Rabu, 22 November 2017, 12:27:10 WIB

Masih Banyak Calon Pengantin tak Bisa Mengaji

19 March 2017 11:55 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 236 kali

Bikin Aturan Mengikat 

Persiapan pranikah menjadi hal terpenting sebelum membina hubungan rumah tangga. Salah satunya adalah pandai mengaji. Namun syarat mengaji saja tidak cukup menurut Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar M Sayuti Datuak Rajo Pangulu. Ia menyatakan sebagai orang Minangkabau ada 10 syarat pranikah yang harus dipersiapkan sebelum membina rumah tangga.

“Seperti mangaji, sumbayang, basilek, bakola (pasambahan), mamasak, manjaik, baladang, batukang, badagang, baparak. Ini sudah menjadi syarat wajib dan sebelum menikah pun orang Minang harus memiliki kepandaian ini,” ujar Sayuti.

Dia menambahkan seharusnya apabila syarat penting untuk membina rumah tangga hanya mengaji ini masih kurang. Minimal setengah dari 10 kepandaian orang minang tersebut harus dipenuhi sebelum menikah.

"Bahkan saya menyarankan bukan hanya syarat mengaji yang diwajibkan untuk anak Minang menikah. Tetapi kesepuluh kepandaian itu harus penuhi agar masyarakat Minang kembali memiliki identitas apalagi akhir-akhir ini angka perceraian di Sumbar cukup tinggi,” ujarnya.

Pemerintah harus melibatkan niniak mamak sebagai penasihat perkawinan. Sekarang semua hanya diserahkan kepada pemerintah. Seharusnya apabila syarak ingin ditegakkan maka adat juga harus ditegakkan, karena di Minangkabau ABS-SBK itu beriringan.

“Dulu ada namanya tuan kadi yang bertugas memberikan nasihat kepada calon pengantin. Sekarang negara tidak lagi melibatkan kaum adat. Langsung mereka yang menangani yaitu penghulu nikah dari pemerintah, sekarang hanya syarak yang diterapkan,” katanya.

Sayuti juga menyarankan seandainya pemerintah memang serius menjaga budaya Minangkabau tetap pada koridornya. Tanpa terpengaruh budaya luar seharusnya pemerintah menerapkan aturan ini dalam bentuk perda.

Baginya jika dibuatkan aturan yang jelas tentu bisa mengantisipasi angka buta huruf Al Quran ini. Padahal di Minangkabau kepandaian mengaji seakan melekat pada diri masyarakatnya. Padahal kehidupan religi dan budaya kental sekali.

Dia tak habis pikir jika ada orang Minangkabau yang tak pandai mengaji. Tentu perlu dipertanyakan siapa mamaknya. Apakah tak tahu kalau ada anak dan kemenakannya yang tak pandai mengaji. Apalagi di kampung-kampung, kehidupan di surau khususnya bagi yang laki-laki ibarat rumah kedua bagi mereka.

Di surau atau masjid inilah para lelaki Minang banyak belajar soal agama dan budaya. Jika ditarik dalam kondisi terkini, masih bisa kehidupan surau ini kembali digalakkan di Sumbar. Salah satunya dengan gerakan-gerakan yang diprogramkan pemerintah daerah.

Kata Sayuti peran pemerintah sangat besar dalam meningkatkan nilai religi pada masyarakat. Dia melihat jangan hanya sekadar program saja. Lebih ke aksi nyata dan konkret. Jika ini bisa dilakukan, tentu secara berangsur masyarakat Sumbar yang mayoritas Islam ini akan memiliki karakter islami.

Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Puti Reno Raudha Thaib, menambahkan dasar agama yang tidak kuat mengakibatkan dasar membangun rumah tangga tidak kuat. Yang perlu disadari bagi orang yang mau menikah adalah menikah itu merupakan takdir.

Makanya dia paling getol untuk menyerukan pendidikan agama jangan sampai terputus bagi manusia. Dia melihat ketika sudah SMP, tak mengaji lagi. Padahal bisa dilanjutkan dengan wirid remaja dan lainnya.

