Kamis, 22 June 2017, 21:11:56 WIB

Dituntut untuk Terus Menambah Pengetahuan

28 May 2017 11:40:35 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 108 kali

Beri Kesempatan Mubalig Muda Tampil

Keberadaan mubalig muda di tengah masyarakat mulai dilirik. Pasalnya, banyak variasi yang diberikan para pendakwah muda ini dihadapan jamaah. Tentunya, jamaah pun berharap lebih pada isi ceramah yang disampaikan mubalig muda ini.

Seperti diakui Pengurus Masjid Taqwa Muhammadiyah Padang, Abdurrahman S Chan. Mubalig (dai) muda menurutnya memiliki daya tarik sendiri bagi jamaah.

Di samping diharapkan menambah wawasan dalam keilmuan, baik itu untuk agama, ilmu sosial dan ilmu lainnya berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia.

Sebab seorang ulama tidak hanya menguasai ilmu agama saja, tetapi juga ilmu adat istiadat, pengetahuan alam, serta ilmu pendidikan lainnya yang telah ada pembaharuannya.

Dia melihat tak ada lagi istilah mubalig muda sebagai “ban serap”. Ketika ulama itu tidak ada atau berhalangan, maka di sinilah peran dai muda diuji kemampuannya untuk jadi speaker di masjid yang telah ditentukan.

Jika pun ada ditemukan dai muda sebagai pengganti, itu tidak lebih dari bentuk pembinaan. Pengalamannya untuk menjadi speaker bagi jamaah yang mendengarkannya.

Tambahnya untuk pengisi ceramah di Masjid Taqwa, ia tidak pernah memandang apakah itu dari dai muda maupun senior. Paling utama dilihat ada isi ceramah yang disampaikannya. Karena di masjid ini yang dituntut, yang didengar dan dilihat dari mubalig itu adalah masalah dalamnya keilmuan yang dimilikinya.

Karena bagi Abdurrahman, belum tentu dai muda yang baru merambah dunia pengajian. Memiliki ilmu yang sedikit, sebab ilmu ini luas bisa didapatkan dimana saja, dan kapan saja.

Bisa jadi dalam pergaulan sosial dia bagus, dan pengetahuan yang cukup membuatnya untuk bisa menampilkan metode ceramah yang bisa diterima dari segala kalangan.

Untuk plus minus dai muda dan dai senior, perbedaan yang jelas dari ilmu. Untuk dai muda yang masih minim ilmu, tapi itu sebagain bentuk harapan dengan menambah pengalaman yang banyak untuk tampil dihadapan masyarakat. Dan juga belajar dari pada mendalami ilmu pengetahuan serta belajar dari pengalaman itu sendiri.

Sementara, Ris Efendi, 55, Wakil Bendahara Masjid Alfurqan Muhammadiayah yang beralamat di Jalan Abdul Muis, lebih mempercayakan pengisi materi ceramah kepada dai/ustad senior.

Karena penceramah untuk tahun ini telah terprogram dan disusun melalui kesepakatan yang dibuat bersama dai yang mengisi ceramah Ramadhan pada tahun 2016 lalu. Walaupun nanti ada beberapa pengisi ceramah dari pendatang baru.

Pada bulan Ramadhan tahun lalu, juga pernah diisi oleh dai muda tapi itu posisinya sebagai pengganti ustad senior tersebut. Biasanya dai mudanya yang sudah dipercayakan dan sudah menguasai materi ceramahnya.

Di sisi lain, menurutnya, bagus jika bisa menampilkan dai muda sebagai pengisi ceramah di setiap masjid. Karena membantu melanjutkan regenerasi dunia dakwah agama Islam.

”Dari dai senior jam terbangnya lebih tinggi dan terjadwal. Untuk beradaptasi dengan jamah mesjid biasanya lebih mudah, karena dia juga sudah mengetahuinya. Begitu juga kajian ceramahnya sudah kental sehingga sudah menjiwai dengannya,” tuturnya.

Untuk dai muda harus belajar lebih mendalam lagi setiap materi yang akan disampaikanya. Terlebih belum mengenal karakter jamaahnya karena kurangnya jam terbang menjadi penceramah. Beda lagi ceritanya jika dikhususkan pada hari tertentu untuk tema tertentu dengan pengisi ceramah dari dai muda.

Pengurus Masjid Baitul Mukminim yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Syafriyusar, 72, dai muda bukanlah sebagai pengganti senior. Dai muda biasanya telah menempuh ilmu pendidikan agama sesuai dengan dalil, dasar ilmu pengajian agama.

Karena dari segi ilmu dai ini sudah diakui memahami dalil-dalil dan dasar pendidikan agama yang bisa dipertanggung jawabkan. “Untuk kekurangaan dai muda saat sekarang ini yaitu masih minimnya pengetahuan generasi muda mengenai filsafah yang ada di Minangkabau. Seperti makna adat basandi  syara’, syara’ basandi kitabullah.

Tapi untuk perkembangan ilmu dan materi, dai muda saat ini masih bisa menyeimbanginya melalui pengetahuan ilmu teknologi yang berkembang seperti saat ini. 

