Sabtu, 25 November 2017, 16:43:24 WIB

Dampak Pernikahan di Bawah Umur

16 April 2017 12:12 WIB - Sumber : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 154 kali

Tinggi Risiko Kematian hingga Perceraian

Pasangan yang menikah di bawah umur (dini) menjadi perhatian dewasa ini. Pasalnya, dari data BKKBN Sumbar, sudah mencapai 6.083 pasangan dari tahun 2010-2015. Ternyata, pernikahan di bawah umur ini rentan pada kesehatan terutama wanita dan usia pernikahan.

Dilihat dari segi kesehatan, pernikahan dini memiliki berbagai macam risiko. Menurut dokter Spesialis Kandungan, dr Dovy Djanas SpOG KFM, kehamilan pada usia kurang di bawah 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik untuk ibu maupun calon anak. Kehamilan di usia muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. 

“Untuk anak perempuan berusia 10 hingga 14 tahun, berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibanding kelompok usia 20 hingga 24 tahun. Dan risiko ini meningkat dua kali lipat saat anak perempuan berusia 15 hingga 19 tahun,” ucap alumni Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tahun 1995 ini.

Ayah dua anak ini mengatakan usia yang bagus untuk hamil yakni 21 hingga 35 tahun. Apabila usia kurang meski secara fisik telah datang haid dan bisa untuk dibuahi, namun bukan berarti siap untuk hamil dan melahirkan. Dampak fisik dalam pernikahan dini memang sangatlah besar, baik dalam melakukan hubungan seksual ataupun dalam persalinan. 

“Pernikahan dini yang berlanjut menjadi kehamilan berdampak negatif pada status kesehatan reproduksinya. Proses kehamilan yang dapat terjadi anemia yang berdampak berat badan bayi lahir rendah, intra uteri fetal death, prematur, abotus berulang, pendarahan. Untuk proses bersalin terkadang belum matangnya alat reproduksi membuat keadaan panggul masih sempit dan sebagainya. Untuk itu, perlu pemantauan dan pemeriksaan ekstra yang lebih lengkap,” jelas lelaki berkacamata itu.

Dovy juga menambahkan, pernikahan dini dapat menyebabkan tingginya risiko kematian untuk ibu dan bayi, apabila seorang ibu menderita anemia ketika hamil dan melahirnya. Secara mental pun juga belum matang, yakni berpikir dan dapat menanggulangi risiko-risiko yang akan terjadi pada saat kehamilan dan persalinan.

“Seperti saat terlambat memutuskan mencari pertolongan jika terjadi kegawatdaruratan pada saat persalinan karena minimnya informasi. Sehingga terlambat mendapatkan perawatan yang semestinya,” ujar dokter yang buka praktik di RSU Citra BMC ini.

Selain berdampak negatif pada kesehatan, pernikahan dini juga berdampak pada peningkatan angka perceraian. Ketua Bundo Kanduang Sumbar Raudha Thaib menyebutkan saat melangsungkan pernikahan dini, seseorang belum memiliki kematangan secara fisik, biologis, mental, dan fisik. 

“Ibarat seperti membangun sebuah rumah, fondasi harus kuat. Apabila tak kuat, ditiup angin saja bisa langsung roboh,” ucapnya.

Raudha menambahkan, biasanya pernikahan dini terjadi akibat didorong karena faktor biologis Seperti hamil di luar nikah. Namun, tak ayal orang tua lah yang kadang menuntut agar sang anak segera menikah walau masih berusia dini. 

“Kadang karena faktor ekonomi dan juga ada beberapa orang tua yang takut anaknya berbuat yang tidak-tidak, lalu dinikahkan,” tambahnya kepada Padang Ekspres, Kamis (13/4).

Apalagi pernikahan ini terjadi karena si wanita hamil duluan. Tentunya sebelum hamil, pasangan ini telah melanggar norma agama. Yang jelas telah melakukan perbuatan dosa. “Melakukan hubungan suami istri sebelum nikah adalah dosa besar,” katanya.

Raudha menekankan agar orang tua dan keluarga membentengi anak-anak dengan agama. Tak hanya memperhatikan akademik saja, nilai-nilai keagamaan mesti ditanamkan pada anak sejak dini. Dia meyakini dengan kuatnya penetahuan agama pada anak, hal-hal negative seperti hamil diluar nikah ini bisa dihindari.

Tak salahnya jika orang tua, ninik mamak, dan kerabat untuk nyinyir dan tegas pada anak. Apalagi kemajuan teknologi juga memiliki pengaruh negatif pada tumbuh kembang anak. “Kalau benteng diri anak sudah kuat, hal-hal negative bisa dihindari,” katanya.  

