Jumat, 23 June 2017, 07:13:57 WIB

Geliat Kafe, Restoran, dan Hotel saat Ramadhan

04 June 2017 10:56:24 WIB - Sumber : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 87 kali

Sajikan Paket Berbuka, Sediakan Tempat Ibadah

Tren buka bersama di restoran, kafe, dan hotel disambut antusias pengelola dan pemilik usaha ini. Bahkan ada pengelola yang membuat berbagai menu buka bersama yang menarik. Paket-paket menu dengan berbagai harga ditawarkan pada masyarakat. 

Seperti halnya Karambia Cafe di Jalan Batang Arau, Padang Barat yang menjadi tempat favorit kalangan keluarga, anak muda, bahkan karyawan perusahaan yang ingin berbuka bersama.

Manager Karambia Cafe, Wikhe Vivi Laranche mengatakan kafe yang sudah berdiri sejak Februari 2016 ini memiliki khas sendiri untuk menu makanan yang disajikan. Dengan menggunakan batok kelapa sebagai pengganti piring, salah satunya nasi goreng.

“Selain itu Karambia Cafe juga menyediakan menu andalan seperti iga bakar, sup ikan dori, dan es pisang ijo,” ucap wanita 21 tahun ini.

Untuk masalah kenyamanan beribadah konsumen, Wikhe mengatakan Karambia Cafe yang buka dari pukul 14.00 hingga pukul 24.00 ini juga menyediakan mushala yang terletak di sebelah kafe dengan luas 3X4 meter.

Karambia Cafe juga menyediakan tujuh menu paket buka puasa dengan tarif harga dan pilihan menu yang berbeda pula. Salah satunya Paket B diperuntukkan empat orang dengan tarif Rp 160 ribu dengan menu utamanya nasi ayam kecap dan ayam rica-rica.

Untuk paket per orangnya, kafe ini juga menyediakan dengan harga mulai dari Rp 45 ribu hingga Rp 55 ribu. Free takjil juga diberikan kepada konsumen untuk berbuka puasa.

Peningkatan omzet saat bulan puasa dirasakan Wikhe. Wanita berambut pendek ini menuturkan untuk omzet mengalami peningkatan dua hingga tiga kali lipat dari bulan biasanya.

Namun, pada minggu pertama bulan puasa, pengunjung cafe masih dirasakan belum terlalu ramai. Tetapi, di minggu kedua puasa Wike mengatakan sudah banyak menerima booking dan reservasi, baik itu personal, grup ataupun perusahaan.

Selain Karambia Cafe, juga ada Tali’Ka Coffee yang berlokasi di Jalan Ir H Juanda, juga menyediakan berbagai pilihan menu berbuka dengan paket menarik.

Owner Tali’ka Coffee, Awang Ramadhan mengatakan kafe yang ia kelola menyediakan menu andalan yakni Ayam Tali’ka yang dibuat oleh barista kafe dengan resep yang diracik sendiri oleh barista. Tak hanya itu, cabai pun juga memiliki cita rasa yang berbeda karena diolah dengan bumbu dan rempah-rempah istimewa.

“Rasanya tentu saja berbeda dari yang dijual di tempat lain,” tutur Awang.

Selain itu, unggulan Tali’Ka Coffee lainnya dikatakan Awang terdapat pada coffee-nya. Rata-rata pengunjung Tali’Ka Coffee karyawan kantoran, menikmati makanan dengan segelas kopi disebutkan Awang menjadi daya tarik tersendiri bagi Tali’Ka Coffee.

Lelaki 23 tahun ini menuturkan, ia sudah merasakan peningkatan pengunjung di Tali’ka Coffee diawal bulan puasa. Awang pun memprediksi peningkatan ini terus dirasakan meningkat saat ini masih awal bulan Ramadhan. Selain menyuguhkan menu yang menggugah selera, Awang juga memikirkan ibadah konsumennya. 

Dia mengatakan lantai dua Tali’Ka Coffee disediakan tempat ibadah dengan luas 4x4 meter. Lelaki ini mengatakan, tempat shalat di kafenya sangat penting, mengingat mayoritas konsumen dari Tali’Ka Coffee beragama muslim.

Untuk paket Ramadhan, Tali’ka Coffee menyediakan tiga paket dengan harga Rp 30 ribu per orangnya. Masing-masing paket disuguhkan menu utama yang berbeda, pelanggan bebas memilih.

