Rabu, 26 July 2017, 11:42:25 WIB

Penyesalan Pasangan Nikah Siri

26 March 2017 11:34 WIB - Sumber : Eka Rianto - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 110 kali

Anak tak Bisa Urus Akta Lahir, Terancam tak Sekolah 

Sudah hampir enam tahun Nayla, 34, (bukan nama sebenarnya) menikah dengan David, 36, (bukan nama sebenarnya). Saat ini, mereka telah memiliki dua anak. Yang pertama memasuki usia lima tahun. Anak kedua baru berusia dua tahun.

Pasangan ini mengaku melakukan nikah siri pada tahun 2011 lalu di satu daerah di Kabupaten Solok. Nayla mengaku saat itu, suaminya masih berstatus suami orang saat mereka menikah. Dia menampik kalau mereka pasangan selingkuh.

Saat itu, suaminya yang ditinggalkan istrinya. Dia menceritakan, istri dari suaminya itu pergi dengan lelaki lain. Suaminya baru mengetahui kalau istri pertamanya itu kembali berhubungan dengan pacar lamanya. Akhirnya, suaminya keluar dari rumah istrinya dan kembali ke kampungnya.

Kedua orang tua Nayla dan David masih satu kampung. Ketika masih SMP, mereka memang berpacaran layaknya remaja. Namun karena orang tua Nayla pindah tugas, terpaksa hubungan mereka putus. Setelah orang tuanya pension, orang tua Nayla kembali ke kampung.

Saat itulah, Nayla dan David bertemu. Diketahui, saat itu, David telah ditinggalkan istrinya. Dia memang belum punya anak dari istri pertamanya. Beberapa kali bertemu di sejumlah acara di kampung, bunga-bunga cinta itu kembali tumbuh.

Karena orang kampung mengetahui kalau David ditinggal istrinya, orang kampung setuju kalau pasangan ini menikah. Tak sampai satu tahun bertemu kembali, akhrinya pasangan ini menikah. Namun mereka menikah secara siri.

Pasalnya, David tak memiliki surat cerai. David saat itu tak mau mengurus surat cerai tersebut. Saat itu, hati David masih sakit. “Mendengar nama mantan istrinya saja dia langsung marah. Makanya, keluarga kami sepakat untuk nikah siri saja,” katanya.

Saat itu, kata Nayla tak ada keraguan dan kekhawatiran sama sekali. Mereka menjalani kehidupan dengan bahagia. Bahkan, usaha David dalam berdagang mengalami kemajuan. Di saat anak pertama mereka menginjak usia tiga tahun, mulai timbul kegelisihan.

Pasalnya, anak mereka tak memiliki akta lahir. Saat itu, ada saudara Nayla yang anaknya masuk SD. Ketika mendaftar, pihak sekolah menanyakan akta lahir. Akhirnya, anak saudaranya itu bisa bersekolah karena dijanjikan dalam enam bulan akta lahir anaknya ada.

Saudara Nayla itu menceritaan untuk mengurus akta lahir, dibutuhkan Kartu Keluarga (KK), KTP, keterangan lahir anak dari bidan, dan buku nikah. Mendengar mesti ada buku nikah, baru Nayla sadar kalau mereka tak punya buku nikah.

Saat itu, Nayla menceritakan pada suaminya. Beberapa hari berikutnya, suaminya mendatangi kantor camat hingga Dinas Pencatatan Sipil. Diketahuinya, anak yang membuat akta mesti ada syarat-sayarat tadi. 

“Sejak itulah saya mulai cemas. Bagaimana pendidikan anak saya nantinya,” kata wanita berambut panjang ini.

Dia dan suaminya masih terus berusaha untuk bisa mendapatkan akta lahir anaknya. Suaminya bahkan mau mengeluarkan biaya lebih agar anaknya ini bisa mendapatkan akta lahir. Sehingga tak terganggu pendidikan nantinya.

Pasangan nikah siri lainnya, Afriyanti, 31, (bukan nama sebenarnya), memiliki pengalaman buruk soal pernikahan siri ini. Dia telah dua kali menikah. Pernikahan pertama, dia menikah dengan pria asal Bengkulu. 

Dia mengenal suaminya ketika suaminya itu bekerja disalah satu proyek pemerintahan di Padang. Dia berkenalan lalu menikah. Pernikahan pertamanya ini dilakukan sesuai aturan pemerintahan dan agama. Pernikahannya tercatat di salah satu KUA di Kota Padang ini.

Tiga tahun menikah dan memiliki seorang putra, suaminya meninggalkannya. Saat itu memang ada persoalan keluarga yang membuat suaminya meninggalkanya.

Setelah dua tahun sendiri, akhirya dia menemukan jodoh lagi. Kali ini pria asal Jambi. Karena saat itu, status pernikahan Afriyanti ini tak diuurus, akhirnya mereka menikah siri saja. “Saat ini saya miliki dua anak, satu anak dari suami pertama, dan anak kedua dari suami kedua,” katanya.

Enam bulan lalu, dia mengurus akta anak pertamanya. Karena masih memagang bukuh nikah dengan suami pertama, akta lahir anak pertamanya bisa diurus. Namun, dia bingung mengurus akta anak keduanya ini. “Belum tau saya bagaimana status anak kedua saya ini. Apakah bisa diurus atau tidak,” katanya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co