Rabu, 22 November 2017, 12:26:57 WIB

Syadza Nuha Mahira dan Intan Komalasari, Mubalig Muda Wanita

28 May 2017 11:38:29 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 204 kali

Terus Belajar, Niatkan untuk Ibadah

Keberadaan mubalig wanita masih dirasakan kurang di Sumbar. Padahal, kemampuan mubalig wanita ini tak kalah dibanding pria. Ini yang dibuktikan Syadza Nuha Mahira, 11, dan Intan Komalasari, 23. Bagaimana perjalanan dakwah mereka?

Terpilih sebagai perwakilan provinsi dan mengalahkan ribuan peserta se-Indonesia, Syadza Nuha Mahira berhasil mengharumkan nama Kota Pariaman dalam berdakwah.

Meski hanya bertahan di babak 16 besar, namanya kini mulai dikenal masyarakat. Tidak hanya di lingkungan sekitar, ia juga sering dipanggil untuk mengisi berbagai iven penting daerah. Salah satunya dalam iven Pesona Gandoriah, tahun lalu.

Saza biasa ia dipanggil belajar dakwah dari secara otodidak. Di sekolahnya, SD Mutiara, yang berada di Ujungbatung Kota Pariaman, ia dibimbing oleh guru tafiz serta kedua orang tuanya dalam mendalami ilmu dakwah.

Ayahnya, Edi Mahfuz, seorang guru bahasa Indonesia melatih Saza dalam penyampaian materi. Yeni Kasmira, ibunya yang juga seorang guru bahasa Arab mendukung Saza  dalam mengembangkan bakatnya.

Saza yang baru menginjak usia 11 tahun mulai dikenal namanya setelah terpilih dalam program Dai Cilik yang diadakan oleh salah satu televisi sawasta di Indonesia pada Ramadhan 2015 lalu. Ia mendapat respons baik oleh masyarakat setelah wajahnya wara-wiri di televisi.

Ia mengaku belajar sendiri dengan menonton acara dakwah. Gayung bersambut, kedua orangtuanya pun mendukung penuh bakat yang dimiliki oleh putri sulungnya tersebut. Alhasil, Saza berhasil menggali potensi yang ia miliki dalam berdakwah. Dukungan juga ia dapat dari sekolah dan Pemko Pariaman. 

Di rumah yang berada di Kompleks perumahan SMAN 2 Jalan Cut Nyak Dien, Desa Rawang, Kota Pariaman, Saza berlatih dan menghafal materi ceramah yang akan ia sampaikan. Biasanya ayahnya menyiapkan materi ceramah yang disesuaikan dengan tema dan kondisi.

Ia pun sering dipanggil untuk mengisi ceramah diberbagai masjid, apalagi menjelang Ramadhan. Orang tua Saza tidak memaksakan anaknya dengan mengatur jadwal antara dakwah dan sekolah.

Agar prestasinya tidak menurun dalam akademis. Hal lain yang ia rasakan adalah “kecanduan” untuk mengikuti kompetisi serupa. Ia merasa senang dan tidak grogi saat tampil dilayar kaca. 

Ceramah yang disampaikanya umumnya ceramah bernuansa lucu, menghibur namun berisi ilmu agama yang ringan. Ini yang membuatnya disukai oleh para jamaah yang mendengarkan ceramahnya.

Ia disebut sebagai dai cilik yang lucu dan menggemaskan. Ini karena ia tampil menjadi dirinya dan dengan kepolosannya menyampaikan materi sesuai dengan usianya.

Berniat untuk Ibadah

Intan Komalasari, 23, dai wanita muda yang terketuk hatinya untuk selalu berdakwah karena bagi dirinya menjadi seorang ustazah adalah suatu ibadah. “Dengan menjadi seorang ustadzah, saya dapat mengangkat derajat orang tua di sisi Allah,” ujarnya, kepada Padang Ekspres, Jumat (26/5).

Dengan menjadi ustazah, selama ilmu yang dibagikan bermanfaat dan bisa diambil manfaatnya oleh jamaah, maka seorang dai akan mendapatkan aliran pahala. Meskipun dai itu sudah berada di alam kubur.

“Saya tidak menganggap bahwa pendidiikan formal tidak penting. Setelah lulus di pondok pesantren, saya tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1,” kata alumni Fakultas Hukum Unand tahun 2016 ini.

Dia bercerita, selama berdakwah belum pernah mendapatkan kesan yang tidak menyenangkan. “Akan tetapi jika jamaah merasa ada yang kurang atau keliru ketika saya berdakwah, biasanya jamaah lebih mengingatkan saya secara personal. Menemui saya dan memberitahukan kesalahan yang saya lakukan dan langsung memberikan sarannya yang bagus bagaimana dalam memperbaikinya,” ucap anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Intan mengaku, mulai menjadi ustazah sejak tahun 2011. Saat setelah dirinya menamatkan pendididkan dari Pondok Pesantren Sumber Sarokah, Karawang, Jawa Barat. Karena ingin mempraktikkan secara langsung kemampuannya, dengan memulai ceramah disekitar masjid/ mushalla yang tak jauh dari pondok.

Untuk menjadi ustadzah saya mendapatkan dukungan yang sangat besar dari keluarga, Karna dari kecil saya juga dididik oleh orang tua saya dengan aturan agama yg cukup kuat, sehingga setiap kegiatan mengenai agama akan selalu didukungnya.

Selama menjadi ustazah yang memberikan materi ceramah, sebagian besar pendengar ceramah, bisa memahami isi ceramah dengan cukup baik. Selain itu, disetiap berceramah, dia memberikan space waktu kepada masyarakat untuk bertanya seputar isi ceramah. Untuk materi ceramah, dia akan menyesuaikan dengan kondisinya. Contohnya dalam menyambut atau saat Ramadhan, materinya lebih fokus Ramadhan. (*) 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co