Menyikapi keberadaan mubalig muda dan kesempatan berdakwah, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Abdul Salam menuturkan setiap mubalig senior merekrut beberapa kader mubalig muda.

Kader itulah yang nantinya penjadi penerus dalam berdakwah. Sebelumnya kader itu diberi pelatihan dan pembekalan terlebih dahulu, barusah setelah pembekalan diutus ke masjid atau mushalla untuk berdakwah.

Dari berdakwah itulah, para kader mengetahui dan paham dimana letak kelemahannya. Dari sana mereka belajar untuk menjadi lebih baik lagi untuk dakwah selanjutnya.

“Tujuan seperti itu untuk memperkenalkan kader kepada masyarakat. Dari sanalah masyarakat tau dengan mereka apakah mereka mampu atau tidaknya dalam berdakwah,” tambahnya lagi.

Karekteristik kader yang akan diutus kelapangan akan dikondisikan sesuai dengan keahliannya. Seperti yang ahli fiqih atau akhlak yang ditujuka memberikan dakwah kepada masyarakat kelas umum. Dari sanalah para senior mengetahui bagaimana perkembangan kadernya masing-masing, apakah diterima jamaah atau tidak.

Abdul Salam menegaskan, paradigma terkait mubalig muda yang menjadi cadangan adalah salah persepsi. Mubalig muda yang diutus sebagai pengganti bertujuan untuk melatih kemampuan dakwah yang dimiliki.

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia  Sumbar, Ahmad Kosasih mengatakan pengurus berfungsi untuk memberikan pelatihan kepada calon dai atau mubalig disemua golongan. Dengan cara memberikan pelatihan yang nantinya akan diberikan sertifikat pelatihan.

“Hampir setiap tahun melakukan pelatihan. Satu kali pelatihan diikuti lebih kurang 50 orang,” ucapnya kepada Padang Ekspres, Jumat (26/5).

Ahmad Kosasih memberikan pendapat tentang kaderisasi, ia menuturkan dalam hal perekrutan kader-kader dakwah harus diseleksi. Disesuai dengan situas dan kondisi yang dibutuhkan oleh jamaah. “Tidak boleh asal-asalan dalam kaderisasi, harus sesuai dengan tempat dimana ia diutus,” tambahnya lagi.

Apabila tak sesuai,akan  timbul kekecewaan dari jamaah. Untuk menggantikan mubalig senior, harus dicari yang sesuai dengan bidang dan kemampuan dari senior yang digantikan.

Dai yang didominasi lelaki membuat Ahmad Kokasih berharap munculnya kader dai wanita. “Saat ini dai wanita bisa dibilang langka. Mungkin hal itu disebabkan banyaknya hambatan-hambatan yang menjadikan dai wanita itu tidak ikut berpartisipasi menjadi seorang pendakwah. Padahal banyak dai wanita yang berkompeten,” katanya.

Dewan Dakwah memiliki program yang dikhususkan untuk dai wanita. Pengurus dai wanita disebut dengan muslimat dewan dakwah. Muslimat dewan dakwah memberi pelatihan-pelatihan untuk wanita. Dari pelatihan tersebut, pengurus mampu menciptakan dai perempuan. Namun, hingga saat ini belum terealisasikan dengan baik.

Sementara, Ketua Ikatan Dakwah Indonesia (Ikadi) Sumbar Urwatul Wusqa mengatakan para dai muda sudah memiliki jadwal masing-masing. Ikadi tidak mengenal istilah dai muda sebagai pengganti dai senior. Apabila dai senior berhalangan, penggantinya pun tak harus dai muda.

“Biasanya dalam pergantian dakwah yang berhalangan hadir, yang menggantikan dai yang bisa saat itu,” ucapnya.

Pelatihan untuk dai muda juga diberikan, dengan tujuan meningkatkan kemampuan dai muda. Dalam pelatihan itu, dai senior menceritakan pengalamannya dalam berdakwah. Urwatul menekankan bahwa dakwah yang disampaikan harus sesuai dengan dalil yang diajarkan dalam agama islam. 

Kasi Penerangan dan Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumbar, Syahrizal di Kemenag mengenal penyuluh agama. Seorang dai harus bisa memberikan informasi edukasi pendidikan dan agama.

Dai juga harus bisa menjadi tempat untuk berkonsultasi bagi masyarakat, dapat membedakan masalah-masalah dalam bidang sosial, ekonomi, dan juga politik. 

Sedangkan advokasi para dai mampu menjadi pelindung bagi masyarakat muslim dari sisi keagamaan Islam tidak hanya dalam hal keagamaan juga di mata hukum.

Syahrizal menegaskan, bahwa seorang dai tidak boleh memberikan materi ceramah yang sifatnya profokator. Seorang dai pun mampu memberikan pesan-pesan pembanguna melalui bahasa agama.

Masalah latar belakang pendidikan, Kemenag mengharuskan para dai pendidikan formal agama. Namun tidak menutup kemungkinan untuk para dai yang berasal dari pendidikan formal non agama bergabung. “Boleh asal mendapatkan rekomendasi resmi dari MUI daerah setempat,” tambahnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co