Kamis, 22 June 2017, 21:11:40 WIB

Ketika Pesantren Ramadhan tak lagi Monoton

14 May 2017 11:35:45 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 142 kali

Butuh Inovasi, Perkuat SDM Pengajar

Secara rutin, setiap Ramadhan Pemko Padang  menggelar program Pesantren Ramadhan. Program ini tentu diharapkan bisa membawa dampak positif dan perubahan pada generasi muda di Kota Padang. Meski begitu, evaluasi program mesti dilakukan agar tak sekadar ada saja.

Salah satunya dalam pengembangan kurikulum. Tentunya dibutuhkan inovasi agar program yang dijalankan siswa ini tak membosankan. Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, M Sayuti Dt Rajo Pangulu menilai perlu dimasukkan konten lokal. Ini berperan sebagai kontrol sikap siswa dan sebagai upaya pencegahan perilaku penyimpangan adat Minangkabau.  

Dalam kurikulum tersebut ia juga menegaskan sebenarnya adat dan agama merupakan hal yang sejalan dan bisa diterapkan dalam Pesantren Ramadhan. Makanya kurikulum muatan lokal perlu masuk dalam program ini. 

Salah satu contohnya, LKAAM mengadakan pembelajaran silek di SMPN 2 Padang pada tahun sebelumnya saat Pesantren Ramadhan. Hal tersebut cukup efisien. Terbukti siswa merasa senang dan tidak bosan selama mengikuti kegiatan. 

Namun saat ini, Pemko Padang tidak lagi melibatkan LKAAM. Sehingga hal tersebut tidak terealisasi lagi saat ini. Sayuti mengklaim jika pihak Pemko menunjuk LKAAM untuk mengambil peran dalam pesantren tahun ini, Ia akan bersedia menurunkan tenaga ahli yang berkompeten dalam bidang tersebut.

“Sejak Fauzi Bahar berhenti dari jabatannya, LKAAM tidak lagi dilibatkan dalam Pesantren Ramadhan,” akunya.

Pembelajaran yang berbasis video tidak efektif karena masih terbilang monoton. Hanya berupa interaksi satu arah yang akan membuat anak mengantuk selama pelajaran.

Seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa. Salah satunya diadakan games atau kegiatan yang mendidik lainnya. Yang dapat membuat anak bergerak aktif dan saling interaksi sehingga tidak merasa bosan.

Sebelumnya Pemko juga perlu melakukan penyeragaman terhadap guru dan panitia pesantren. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman guru atau panitia pesantren terhadap kegiatan yang akan dilakukan agar bisa terealisasi. Setiap guru ataupun kelompok yang terlibat memiliki tanggung jawab masing-masing dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban.

Tidak efektifnya program tersebut juga dirasakan Ketua Dewan Masjid Sumbar, Yulius. Menurutnya kurikulum pesantren harus dilakukan perubahan sesuai kondisi dan kebutuhan yang dialami peserta. 

“Saat ini konsep bacaan Al Quran anak-anak masih lemah. Sehingga harus difokuskan terhadap bacaan tersebut. Sebab itu adalah fondasi dan tiang dalam keagamaan. Kalau hanya materi-materi saja tidak efektif, hal ini juga mempengaruhi terhadap akhlak dan tindakan mereka. Bukan pahala yang didapat malah dosa yang diterima,” ungkapnya.

Ada unsur keterpaksaan terhadap anak dalam melaksanakan Pesantren Ramadhan, karena tidak paham tentang Al Quran. “Mereka takut pergi ke masjid karena, kalau diuji ternyata tidak pandai mengaji. Sehingga pesantren bukan lagi menjadi hal yang menyenangkan, tapi menakutkan,” tutur Yulius.

Kurangnya pengawasan dari Pemko dan dinas terkait dalam program tersebut tidak terealisasi secara optimal. Hal tersebut sudah disampaikan kepada dinas terkait namun sampai saat ini belum ada tindakan. 

“Saya sudah pernah membahas permasalahan tersebut dengan Wali Kota Padang, namun sampai saat belum nampak perubahan yang nyata,” katanya.

Ketua Labor Pendidikan Akhlak dan Moral Universitas Negeri Padang, Ahmad Kosasih menilai selain program yang belum efektif, ketersediaan sumber daya manusia masih belum mumpuni.

Guru pemateri masih kurang sehingga mempengaruhi jalannya kegiatan pesantren.  Selain itu banyak pemateri yang berbeda bidang ikut serta dalam kegiatan ini, alhasil tidak ada kesinambungan antara material dengan yang disampaikan.

Solusinya, perlu  diadakan koordinasi antara dinas terkait dengan pengurus masjid. Pemberian pelatihan khusus kepada pengurus masjid sebelum diadakan pesantren Ramadhan.

Menempatkan guru pengawasan  di tempat-tempat yang membutuhkan pengawasan. Selain itu, kurangnya evaluasi  dari pemko dan tidak ada pengawas pemko yang meninjau langsung ke lapangan.

