemerintah harus menetapkan daerah di mana jualan yang boleh menggunakan mobil. Prinsip pemerintah harus mengutamakan kepentingan publik jangan sampai mengganggu kepentingan publik,” jelasnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Andalas lainnya, Elfindri menilai, para enterpreneur yang berjualan menggunakan mobil tersebut, ada sebagaian yang terkendala dengan biaya sewa tempat yang cukup tinggi.

Sehingga untuk meminimumkan biaya tersebut, mereka membuka usaha dengan menggunakan kendaraan. Namun begitu, Elfindri mengatakan para pengusaha pemula harus berinovasi, bekerja dengan memecahkan masalah orang lain.

”Kalau membantu orang lain, usaha yang dijalankan bisa jalan. Kalau yang dicari hanya keuntungan saja, sebentar saja jalannya. Yang penting dalam berbisnis harus membangun kepercayaan terhadap konsumen,” ujarnya, sambil mengatakan inovasi akan lahir kalau pendidikan tinggi itu jalan. Karena di pendidikan tinggi atau perguruan tinggi saat sekarang banyak mengajarkan kewirausahaan.

Elfindri juga berharap agar pemerintah membuatkan peta-peta tempat, di mana saja boleh para pengusaha yang menggunakan mobil ini berjualan. 

“Pemerintah daerah harus menetapkan daerah-daerah mana yang boleh digunakan mobil market yang jelas penempatannya, kalau tidak akan mengganggu transportasi,” ujarnya. 

Untuk menjalankan usaha seperti ini memang dibutuhkan kreativitas dan kejelian melihat perubahan yang terjadi dan akan terjadi. Agaknya, apa yang pernah dilalui salah satu pengusaha muda Alimul Fajri bisa jadi pelajaran. 

Alid sapaan akrab dari Alimul Fajri sempat membuka usaha burger dengan brand Freak Burger pada 2009. Sempat memiliki beberapa mobil yang berdiri di beberapa lokasi di Padang ini, tetapi pada awal 2014 usaha yang didirikannya tersebut tutup. 

“Freak burger ini dulu ada di sekolah kompleks Semen Padang, di Taplau (Pantai Padang), di Jalan Patimura dan Pondok,” kata Alid yang saat ini memiliki usaha catering, laundry dan outbound.

Ia mengatakan, usaha tersebut tutup karena pasar yang mulai berubah, tidak banyak lagi konsumen yang membeli dan beralih kepada makanan lain.

“Menggunakan mobil kita bisa pindah-pindah lokasi buat mencari tempat yang lebih ramai dan tidak perlu memikirkan sewa tempat. Tapi cicilan mobil dianggap menjadi sewa tempat dan akhirnya mobil bisa menjadi milik kita,” terangnya.

Namun begitu ia mengaku kendala yang dihadapi dalam usaha menggunakan mobil box ini, biaya operasional yang tinggi, apalagi bila terjadi kerusakan pada mobil tersebut. Ditambah dengan cicilan mobil yang juga besar, waktu itu, Alid mengaku mengambil mobil dengan DP (down payment) yang rendah.

Kala itu, konsumen Freak Burger bisa dibilang dari segala kalangan, baik anak-anak sampai yang tua. Alid menyebutkan usia konsumen Freak Burger rata-rata dari 8 tahun sampai 40 tahun.

Yang mana saat itu, ia menjual satu burger dengan harga Rp 13 ribu sampai Rp 17 ribu tergantung dengan tipe burgernya sendiri. Sehingga untuk omzet yang diperoleh perhari mencapai Rp 350 sampai Rp 400 ribu dan saat weekend bisa mencapai Rp 1 juta. 

“Keunikan dari Freak Burger di banding burger lainnya, rotinya kita kukus, itu yang membuat berbeda,” sebutnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co