Senin, 25 September 2017, 04:20:00 WIB

Lasman Sakulok, Pemuda Pelopor Bidang Pangan Kabupaten Mentawai

19 June 2017 10:49:23 WIB - Sumber : Arif Rahmad Daud - Padang Ekspres - Editor :    Dibaca : 73 kali

Ajarkan Kemandirian Pangan kepada Warga

Lasman Sakulok tak pelit berbagi ilmu bercocok tanam yang dimilikinya kepada masyarakat Mentawai. Pria kelahiran Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan ini pun menginisiasi warga Sikerei menanam berbagai kebutuhan pokok. Tujuannya, agar warga tak perlu harus merogoh kocek lebih dalam memenuhi kebutuhan pangan. 

Memilih bekerja sebagai salah seorang pendamping pertanian di salah satu lembaga sosial masyarakat (LSM) tidak mesti memiliki ilmu pertanian yang banyak.

Lebih penting baginya, bagaimana ilmu sedikit tapi mampu diterapkan. Hal inilah menjadi motivasi bagi Lasman Sakulok untuk berbagi pengetahuan tentang pertanian kepada masyarakat.

Di bawah Yayasan Society for Health, Educatioan, Environment and Peace (SHEEP) Indonesia (YSI), ia mengajak masyarakat berkebun tanaman cabai dan jagung sejak dua tahun belakangan. Alhasil, kini masyarakat di Kecamatan Sipora Selatan tidak harus membeli atau mendatangkan cabai dari Kota Padang.

“Saat ini, baru ada 5 desa binaan kami. Tahun depan, kami tergetkan 7 desa di Sipora Selatan akan ikut bergabung jadi  binaan,” ungkap Lasman yang berkantor di Jalan Raya Tua Pejat kilometer 2 Sipora Utara ini.

Menurut pria yang menamatkan pendidikan SMP dan SMA di Sioban itu, saat ini hasil panen cabai dan jagung tersebut, juga menjadi incaran pengusaha resort-resort di Sipora Selatan. Penerapan kebun cabai merah di bawah desa binaannya tersebut belum menerapkan pupuk organik.

“Saat ini, tanah di Mentawai terutama di Sipora Selatan belum terlalu membutuhkan pupuk. Namun, jika diperlukan juga tidak ada masalah. Hanya untuk kebutuhan pupuk mesti didatangkan dari luar dan otomatis mengeluarkan ongkos bagi masyarakat pekebun,” ungkapnya.

Lasman lebih melihat kepada kondisi tanah perkebunan itu sendiri. Ada tanah yang baik dan ada kurang baik untuk ditanami cabai. “Sampai saat ini, tanaman cabai milik masyarakat desa dampingannya mendapat hasil menggembirakan,” tuturnya.

Terkait pengetahuan bercocok tanam itu sendiri, kata Lasman, selain kecintaannya, sewaktu tinggal di asrama semasa kuliah dirinya sudah banyak dibekali tentang ilmu bercocok tanam. Termasuk juga melakukan penelitian tentang tanaman.

Lasman sendiri tidak serta merta memberikan teori semata kepada masyarakat. Dia pun juga tidak segan memberikan contoh langsung kepada masyarakat dengan ikut sebagai pekebun cabai. 

“Semula tidak mudah mengubah mindset atau pola pikir masyarakat. Saat pelatihan atau pembekalan, kami berikan mereka honor. Nah, setelah mereka melihat hasil tanamannya, mereka cukup senang,” ungkap lelaki yang menamatkan pendidikan tingginya di Univeritas Kristen Indonesia (UKI) Yogyakarta ini.

Saat ini, kata Lasman, warga tidak lagi membeli cabai. Di samping itu, Lasman, juga mengajarkan kepada masyarakat agar kebutuhan makanan pokok sebaiknya diusahakan tanpa harus dibeli.

“Ini sebetulnya kami ajak kepada masyarakat. Apa yang bisa mereka tanam sendiri, kenapa harus dibeli. Karena ini kan juga bagian dari kebutuhan kita sehari-hari,” ujar lelaki yang juga mendapat penghargaan sebagai pemuda pelopor bidang pangan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga ini.

Kini Lasman bertekad akan fokus pada pengembangan perkebunan di tengah masyarakat. Dia berencana akan menjadi petani tulen dan memiliki konsep. Di samping itu, dia juga bertekad membantu pendistribusian hasil panen kebun masyarakat.

“Saat ini saya baru membeli hasil panen berupa pisang dan keladi. Ke depan, bagaimana hasil panen kebun masyarakat ini dapat terpasarkan dengan harga yang layak,” pungkas lelaki yang belum berencana untuk bekerja di lingkungan Pemerintah Kepulauan Mentawai ini. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co