Senin, 24 July 2017, 23:58:27 WIB

Menelusuri Nenan, Jorong Terluar di Belantara Bukikbarisan

19 June 2017 11:07:09 WIB - Sumber : Arfidel Ilham - Padang Ekspres - Editor : Riyon    Dibaca : 14 kali

Akses Transportasi Sulit, Arus Listrik tak Stabil

Satu lagi jorong terluar di Kabupaten Limapuluh Kota yang masih dalam kondisi tertinggal. Infrastruktur dan akses transportasi menjadi keluhan warga. Harapan akses jalan yang lebih baik menjadi mimpi yang belum terwujud bagi warga Jorong Nenan, Nagari Maek, Kecamatan Bukitbarisaan.

Jalan tanah berlubang dan jalur air di badan jalan yang sangat ekstrem, memaksa sebuah kendaraan Toyota Kijang milik Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terpaksa ditinggal, saat rombongan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan menyusuri Jorong Nenan, Nagari Maek, Kecamatan Bukitbarisaan, Sabtu (17/6).

“Iyo mode itulah kondisi jalan ka Nenan tu. Apolai katiko hujan, dipastikan indak kabisa dilewati kendaraan roda ompek doble gardan sekalipun. (Begitulah kondisinya jalan Nenan ini, apalagi saat hujan. Dipastikan tidak akan bisa ditembus oleh  kendaraan berpenggerak 4 X 4 sekalipun,” ungkap Wali Nagari Maek, Afri Hendra saat berbincang dengan Padang Ekspres, Minggu (18/6).

Saat rombongan wakil bupati ke Nenan bersama Ketua Gonjong Limo Padang, Profesor Werry Darta Taifur, sejumlah wartawan dan tokoh muda Nurkholis, wali nagari merasa sedikit lega karena tak perlu lagi menggambarkan bagaimana buruknya kondisi Nenan. 

Jorong Nenan merupakan bagian dari Nagari Maek yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat pemerintahan nagari. Jorong ini juga jadi jorong terluar sebagai penghubung Nagari Maek dengan Nagari Kotolamo, Kecamatan Kapur IX.

“Dulu pada zaman kepemimpinan Bupati Bapak Alis Marajo, pernah digagas jalan yang menghubungkan Jorong Nenan dengan Jorong Nyanyiang di Nagari Kotolamo. Sayang, saat ini badan jalan yang dibangun itu sudah hancur,” sebut wali nagari.

Selain kondisi jalan yang dikeluhkan warga, satu-satunya yang menjadi sarana pendidikan di Nenan adalah SDN 09 Maek. Sementara utuk melanjutkan ke tingkat SLTP harus keluar dari jorong menuju pusat nagari.

Persoalan lainnya, terkait sarana air bersih dan kondisi listrik yang hanya layak digunakan untuk sebatas penerangan saja. “Warga kita memanfaatkan penerangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH). Sebenarnya bisa untuk menghidupkan televisi dan kulkas serta barang elektronik lainnya. Namun karena arusnya kurang stabil, banyak barang elektronik yang akhirnya rusak. Sementara untuk komunikasi jarak jauh, sama sekali tidak menjangkau daerah ini,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan meminta agar pembangunan pendidikan jadi prioritas utama. Sehingga tidak ada lagi anak-anak putus sekolah serta guru yang enggan bertugas di daerah terisolir.

Dinas pendidikan diminta agar serius mengurusi pendidikan untuk daerah yang masih tertinggal, terdepan dan terluar yang disebut 3T. “Ada anggaran dari pemerintah pusat untuk tunjangan guru-guru di daerah 3T yang ditolak sejak lima tahun terakhir. Angkanya mencapai Rp 2,9 miliar,” sebut Wabup.

Ditolaknya anggaran itu, kata Ferizal karena dinas pendidikan tidak mengurus administrasinya. Akibatnya, dana tersebut dikembalikan ke pemerintah. Selain itu, wabup menilai dinas pendidikan masih kekurangan data konkret dan pemetaan terhadap penempatan tenaga guru.

“Seperti halnya penempatan 20 persen APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, red) untuk pendidikan sesuai amanat UU Sistem Pendidikan Nasional dan kebijakan pemerintah lainnya. Untuk Limapuluh Kota belum terlaksana, karena masih kurangnya perhatian ke pendidikan, padahal pendidikan tolok ukur pembangunan jangka panjang,” pungkas wabup. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co