Sabtu, 25 November 2017, 16:45:55 WIB

Aktivitas Komunitas Hidroponik di Padang

23 April 2017 11:42 WIB - Sumber : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 156 kali

Bisa Menghasilkan Rp 40 Juta dalam Sebulan

Saat ini, becocok tanam tak lagi hanya menggunakan media tanah. Namun bisa menggunakan media air. Inilah yang digalakkan komunitas pegiat hidroponik di Padang. Bagaimana konsepnya?

Salah satu rumah di kawasan Jati, terlihat berbeda. Halaman depan rumahnya terdapat susunan paralon dialiri air. Terdapat sejumlah tanaman di paralon yang telah dilubangi bagian atasnya. 

Ya, itu rumah Ferry K Soelaiman. Pria ini merupakan salah satu pegiat hidroponik. Saat ditemui Padang Ekspres, Jumat (21/4) lalu, dia menceritakan memulai bercocok tanam dengan media hidroponik sejak empat tahun. 

Berbagai macam sayuran telah ia tanam dengan cara hidroponik ini. Di antaranya salada, kangkung, bayam merah, bayam batik dan bayam hijau. Selain sayur, ia juga pernah menanam buah-buahan seperti melon, labu, tomat dan cabai.

“Bercocok tanam dengan hidroponik ini dari dulu sudah ada tapi belum popular. Masyarakat kebanyakan lebih mengenal bercocok tanam menggunakan lahan tanah,” ucap Ferry.

Ia menjelaskan bercocok tanam menggunakan media hidroponik ini tidak perlu menggunakan lahan besar, dan tidak perlu tanah. “Dengan media hidroponik ini kita bisa bertani dengan dasi,” ujarnya sambil tertawa. 

Selain itu keunggulan dari hidroponik, masa panen lebih cepat dibanding bercocok tanam dengan tanah. Ia menyebutkan dalam waktu tiga minggu sayuran yang ditanam dengan hidroponik sudah bisa di panen.

Saat ini, Ferry sendiri telah mencapai skala industri dalam bercocok tanam dengan hidroponik. Penghasilannya per bulan mencapai Rp 30 sampai Rp 40 juta. Ferry menjelaskan untuk skala industri harus memiliki 10 ribu lubang. Skala ekonomi 2 sampai 3 ribu lubang dan skala rumah tangga 100 lubang. 

Ferry juga mengaku untuk harga jual sayuran yang ditanam dengan hidroponik lebih mahal dibanding media tanah. Karena rasanya juga berbeda, dimana sayuran hidroponik lebih gurih dan tidak pahit. Untuk alat hidroponik, yang terbuat dari sambungan paralon-paralon tersebut dirangkainya sendiri.

“Alat ini namanya modul, pembuatannya tergantung kreativitas kita masing-masing. Bisa menggunakan alat bekas seperti botol-botol bekas. Atau dengan paralon lalu di beri lubang,” ungkapnya. 

Ferry juga menjual alat hidroponik ini senilai Rp 2,5 juta, selain itu ia juga menyediakan berbagai macam bibit sayuran. Dalam mempelajari ilmu hidroponik ini, selain belajar secara otodidak, Ferry juga rutin mengikuti seminar-seminar hidroponik. 

Tidak hanya itu, Ferry juga tergabung di salah satu komunitas hidroponik yang ada di padang yaitu Hidroponik Sehati. Komunitas Hidroponik Sehati ini baru berdiri selema empat bulan, anggota saat ini berjumal 10 orang. 

“Untuk menjadi anggota komunitas persyaratannya minimal harus memiliki 300 lubang tanaman. Kebanyakan anggota komunitas Hidroponik Sehati ini para pensiunan dan pemerhati per tanian,” terang Ferry. 

Komunitas Hidroponik Sehati juga rutin bertemu dalam satu bulan sebanyak dua kali. Selain berbagi ilmu, saat bertemu mereka juga berbagi finance. Misalnya ada anggota komunitas memiliki lahan yang luas tapi tidak memiliki modal, maka para anggota komunitas lainnya mencarikan investor.

Selain itu, di Padang juga ada Komunitas Hidroponik Sumatera Barat (HSB) yang telah berdiri sejak Mei 2016 lalu. Yang mana untuk anggota dari komunitas hidroponik terdiri dari semua kalangan. 

“Anggotanya dari semua kalangan, baik itu mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan kantoran swasta atau pemerintah bahkan dosen pun juga ada,” kata Pengurus Komunitas HSB Dasrul.

Dasrul mengatakan awalnya, ia mendirikan komunitas ini, karena dirinya sangat suka melihat seuatu hal yang hijau seperti tanaman. Ia juga mengatakan hal tersebut juga pengaruh yang gencar dari media sosial yang banyak memberitahu mengenai tanaman-tanaman hidroponik tersebut. 

Sebelumnya ia mengaku tanaman hidroponik telah banyak dilakukan masyarakat. Tetapi hanya pribadi saja. Karena itu, ia membentuk suatu komunitas, yang bertujuan agar yang hoi tanaman hidroponik dapat berkumpul dan saling berbagi.

Dengan telah terbentuknya komunitas hidroponik, kegiatan mereka telah pernah mengadakan pelatihan mengenai cara bertanam hidroponik, yang mana untuk narasumber di datangkan langsung dari Jakarta yang telah berpengalaman.

Dasrul yang juga merupakan Apoteker inimenceritakan untuk tanaman yang telah pernah dilakukan dengan metoda hidroponik ini yaitu tanaman bayam, kangkung, pagoda, daun mint, tomat dan terung.

Dasrul mengatakan untuk tanaman yang di tanam dengan hidroponik umumnya tanaman herbal. Ia mengatakan umumnya para anggota, awalnya hanya berniat menanam tanaman untuk memenuhi kebutuhan sayur dalam rumah tangga saja. 

Memanfaatkan ruang, artinya keluarga kecil yang tidak memiliki halaman luas dengan teknik hidroponik ini, dapat melakukan penanaman dengan efektivitas. Bahkan, telah ada para anggota komunitas ini yang sudah menjual panen tanaman hidroponik tersebut.

“Untuk tanaman hidroponik ini kan di rumah masing-masing, tapi hasil panennya juga sudah ada yang bisa menjual untuk lingkungan sekitar,” terangnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co