Senin, 25 September 2017, 04:22:13 WIB

Aktivitas Program Kelas Ibu Muda di Puskesmas Padangpasir, Padang

16 April 2017 12:10 WIB - Sumber : Novitri Silvia - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 112 kali

Peserta Merasa Malu, Petugas Jemput ke Rumah

Kecil-kecil sudah punya anak. Anggapan negatif langsung dirasakan ketika masyarakat menyampaikan hal itu. Ya, itulah yang sering menjadi keluhan para ibu muda yang masuk dalam program Kelas Ibu Muda Inovasi KIA-IBU 2016 yang diadakan oleh Puskesmas Padangpasir, Padang. Apa saja program kelas ini?

“Bunda, kok mereka melihat kami seperti itu, kami malu kalau masuk ke sini. Orang-orang ngelihat kami seperti aneh. Kok mau ya, menikah muda padahal masih kecil,” kata Erna Mulyani, selaku penanggung jawab program kelas ibu muda tersebut menceritakan ke Padang Ekspres, Kamis (13/4).

Ya, para peserta program ini awalnya memang risih. Mereka mengeluhkan hal-hal semacam itu. Program ini dilakukan sebulan sekali. Biasanya di hari kamis, pada akhir-akhir bulan.

Di dalam sebuah ruangan yang dicat putih berukuran 4x6 meter persegi, terdapat sekitar 20 kursi plastik mengelilingi sebuah meja bundar dari kayu. Di meja tersebut terdapat sebuah alat proyektor. Di sanalah para ibu muda ini mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan terutama kandungan.

Biasanya, ada 20 ibu muda mengikuti program kelas ibu muda inovasi KIA-IBU 2016 yang diadakan oleh Puskesmas Padangpasir ini. Terakhir, dilaksanakan pada, Kamis (27/3). Banyak ibu muda merasa malu dengan tatapan orang-orang yang melihat mereka ketika berjalan sambil menggendong bayi atau dalam keadaan hamil, meski umur mereka masih sangat muda.

Kelas ini dikawal langsung oleh seorang dokter dan seorang bidan. Rata-rata, ibu muda itu berusia di bawah 20 tahun. Ada yang membawa balita dan bayi, serta ada juga yang tengah hamil. Terkadang, ada juga beberapa suami dan kerabat dari ibu-ibu muda tersebut mendampingi selama kelas berlangsung. 
Para ibu muda ini, antusias mengikuiti kelas yang dibimbing dr Ferdinal Feri SpOG.

Tujuan diikut sertakannya pendamping dalam kelas ini, agar menjadi keluarga yang siaga. Seperti suami yang akan menjadi suami siaga bagi ibu muda hamil. Mengetahui hal wajib yang dilakukan saat menuju persalinan. Bagi keluarga atau kerabat mengetahui cara mendidik dan membesarkan anak dalam membentuk karakter anak nantinya.

Kelas yang diadakan sekali dalam sebulan ini, memiliki satu materi dengan tiga kali pertemuan. Yang setiap bulannya, diakhir pembelajaran akan diadakan tes melihat sejauh mana materi bisa diterima oleh peserta. Dalam setiap kali pertemuan pemberi materi juga berbeda. 

Misalnya, pada pertemuan pertama akan disampaikan oleh dokter kandungan. Tujuannya untuk memberikan arahan dan pengetahuan mengenai proses kehamilan hingga persalinan. Pertemuan kedua akan disampaikan oleh petugas KUA yang ditunjuk.

Tujuannya untuk memberi arahan dalam membina rumah tangga serta bimbingan agar menjadi kelurga yang sakinah. Pertemuan terakhir akan disampaikan oleh dokter anak, tujuannya membimbing ibu muda dalam membesarkan anak serta mendidik anak hingga dewasa.

Pada setiap pertemuan diakhir kelas akan diadakan postest dan pretest, sebagi tolok ukur sejauh mana materi bisa dipahami oleh peserta. Jika dianggap lemah, maka akan dievaluasi dan dibahas kembali pada pertemuan selanjutnya.

Postest dan pretest berupa sesi tanya jawab, dengan memberikan sejumlah pertanyaan menyangkut materi yang disampaikan selama kelas berlangsung. Ini juga bentuk penilaian mengukur sejauh mana antusias dan partisipasi peserta di dalam kelas.

Menurut Erna Mulyani, kelas ibu muda tersebut, diadakannya program ini karena ditemukannya kasus kematian bayi dari ibu muda berusia 19 tahun di Purus. Alasan kematian bayi tersebut karena ibu bayi terlalu muda dan belum siap menjadi ibu. Sehingga ia tidak mengetahui cara perawatan bagi bayi dengan benar, hingga menyebabkan kematian. 

Oleh sebab, itu Puskesmas Padangpasir menginovasi KIA-IBU dalam program kelas bagi ibu muda. “Kami merangkul ibu-ibu muda untuk mengarahkan dan mendidik mereka. Cara membesarkan anak dan juga mempersiapkan proses persalinan diusia dini. Tujuannya agar mencegah adanya kematian bayi dari ibu muda. Juga menekan angka pernikahan di bawah usia 20 tahun atau pernikahan dini. Program ini sudah berjalan sejak awal tahun 2016,” jelasnya.

Menurutnya, pernikahan di bawah usia tersebut rentan keguguran. Hal ini dipicu karena pertumbuhan rongga panggul pada wanita di bawah usia 20 tahun belum sempurna. Sehingga menyebabkan rahim tidak kuat untuk menahan bayi di dalam kandungan. 

Menurut cerita Erna Mulyani, ibu-ibu muda tersebut merasa malu dan takut dengan pandangan masyarakat. Mereka berpikir pernikahan mereka merupakan aib bagi masyarakat karena usia mereka yang masih sangat muda. Mereka tidak berani dan takut dengan cibiran masyarakat yang menilai rendah terhadap status pernikahan mereka. Sehingga mereka enggan untuk mengikuti kelas ibu muda meskipun tidak dipungut biaya apapun.

Bidan serta petugas kesehatan lainnya berupaya membujuk ibu-ibu muda agar mau ikut kelas tersebut. Dengan berbagai cara salah satunya dengan mengunjungi rumah ibu muda dan memberikan arahan dan nasihat. Agar mau mengukuti kelas dan percaya diri. Tidak peduli dengan pandangan orang yang menilai mereka terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. 

Ibu-ibu muda tersebut mau mengikuti kelas dengan kesepakatan, pihak Puskesmas bisa merahasiakan identitas para ibu muda tersebut. Akhirnya, sekitar 17 orang hadir pada kelas tersebut. Kebanyakan pernikahan dini tersebut terjadi adanya pasangan yang yang sudah hamil sebelum menikah. Karena itulah mereka minta data mereka untuk dirahasiakan dari publik. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co