Walau demikian, pernikahan dini dapat dicegah. Salah satunya menanamkan pendidikan terhadap anak agar dapat menikah saat sudah matang secara jiwa dan materi. Juga siap untuk membina rumah tangga.

Belum lagi, rasa malu yang akan ditanggung phak keluarga. Orang tua tentunya tak bisa merayakan pernikahan anakya kalau sudah hamil duluan dan menikah disuai yang masih sangat muda. Undangan akan bertanya, soal pernikahan tersebut.

Padahal, pernikahan itu identik dengan kebahagian. Jika menikah karena sudah hamil duluan dan disuai dini, tentu orang tua akan menjadi cemooh bagi masyarakat lain. “Yang menanggung malu bukan pasangan saja, tapi orang tua dan kerabat lainnya,” katanya.

Hal serupa juga diucapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad. Ia menegaskan perempuan dapat menjadi korban dalam pernikahan dini. “Keluarga berperan penting untuk mendidikan karakter seorang anak, tuntun mereka untuk bersekolah dulu. Karena pernikahan dini memiliki mudarat lebih besar ketimbang manfaatnya,” ucapnya. 

Duski mengatakan bahwa edukasi itu penting untuk menekan angka pernikahan dini. Kesadaran orang tua dan anak untuk memikirkan pernikahan diusia dini juga berpengaruh. Duski mengharapkan peran seluruh lapisan masyarakat untuk bisa mencegah hal-hal yang mengarah kepernikahan dini.

Misalnya, ketika nampak ada pasangan yang berduaan di lokasi gelap atau yang sepi untuk ditegur. Jangan dibiarkan saja. Kepedulian untuk menegur inilah yang mesti dihidupkan kembali. Jika masyarakat seluruhnya peduli, tentu tak ada peluang lagi bagi pasangan yang belum menikah melakukan asusila dan lainnya.

Untuk mengajarkan agama pada anak, bisa memasukkan anak pada tempat belajar mengaji. Seperti di Kota Padang, TPA/MDA banyak yang aktif. Guru-guru mengaji juga mengajarkan pendidikan agama secara keseluruhan. Dia meyakini dengan pendidikan agama yang bagus pada anak, anak akan sadar apa yang akan diperbuat. 

Namun, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Sayuti, mengatakan tak masalah melakukan pernikahan dini apabila seseorang sudah siap dari segi mental, materi, dan agama.

“Dia (yang melakukan pernikahan dini, red) harus bertanya terlebih dahulu terhadap dirinya apakah siap untuk menikah, apabila sudah siap, maka ucapkan kepada orang tua. Orang tua, juga pasti akan memastikan kesiapan anak untuk membina rumah tangga. Tak hanya itu, ninik mamak dan juga ulama akan memastikan kesiapan itu. Ditanya apakah sudah memiliki pekerjaan dan juga ditanyakan tentang agama,” jelas lelaki kelahiran Sawahlunto tersebut.

Sedangkan dilihat dari segi psikologi, pernikahan dini memiliki dampak psikologis terhadap anak perempuan yang menjalani pernikahan maupun si anak yang lahir.

Menurut seorang psikolog dari Universitas Andalas, Vivi Amalia, anak yang melakukan pernikahan dini belum berkembang dengan baik dari segi emosi maupun psikologis.

“Emosi yang tidak stabil, mengakibatkan stres yang tinggi. Selain ini mereka juga belum mengetahui tanggung jawab menjadi seorang istri dan seorang ibu apabila sudah memiliki anak. Dari segi ekonomi pun juga dapat menimbulkan masalah. Karena kebanyakan anak yang menikah diusia dini belum matang dari segi ekonomi,” jelasnya.

Tak hanya itu, anak juga bisa menjadi korban. “Misalnya ketika dia (anak perempuan yang menikah diusia dini, red) sedang kelelahan sudah bekerja, anaknya menangis. Emosi yang tidak stabil membuatnya suka marah-marah,” ucap dosen di Universitas Andalas itu.

Untuk menekan angka pernikahan dini, Vivi mengatakan agar remaja yang ingin melakukannya harus pikir panjang dan mengetahui dampak setelah menikah. Edukasi terhadap para remaja juga harus dilakukan. Edukasi mesti gencar dilakukan. Dampak dari pernikahan dini itu harus dijelaskan secara rinci dan mudah dipahami. “Edukasi harus dilakukan, minimal anak yang masih duduk di bangku SMP,” tuturnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co