“Meski pilihan istri atau suami tersebut pilihan kita, namun itu sebenarnya adalah takdir Tuhan. Sebuah takdir jika disia-siakan tentu akan berdosa besar, maka persiapan yang harus disiapkan juga harus maksimal,” katanya.

Persiapan itu, katanya tak hanya sebatas materi saja. Bukan sebatas kelengkapan kamar, atau rumah. Namun kesiapan mental yang berkarakter religi merupakan hal yang sangat diperlukan.

Dia menyebutkan dengan memahami agama, kawin cerai tidak mudah terjadi terjadi, karena latar belakang agama yang tidak kuat atau pemahaman tentang agama itu tidak ada. Hanya saja teknis pelaksanaannya yang harus diperketat.

Raudah melihat kaitan ini sangat erat. Dengan memahami ketentuan agama dalam membina rumah tangga, tentu bisa saling mengerti dan menahan diri.

“Sementara di KUA sendiri teknis kegiatan yang dilaksanakan yang kurang bagus, karena di beberapa KUA terkadang hanya ditanyakan apakah bisa mengaji atau tidak. Melakukan tes atau pengujian pra nikah menurut saya akan mampu menekan angka perceraian,” tambahnya.

Raudha Thaib menyebut untuk menekan tingkat perceraian tersebut harus ada pembekalan pranikah. Yakni anak-anak yang akan menikah mendapat penjelasan bahwa pernikahan tersebut tidak hanya pertemuan laki-laki dan perempuan saja dan itu bukan suatu pekerjaan yang mudah.

”Kalau mengerti tentang agama tentu mereka mengerti apa arti pernikahan menurut ajaran Islam, mengaji dan shalat. Begitu juga dengan adat Minang, di mana di dalam masyarakat Minang menikah itu menghubungkan dua kaum untuk saling bersilaturahmi, akan memperkuat sebuah pernikahan,” katanya.

Ketua LKAAM Kabupaten Dharmasraya Zulfikar Atut Dt Pengulu Bosau mengaku miris dengan masih banyak calon pasangan yang tidak bisa mengaji. 

Untuk itu diharapkan kepada seluruh stakeholder seperti ninik Mamak, orang tua agar serius dalam menyuruh anak-anak mengaji, sehingga anak-anak bisa mengaji.

“Alangkah naif dan mirisnya umat Islam tidak bisa mengaji. Mari bersama-sama kta ramaikan lagi masjid, mushalla, TPA dan TPSA sebagai sarana  mendidik anak-anak untuk bisa mengaji. Sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat,” katanya.

Di samping itu kepada ninik mamak dan tokoh masyarakat agar turut berperan aktif dalam membantu para ustad membeikan uang  isentif bagi guru-guru mengaji tersebut.

Bupati Pasaman Yusuf Lubis menyebutkan untuk meningkatkan nilai keagamaan sudah dimulai berupa kegiatan. Seperti lomba baca Al Quran, hafal Al Quran, tulis Al Quran dan lomba keagamaan lainnya untuk tingkat PAUD, SD, SLTP dan SMA telah dilaksanakan.

Kegiatan seperti itu, bisa melahirkan keterbukaan dan keakraban dengan pasangan. Juga bisa menjadikannya sebagai waktu yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam rumah tangga setelah selesai baca Al Quran.

“Kemudian majlis ilmu ini sebagai taman syurga yang dicatat sebagai amal shaleh dan juga sebagai pendidikan dini bagi anak-anak. Karena sudah dibiasakan dari awal oleh orang tuanya,” katanya.

Dia mengimbau kepada masyarakat dan generasi penerus, untuk terus belajarlah Al Quran dari sekarang. Jangan sampai ketika akan menikah tidak bisa membaca kalam ilahi. Bahkan sekarang disebagian daerah untuk masuk sekolah harus bisa membaca Al Quran. Langkah seperti ini sangat bagus dan patut didukung semua pihak. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co