Kamis, 22 June 2017, 21:08:41 WIB

Kisah Seorang Pejudi yang Insaf di Padangpariaman

11 June 2017 11:38:52 WIB - Sumber : Aris Prima Gunawan - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 127 kali

Tiga Kali Ditangkap, Malu sama Orang Kampung 

Andi, 37, (nama samaran, red), sudah tak asing dengan suasana penjara. Sebab, dia sudah berkali-kali ditahan. Kasusnya selalu sama, yaitu terlibat perjudian. Namun sekarang Andi berubah 180 derajat. Ingin tahu kisahnya?

Jumat (9/6), Padang Ekspres mengunjungi rumah Andi. Sebelum mendatangi rumahnya, Padang Ekspres menghubunginya via telepon terlebih dahulu. Komunikasi via elektronik itu berlangsung cukup panjang. Bahkan Andi sempat berkata keras, dia tetap menolak untuk diwawancarai. 

Namun hal itu berubah setelah Padang Ekspres berkunjung ke rumahnya. Meski memperlihatkan wajah kurang senang, menyambut kedatangan Padang Ekspres, tapi Andi akhirnya bersedia membuka ceritanya semasa ketagihan bermain judi. Hal itu dikarenakan Padang Ekspres memastikan untuk menutupi identitasnya.

Andi adalah salah seorang warga Kecamatan Ulakantapakis. Saat, Padang Ekspres berkunjung, dia tampak sedang asyik bercanda dengan bayi yang digendongnya. Dengan menggunakan baju koko, pria bertubuh tinggi itu tidak sedikit pun terlihat layaknya sosok seorang yang keras. 

Namun kenyataannya Andi telah dikenal sebagai seorang yang pernah dipidana karena berjudi. Terlebih dia memulai bermain judi sejak masih berusia 15 tahun. Segala permainan dijadikannya untuk bertaruh. Judi yang paling membuatnya ketagihan di usia remaja itu adalah sabung ayam dan togel. Andi menikmati betul perjudian semasa remajanya, karena dirinya tidak pernah terlibat hukum.

“Memperbaiki nama bukanlah hal yang mudah. Saya terima apa pun penilaian lingkungan tentang masa lalu saya,” ujar Andi memulai pembicaraan dengan Padang Ekspres.

Andi menceritakan, kebiasaan bermain judi melekat di dalam dirinya sejak merantau ke Pekanbaru. Berbagai perjudian dicobanya di sana. Di antaranya, judi sabung ayam, kartu, biliar, dan jackpot. Sebab di Pekanbaru dia mendapat pekerjaan dengan gaji yang cukup besar. 

“Mulanya saya terjerat hukum karena berjudi itu di Pekanbaru,” ungkapnya.

Akibat dipenjara selama 6 bulan, Andi harus berhenti dari pekerjaannya. Kondisi itu membuatnya merasa cemas dan malu. Terlebih, kejadian tersebut diketahui keluarga dan beberapa warga di kampung halamannya. 

“Awal masuk penjara, saya sudah bertekad untuk insaf. Bahkan saya malu untuk pulang kampung,” ujarnya mengenang dengan mata berseri-seri.

Untuk itu, setelah lepas dari masa penahanan di Pekanbaru, Andi memilih hijrah ke Batam. Selama di Batam, dia tidak pernah lagi berpikir untuk berjudi. Sebab dia telah fokus menjalani kehidupan dengan bekerja sebagai montir. Namun hal itu tidak bertahan selama setahun, karena di Batam dia kembali menemukan pintu perjudian.

“Kalau di Batam saya mulanya saya hendak mencari hiburan saja. Ternyata, teman-teman mengajak saya memasuki beberapa tempat yang ternyata sarang judi,” ujarnya sembari enggan menyebutkan tempat perjudian di Batam itu.

Mulai memasuki tempat perjudian di Batam itu, dia hanya bermain biliar. Permainan itu dilakukannya hanya untuk hiburan tanpa adanya taruhan. Namun, kebiasaannya mengunjungi tempat itu setiap Sabtu malam dengan teman-temannya, berujung kembali pada perjudian.

“Kadang permainan tanpa taruhan tidak terasa asik. Inilah akar perjudian kembali merasuki pikiran saya selama di Batam,” ujarnya.

Selama di Batam itu, Andi merasa setan judi berkerumun di dalam dirinya. Terlebih dia kerap menang dalam permainan haram tersebut. Sehingga, dia percaya berjudi bisa membantu perekonomiannya lebih baik di perantauan.

“Tujuan untuk mendapat uang lebih banyak, tapi saya tidak sadar kalau saya sudah menghamburkan gaji di meja judi,” katanya.

Perjudian yang paling membuatnya ketagihan di Batam yaitu jackpot. Sebab, hanya dengan modal kecil dia sudah dapat bermain judi semalaman. “Saya sempat ketagihan jackpot karena hanya dengan uang Rp 100 ribu, hokinya bisa berlipat ganda hingga Rp 1 juta,” ujarnya.

Akibat kebiasaan berjudi itu, imbuh Andi, dirinya juga menjadi dekat dengan perbuatan mengkonsumsi minuman keras dan narkoba. Sehingga, kemenangannya bermain judi selalu habis karena membeli barang haram tersebut. “Kehidupan saya di Batam benar-benar buruk. Kalau masalah wanita saya tidak ingin bahas lah,” ujarnya.

Sekitar 3 tahun Andi menjalani kehidupan kelam itu di Batam. Dia pun tidak dapat menyimpan uang hasil kerja. Parahnya, dia kembali tertangkap ketika bermain judi jackpot. Sehingga, pascalepas dari tahanan, Andi diminta pulang kampung oleh keluarganya untuk berkebun. “Tidak cukup setahun di kampung saya dicarikan jodoh dan nikah,” katanya.

Andi mengaku, bahwa dirinya belum siap ketika menikah. Namun orangtuanya memaksa, karena menggap dengan berkeluargalah kebiasaan buruknya itu bisa diubah. “Orangtua mencarikan saya jodoh, karena saya terlibat hukum di kampung,” ungkapnya. 

Hanya saja, kata Andi, pernikahannya itu tidak seperti harapan orangtuanya. Sebab dia masih tetap bermain judi. Baginya melepaskan judi sangatlah sulit. “Terakhir, saya tertangkap berjudi kartu di kedai akhir Februari lalu,” katanya.

Terakhir terjerat hukum karena judi, Andi merasa sangat cemas. Sebab saat itu istrinya sedang dalam keadaan hamil tua. Dia merasakan kesalahan yang sangat mendalam saat itu. Sehingga, dalam pikirannya cepat-cepat keluar dari ruang berpagar besi itu. 

“Saya sangat bersalah dengan putra pertama saya. Sebab saat dia lahir, bukan saya yang melantunkan azan di telinganya,” ujar Andi mengenang dengan mata berkaca-kaca.

Untuk itu, setelah Andi keluar dari tahanan seminggu menjelang Ramadhan 2017 ini, dirinya bertekad ingin terlepas dari segala perbuatan yang buruk itu. Sebab Andi meyakini, apabila perbuatan itu tidak ditinggalkannya, dapat berpengaruh kepada anak-anaknya nanti.

“Alhamdulillah. Allah SWT memang sangat menyayangi hambanya. Saya merasakan betul hal itu karena Allah memberi kesempatan saya berkumpul dengan keluarga di bulan suci ini. Inilah waktunya saya membuktikan diri sebagai seorang kepala keluarga yang baik,” katanya. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co