“Lain lagi permasalahan tentang anak yang tidak pandai mengaji, harus diadakan kelas khusus dengan memanfaatkan waktu 10 hari tersebut si anak harus bisa membaca Al Quran,” ungkapnya.

Kabag Kesra Pemko Padang Jamilus menyebutkan untuk pengawasan sudah sesuai dengan proses. Dimulai dari lurah kemudian camat hingga ke kota. Dari segi SDM sudah ada sosialisasi kepada pengurus masjid untuk memberdayakan tenaga guru yang berkompeten dalam bidangnya. 

Untuk pelatihan guru pemateri akan ditambah waktu pelatihannya dari tahun sebelumnya. Target ke depannya pelaksana diharapkan sesuai keinginan. Menjadikan siswa yang berkualitas dan memiliki agama yang bagus.

Manfaat dari Pesantren Ramadhan yang sudah berdampak seperti anak-anak dapat menghafal  surat pendek. Juga dapat menjadi sekolah tambahan untuk pelajaran agama islam yang jadwalnya saat ini hanya dua jam di sekolah dengan 16 kali pertemuan.

Pemko Padang terus meningkatkan program Pesantren Ramadhan. Kegiatan ini diyakini dapat membina mental dan akhlak generasi muda. “Sehingga diharapkan output dari pelaksanaan pesantren Ramadhan bisa mengubah perilaku, sikap dan tingkah laku anak didik ke arah yang lebih baik,” katanya.

Pemko berupaya lebih memfokuskan terhadap pencapaian hasil yang lebih maksimal. Dengan melibatkan berbagai kalangan akan menjadikan Pesantren Ramadhan semakin terukur dan lebih mencapai sasaran.

“Tahun ini, ada 300 mentor yang diberi pelatihan. Mereka akan terlibat di sejumlah masjid dan mushala. Mereka juga akan bertindak sebagai pembimbing dan motivator bagi para siswa di sepanjang kegiatan pesantren Ramadhan,” jelasnya.

Sementara itu, tambahnya, tahun ini Pesantren Ramadhan akan berlangsung mulai dari 8 hingga 18 Juni 2017. Diikuti oleh siswa SD kelas 4-6 dan SMP kelas 1, 2, 3. Pendaftaran dimulai 15 Mei hingga 7 Juni.

“Karena pesantren tahun ini bertepatan dengan ujian semester, maka pelaksanaannya diperpendek. Jika tahun lalu dilaksanakan selama 15 hari, tahun ini hanya 10 hari,” tambahnya.

Hal ini akan memberikan semangat baru bagi peserta pesantren. Membuat suasana pembelajaran menjadi tidak menonton karena video akan lebih efektif menarik minat siswa untuk ikut pesantren.

“Ini adalah salah satu inovasi pembaharuan kurikulum yang disusun oleh tim penyusun kurikulum agar pesantren ramadhan tidak monoton lagi,” jelasnya.

Sebenarnya dalam kurikulum pesantren Ramadhan terdapat kurikulum muatan lokal. Yang bahan ajarnya lebih memfokuskan siswa untuk lebih mengenal adat Minangkabau. ini diberikan selama dua jam pelajaran setiap harinya.

Guru SDN 03 Batung, Andi Ardiman, mengungkapkan, program pesantren saat ini belum mampu menarik para peserta pesantren Ramadhan untuk betah beralama-lama di masjid. Sehingga dia berharap dinas terkait ciptakan terobosan baru yang pragmatis.

“Saya lebih sering melihat kondisi yang dirasakan siswa, sehingga antara kurikulum pesantren dengan situasi siswa saat ini tidak saling mendukung. Kalau tetap dipaksakan, dengan kurikulum yang tidak menarik tersebut, mereka akan memberontak. Alhasil banyak di antara siswa yang malas hadir pesantren, hal tersebut merupakan pekerjaan rumah (PR ) bagi kita semua dalam melakukan pengawasan,” katanya.

Dia berhatap semua pihak saling mendukung, baik itu, orang tua, guru, pengurus masjid, panitia pesantren, dan Pemko. Harus bekerja sama dalam pengawasannya.

Salah satu orang tua dari siswa SMP, Ratna Weti, yang mendaftarkan anaknya ke masjid terdekat dari rumahnya mengaku, sangat antusias sekali dengan diadakan pesantren Ramadhan setiap tahun. Sebab baginya ini adalah salah satu program mampu mencegah anak-anak berbuat hal-hal yang menyimpang, seperti membatalkan puasa.

“Program pesantren sangat bermanfaat sekali, biasanya anak saya sering bermain-main sampai tengah hari. Alhasil saat sudah lelah dia tidak kuat lagi puasa, akhirnya dibatalkan. Namun setelah dia ikut pesantren, puasanya juga bisa dikontrol,” katanya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co