Selain cafe, hotel juga menjadi pilihan lainnya untuk mengadakan berbuka puasa bersama. Salah satunya Grand Zuri Hotel yang terletak di Jalan M Thamrin , Alanglaweh.

Untuk paket buka puasa, Grand Zuri Hotel memiliki paket berbuka puasa dengan tari dari Rp 55 ribu hingga Rp 70 ribu per orangnya. Dengan menu andalan sampadeh untuk paket Rp 55 ribu per orang dan dendeng batokok air kelapa untuk oaket Rp 70 ribu per orangnya.

Selain itu, Grand Zuri Hotel juga menyediakan paket berbuka puasa untuk empat orang dengan suasana kampung, yakni menikmati santap berbuka puasa di Kampung Saung, sebuah pondok yang dibuat dengan bambu beratap rumbai dengan paket Rp 500.000.

Untuk fasilitas mushala, Grand Zuri Hotel memilikinya, tepat ke arah sebelah kiri restoran yang berada di lantai dua. Menurut Marketing Komunikasi Grand Zuri Hotel, Tiya kenyamanan beribadah konsumen menjadi salah satu yang dipikirkan.

Mayoritas yang mengadakan buka puasa di Hotel Grand Zuri reuni sekolah, karyawan kantoran dan keluarga. Berbuka puasa di Hotel Grand Zuri disebutkan Tiya harus melakukan booking terlebih dahulu. “H-1 sebelum acara,” ucap gadis berjilbab ini.

Di sisi lain, data dari Pemko Padang, data pertumbuhan kafe, restoran, dan hotel sejak tiga tahun belakangan terus meningkat. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Padang Hervan Bahar mengatakan fenomena buka bersama ini sudah lama menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Kalau sebelumnya buka bersama dengan keluarga di rumah, sekarang sudah bergeser.

Tempat-tempat kuliner berkembang, seiring berkembangnya pariwisata Kota Padang. Ini juga berpengaruh pada jumlah hotel, kafe dan restoran.
Kepala Bidang Perizinan Ekonomi dan Pembangunan DPMPTSP Padang, Heni Puspita menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan perizinan kafe, restoran maupun hotel setiap tahunnya tidak sama. Jika dilihat dari tiga tahun terakhir perkembangan dan pertumbuhan kafe pada tahun 2014 ada sekitar 4 hotel dan 6 kafe dan restoran yang telah mengurus perizinannya. 

Pada tahun 2015 merupakan puncak tertinggi pengembangan serta pertumbuhan kafe dan hotel. Yaitu 16 hotel dan 9 kafe atau restoran. Sedangkan pada tahun 2016 pertumbuhan dan perkembangan hotel hanya ada sekitar 14 hotel, kafe dan resto yang mengurus perizinannya. 

Hal ini disebabkan adanya Peraturan Wali Kota (Perwako) Nomor 9/2016 tentang Tata Cara Izin Gangguan. Yang mengatur setiap pembangunanan kafe, restoran dan hotel harus berjarak 200 meter dari lokasi rumah ibadah dan sarana pendidikan. 

Kemudian diubah dengan Perwako Nomor 27 tahun 2014 yang menghapuskankan jarak dalam aturan perizinannya namun tidak membolehkan bersebelahan dinding dengan kafe lainnya. Selanjutnya kembali kepada Perwako nomor 9 tahun2016 yang mengharuskan jarak 200 meter pada setiap perizinan pembangunan.

Tujuannya untuk menghambat pertumbuhan karaoke dan hiburan. Terakhir diubah lagi dengan Perwako Nomor  107 tahun 2016. Pada perwako tersebut izin tetangga dan izin lingkungan tidak menjadi syarat izin gangguan. Serta ada indikator sosial dan indikator ekonomi untuk menentukan indeks gangguan.

Terkait masalah penataan kafe, resto, dan hotel yang harus memiliki fasilitas ibadah ia mengatakan hal tersebut diluar kewenangan dinasnya. Namun ia berharap setiap setiap kafe,restoran, maupun hotel tetap memperhatikan kebersihan dan kelayakan fasilitas ibadah tersebut. Sehingga tidak mengurangi nilai ibadah selama bulan Ramadhan.

“Memang hal tersebut perlu menjadi perhatian pemilik kafe, restoran maupun hotel dalam memafilitasi saran ibadah seseorang apalagi di bulan Ramadhan. Kalau bisa mengajak pengunjung untuk mengutamakan ibadah terlebih dahulu,” ujarnya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co