Sabtu, 25 November 2017, 16:39:07 WIB

Bazar Dinilai Salah Sasaran

16 June 2017 11:23:36 WIB - Sumber : Almurfi Syofyan - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 109 kali

Rata-rata Pembeli Kalangan Menengah ke Atas

Maraknya penyelenggaraan bazar setiap bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran membuat masyarakat datang berbondong-bondong ke sejumlah lokasi bazar tersebut. Tak hanya kalangan menengah ke bawah yang menikmatinya, kalangan menengah ke atas pun memburunya.

Berdasarkan pantauan Padang Ekspres Kamis (15/6) di sejumlah titik bazar di Kota Padang terlihat sejumlah pegawai kantoran yang ikut berbelanja, meski bazar itu diumumkan untuk membantu meringankan beban masyarakat kurang mampu mendapatkan barang dengan harga murah.

Murniati, seorang pedagang kue kering yang membuka stand di salah satu bazar di kawasan Jalan Sudirman mengaku kue-kue kering dijualnya dengan harga miring banyak dibeli kalangan menengah ke atas.

“Rata-rata pembeli saya pegawai kantoran. Mereka mengaku harganya murah karena memang saya ambil untung cuma sedikit,” ujar wanita 51 tahun yang sudah puluhan tahun berjualan kue kering itu.

Seorang pembeli yang tak mau disebutkan namanya mengaku jika dia berbelanja di bazar karena kepincut harga murah. “Tidak ada larangan untuk berbelanja di sini (bazar, red), karena bazar bukanlah bazar yang diperuntukkan untuk golongan tertentu,” kata wanita berseragam kantoran itu.

Kepala Dinas Perdagangan kota Padang, Endrizal mengatakan, bazar yang tak ada kupon khusus yang dibagikan ke masyarakat kalangan menengah ke bawah, boleh saja dikunjungi siapa saja. “Jika bazar itu tidak memakai sistem kupon berarti, bazar tersebut sah-sah saja di kunjungi oleh segmen mana pun,” sebutnya.

Ditambahkannya, bazar yang terselenggara selama puasa hingga menjelang Lebaran adalah untuk memeriahkan Ramadhan. “Bazar yang ada selama ini adalah untuk memeriahkan bulan puasa, tidak terkhusus untuk golongan manapun,” ujarnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Andalas (Unand) Niki Lukviarman menilai, bazar yang diselenggarakan pemerintah tidak tepat sasaran. “Jika memang diperuntukkan untuk golongan tertentu seharusnya bukan dengan sistem bazar murah namun harus memakai sistem subsidi orang bukan subsidi barang,” katanya. 

Disebutkan Niki, jika bazar telah diumumkan untuk golongan menengah ke bawah seharusnya masyarakat yang tidak masuk dalam kriteria itu harus mengontrol diri. “Harus tertanam moral dalam diri sendiri jika memang itu bukan hak kita, maka jangan dibeli juga,” terang mantan Rektor Universitas Bung Hatta itu. 

Untuk meminimalisir kesalahan, tambah Niki, skema yang diperlukan dalam pendistribusian bantuan sistem bazar sudah tidak relevan. “Skema yang harus dilakukan pemerintah menurut saya dengan mendata setiap RT dan RW yang ada itu lebih efektif dalam penyaluran bantuan ketimbang acara seremonial seperti bazar,” tegasnya. 

Senada juga diungkapkan Pengamat Ekonomi dari Unand Syafruddin Karimi. Ia menilai masyarakat harus tahu definisi bazar yang dilaksanakan, apakah untuk golongan menengah ke bawah atau untuk umum. “Jika bazar memakai sistem kupon, tentu bazar itu untuk golongan tertentu,” ungkapnya. 

Menurutnya skema yang mesti dilakukan jika ingin membantu kalangan tidak mampu adalah dengan memastikan pendistribusian bantuan secara merata. “Bisa saja masyarakat golongan menengah ke bawah didata dan diberi bantuan. Bagi pemerintah itu bukanlah hal yang sulit,” pungkasnya. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co